Selasa, 22 Mei 2012

Pasal yang Bisa Menjerat Lady Gaga

Polemik yang tidak berkesudahan tentang rencana show Lady Gaga membuat saya mencari Undang-undang Pornografi yang saya punyai. Banyak kalangan mendasarkan pelarangan penampilan Lady Gaga dengan rujukan Undang-undang Pornografi yang disahkan pada 2008 lalu. Saat perumusan Undang-undang tersebut, saya menjadi salah satu tim perumus yang ditugaskan oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan, bersamaan dengan Ade Armando, Azimah Soebagijo dan Ida Ruwaida Nur dan beberapa orang lainnya.

Banyak rumusan yang kami buat diakomodir dalam Undang-undang itu, salah satunya adalah katagorisasi bentuk pornografi. Kami membagi dua katagori, yaitu: Pertama pornografi Terlarang dan Pornografi yang dibolehkan tapi diatur pendistribusiannya. Pornografi terlarang, adalah pornografi yang sama sekali tidak boleh diproduksi, diedarkan dan disimpan. Semua orang yang terlibat dalam proses itu akan terancam untuk dipidanakan.

Kedua adalah pornografi yang dibolehkan tetapi diatur produksi dan peredarannya. Seperti apa bentuknya? Waktu itu kami mencoba mengidentifikasi semua bentuk-bentuk pornografi yang diperbolehkan dalam bentuk suara, gambar dll. Tapi setelah draft itu masuk ke DPR, rumusannya disederhanakan, menjadi "PORNOGRAFI SELAIN YANG DILARANG, dan itu yang saat ini menajdi pasal dalam Undang-undang Pornografi.

Pornografi terlarang.
Aturan ini terdapat dalam pasal 4 ayat 1 dan ayat 2. Bunyi ayat
(1): Setiap orang dilarang memperoduksi, membuat, menyiarkan, menginpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit memuat:
a. Persenggamaan, termasuk persenggamaan yang menyimpang
b. Kekerasan seksual
c. Masturbasi atau onani
d. Ketelanjangan atau penampilan yang mengesankan ketelanjangan
e. Alat kelamin; atau
f. Pornografi anak

Ayat (2) Setiap orang dilarang menyediakan jasa pornografi yang:
a. Menyajikan secara ekplisit ketelanjangan atau tampilan yang mengesankan ketelanjangan;
b. Menyajikan secara ekplisit alat kelamin
c. Mengekploitasi atau memamerkan aktivitas seksual; atau
d. menawarkan atau mengiklankan, baik langsung maupun tidak langsung layanan seksual

Menganai aturan pornografi yang diperbolehkan produksi dan peredarannya terdapat pada pasal 13 dan 14.

Pasal 13.
(1). Pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi selain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) wajib mendasarkan pada peraturan perundang-undangan.
(2) Pembuatan, penyebarluasan dan penggunaan pornografi sebagaimana dimaksdu pada ayat (1) harus dilakukan ditempat dan dengan cara khusus.

Pasal 14. Ketentuan mengenai syarat dan tata cara perizinan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan produk pornografi untuk tujuan dan kepentingan pendidikan dan pelayanan kesehatan dan pelaksanaan ketentuan pasal 13 diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pada bab penjelasan Undang-undang Pornografi untuk pasal 13 mengenai Frasa Selain sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat (1)" adalah dalam ketentuan ini misalnya majalah yang memuat model berpakaian berbikini, baju renang dan pakaian olah raga pantai yang digunakan sesuai konteksnya.

Dari pasal-pasal yang saya tuliskan di atas, pasal 4 adalah pasal yang bisa mejerat Lady Gaga, tapi pasal ini tidak bisa diberlakukan sebelum ada kejadiannya. Selain itu pasal 13 memberikan lagalisasi bagi pertunjukkan Lady Gaga, bahwa kalaupun dia berpenampilan mengandung unsur pornografi tapi tidak sampai melanggar pasal 4, tetap diperbolehkan.

Jadi kalau kita rujukannya Undang-undang Pornografi, setuju atau tidak setuju orang lain mempunyai hak untuk mengundang atau membuat pertunjukkan Lady Gaga. Dan itu tidak menyalahi undang-undang. Artinya tidak boleh ada ancaman-ancaman terhadap orang yang akan menyelenggarakan itu.

Kalau ada pelanggaran terhadap pasal 4 tadi, kita juga mempunyai hak untuk memperkarakannya ke pengadilan, baik Lady Gaga maupun penyelenggaranya. Ancaman pidananya cukup berat, bisa sampai 10 tahun dan denda 5 milyar (Pasal 35).

Baca selengkapnya......

Senin, 14 Mei 2012

Nikmati Tantangannya, Nikmati Rasa Bahagianya, Saat ini dan Hari Esok

Sebuah pesan di wall facebook saya meminta mengirim nomor handphone ke inbox-nya. "Kami ingin mengundang Kak Warsa ke acara silaturahmi akbar PAYISC", bunyi pesan sebelumnya. Saya pun mengirimkan nomor saya dan berkomitmen untuk hadir pada acara itu, kalau pengurus PAYISC memang mengundangnya.

Menghadiri undangan silaturahim pengurus PAYISC bagi saya merupakan bentuk apresiasi saya terhadap pengurus PAYISC saat ini. Saya ingin menghargai komitmen mereka menjadi pengurus PAYISC, karena menurut saya itu bukan sesuatu yang mudah. Menjadi pengurus PAYISC berarti dia siap mengorbankan sebagian besar waktu istirahatnya. Berbeda dengan departemen atau lembaga lain di YISC, yang kebanyakan aktivitasnya hanya hari Sabtu atau Minggu. Kalaupun ada tambahan, hanya sesekali, untuk rapat atau sekedar mengkoordinasi. Tidak bermaksud mengecilkan.

Berbeda dengan menjadi pengurus PAYISC. Selain hari Sabtu atau Minggu, aktivitas PAYISC adalah Selasa - Kamis. Walaupun tidak mesti setiap hari datang, tapi pasti diantara hari-hari itu akan sering datang. Ini berarti akan mengambil waktu istirahat, setelah pulang kerja.

Menjadi pengurus PAYISC, berarti juga akan bekerja untuk mencari donatur. Tidak hanya itu, juga bersiap untuk mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk berbagai kegiatan PAYISC. Tidak besar, tapi kemungkinan akan sering.

Menjadi pengurus PAYISC berarti akan berhadapan dengan berbagai tipe anak, baik karakter, kondisi ekonomi, latar belakang keluarga, semangat mengikuti kegiatan, semangat memperbaiki diri dan agretivitas anak-anak. Harus diakui tidak semua adik-adik PAYISC gampang diarahkan. Kadang sering membuat kita emosi, tapi kita harus bisa bersabar, karena mereka anak-anak.

Menjadi pengurus PAYISC berati juga akan menghadapi berbagai tipe pengajar. Diantara mereka kadang sering terjadi kesalahpahaman, dan berarti itu adalah pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan. Tidak mudah, karena mereka semua punya peran penting, kalau tidak hati-hati bisa memperuncing konflik diantara mereka.

Masih ada lagi, pengurus juga akan menghadapi berbagai harapan orang tua. Rasa cemburu karena anaknya mendapat perlakuan yang berbeda. Seorang teman berseloroh kepada saya. Mengurus PAYISC seperti mengurus dua anak kembar, sedikit saja memberikan perbedaan, akan menjadi pemicu rasa cemburu diantara keduanya.

Itulah berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh pengurus PAYISC, bisa lebih dari itu, kurang rasanya tidak. Saya menyampaikan ini tentu saja tidak untuk menakut-nakuti atau membuat lemah pengurus PAYISC saat ini. Saya hanya ingin menyampaikan tantangannya memang besar. Karena itu saat mendapat undangan saya berkomitmen untung menghadirinya. Sebagai ungkapan apresiasi, sebagai bentuk penghargaan, sebagai bentuk dukungan.

Dan saya rasa itu juga yang dirasakan Fitri Ardani ketua PAYISC periode 1998-1999 dengan Ketua Umum YISC Mba Ferlita Sari. Dia langsung antusias setelah saya sampaikan adanya undangan silaturahim dari pengurus PAYISC. Pesan singkat dia sampaikan untuk pengurus PAYISC saat ini. "Yang harus tetap dipelihara oleh teman-teman adalah istiqomah", ucapnya.

Dan dengar apa yang disampaikan Mba Puri, pengurus PAYISC periode 1996-1997 dengan ketua umum Bang Imaduddin Abdullah. "Sembilan puluh persen pengalaman saya mengurus PAYISC bermanfaat bagi pekerjaan saya", ucapnya menguatkan.

Dan dengar pula pengakuan dari Dety, mantan adik PAYISC. "Saya di PAYISC sejak SD kelas empat sampai SMA kelas dua. Saya merasakan sekali kerja keras, ketulusan dan keikhlasan kakak-kakak pengurus PAYISC. Karena kakak-kakak di PAYISC, saat ini saya bisa kuliah di IPB. Saya pun terinspirasi untuk melakukan hal yang sama saat ini. Mengabdi untuk anak-anak yang kurang mampu. Tadinya ingin mengabdi di PAYISC, tapi karena saat ini saya kos di Bogor, maka saya melakukannya di sana. Bersama teman-teman saya mengajar anak-anak kurang mampu di dekat kampus IPB. Programnya kami sebut Sekolah Bersama Yuk, disingkat SBY", ujarnya.

"Tidak hanya itu, kakak-kakak di PAYISC menjadi role model bagi saya", lanjut Dety. Pengakuan yang membuat saya terharu.

Buat teman-teman pengurus PAYISC saat ini, nikmatilah tantangannya. Nikmati kebahagiaannya, saat ini dan esok, ketika ada pengakuan dari adik-adik, bahwa peran kita sangat berarti buat mereka.

Salam
Wtarsono

NB: Terima kasih untuk Surya Ningsih, Ketua PAYISC saat ini, dan Fauzi, Ketua Umum YISC, untuk perkenalannya yang ramah. Mari ciptakan kebersamaan, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Baca selengkapnya......

Sabtu, 12 Mei 2012

SINGKONG DAN UBI

Sebelum melanjutkan membaca artikel ini, saya mengingatkan awas hati-hati salah persepsi membaca judulnya. Jangan sampai membacanya singkon dan ubi, tapi dalam pikiran singkon dan keju, seperti judul lagu yang dibawakan Ari Wibowo yang berjudul Singkong dan Keju. Lagu yang populer akhir tahun 80an.:)

Hari Jum'at kemarin, saya dan tim Workshop Sains Sahabat Cahaya mengisi workshop buat guru-guru Taman Kanak-kanak (TK) di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Tidak ada perbedaan yang secara mencolok antara Majalengka dan tempat yang lain kami mengisi workhsop sains. Seperti biasa, di meja undangan VIP dan meja narasumber atau tempat orang-orang yang akan memberi sambutan disediakan kue dan buah-buahan. Hanya bedanya, diantara beberapa kue yang lain saya melihat singkong dan ubi. Semula sayapun menganggap biasa, tapi ternyata ada maksudnya.

Workshop sains itu merupakan kerjasama dengan Federal International Finance (FIF). Perusahaan jasa keuangan yang memberikan pinjaman, salah satunya adalah kredit motor Honda. Divisi Corporate Social Responsibility (CSR) FIF membiayai tim Workshop Sains Sahabat Cahaya untuk memberikan workshop pembelajaran sains kepada anak usia dini di Kabupaten Majalengka. Pesertanya adalah guru TK, dengan jumlah peserta sebanyak 200 orang.

Acara tersebut akan dibuka oleh bupati Majalengka H. Sutrisno, SE, MSi. Kehadiran pejabat setempat untuk membuka acara juga sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa, karena sesekali di tempat lain pun begitu.

Saya merasa ada sesuatu saat melihat Bupati H Sutrisno tersebut lebih menikmati singkong dan ubi saat dia mencicipi hidangan kue-kue dihadapannya. Ini pun sempat saya abaikan, dalam pikiran saya, mungkin memang karena dia lebih suka singkong dan ubi. Jadi persitiwa itu bukan sesuatu yang istimewa.

Di akhir acara baru saya dapat cerita dari Kak Ita, nama populer salah satu tim trainer Workshop Sains Sahabat Cahaya. Dia mendapat cerita dari panitia setempat bahwa semua acara pemerintahan dan yang melibatkan unsur pemerintah, setiap ada acara Bupati mewajibkan penyelenggara harus menyertakan singkong dan ubi sebagai jamuan. Alasannya, sebagai simbol bahwa pemerintahan saat ini adalah pemerintah yang pro rakyat kecil.

H. Sutrisno, adalah Bupati Majalengka yang terpilih dalam Pemilu Pemerintah Daerah (Pilkada) tiga tahun lalu. Dia berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Saya belum mengkaji lebih hasil jauh kepemimpinan H. Sutrisno selama tiga tahun menjadi bupati. Perkenalan awal terhadap sosok dia buat saya cukup baik. Saat datang datang ke acara, kemudian memberikan sambutan dan saat meninggalkan acara menunjukkan sosok yang dekat dengan rakyat. Beberapa ungkapan dalam sambutannya disambut dengan tepuk tangan peserta, sesekali membuat geerr yang berada diruangan itu.

Tapi itu bukanlah indikator yang cukup untuk menilai bahwa dia bupati yang berhasil. Ada banyak hal yang lebih komplek dari sekedar kewajiban memakai singkong dan ubi sebagai jamuan, atau bahkan pidato yang membuat orang bertepuk dan tertawa bersama. Saya belum tahu Bagaimana tingkat kesejahteraan masyarakat Majalengka, demokrasi yang berkembang di sana dan kemajuan pembangunan di sana.

Sekilas tentang Kabupaten Majalengka.
Majalengkab mempunyai luas wilayah 120.424 hektar yang terdiri atas 26 kecamatan. Jumlah penduduk menurut data Buadan Pusat Statistik tahun 2007 mencapai 1.188.189 jiwa, dengan kepadatan penduduk 987/kilometer persegi. Pada 2007, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) perkapita kabupaten Malajengka 3.253.430.22, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 2.851.121.63. Bagaimana setelah di pimpin oleh H. Sutrisno, saya belum mendapat datanya.

Baca selengkapnya......

Selasa, 08 Mei 2012

ALUMNI YISC DAN KONTRIBUSINYA BAGI MASYARAKAT

Beberapa hari lagi Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar akan berulang tahun yang ke 41, tepatnya pada 16 Mei 2012. Tujuh tahun lalu saya masih aktif di organisasi pemuda masjid paling tua tersebut. Sejak tidak beraktivitas lagi, saat YISC berulang tahun, saya menerima telepon atau SMS undangan untuk menghadiri syukuran ulang tahunnya. Tapi karena berbagai hal, sering kali saya tidak bisa menghadirinya.

YISC bagi saya memang mempunyai tempat sendiri dalam hidup saya. Di organisasi tersebutlah saya menerima pelajaran dan pengalaman hidup yang memberikan makna buat saya. Saya telah menulis beberapa tulisan tentang hal-hal positif pengalaman berorganisasi di YISC. Menjelang ulang tahun YISC ke 41 ini, saya ingin menuliskan kembali hal-hal positif berkomunitas di YISC. Tapi bukan tentang saya, melainkan tentang aktivitas sosial beberapa alumni lain.

Buat saya, aktivitas alumni ini adalah buah dari berorganisasi, berinteraksi, berkomunitas, bersilaturrahmi dan tentu saja belajar di YISC Al Azhar. Karena dalam berbagai aktivitasnya identitas sebagai mantan aktivis YISC selalu dilontarkan.


RAUDHAH INSTITUTE; UNTUK PENCERAHAN DAN PEMBERDAYAAN
Raudhah Institue adalah lembaga yang dibentuk oleh alumni YISC yang beraktifitas antara tahun 1990 sampai 2006. Raudhah pada mulanya adalah pengajian bulanan alumni YISC. Setelah beberapa tahun berjalan, tercetuslah gagasan bahwa sudah saatnya Raudhah melakukan sesuatu buat masyarakat. Kalau selama ini pengajian untuk diri sendiri, selanjutnya aktivitas Raudhah juga berorientasi untuk masyarakat. Ditambahkanlah namanya menjadi Raudhah Insitute dengan tagline UNTUK PENCERAHAN DAN PEMBERDAYAAN.

Tidak lama setelah perubahan itu Raudhah Institue melakukan aksi sosial. Dengan dikomandani oleh Ferlita Sari, Winarto Rahmat, Endah Lismartini, Preti Prasanti, Nani Basuki, Ahmad Nurcholis, Gunawan, Erna Kusmania dll, segera membuat aksi. Kegiatan pertama adalah Workshop Menjadi Guru Kreatif bagi guru-guru Paud Kecamatan Sawangan, Depok. 4o-an guru-guru di sawangan mendapatkan pelatihan bagaimana menjadi guru kreatif dengan tim trainer dari Ahmad Nurcholis.

Sebulan setelah itu, aksi berikutnya adalah penyuluhan gigi dan gizi sehat. Pada kegiatan ini Raudhah tim memberikan penyuluhan bagaimana merawat gigi dan membuat gizi sehat buat anak. Drg. Wanda Anwar mantan ketua Dept. Pengabdian dan Hubungan Masyarakat (PHM) periode 1998-1999 menjadi penyuluhnya. Sesi penyuluhan gizi sehat diberikan oleh Marina Ahmad, alumni YISC yang saat ini berbisnis bubur sehat. Pengisi acara lainnya adalah Nina Yuliana mantan aktivis PAYISC, mengisi dongeng, dan saya sendiri mengisi Ice Breaking.

Bulan Mei ini Raudhah Institute akan membuat kegiatan di Bogor. Pasca kegiatan ke tiga ini, para alumni YISC ini berencana untuk melakukan Rapat Kerja (Raker) untuk merumuskan aksi-aksi sosialnya secara sistematis dan terencana.

PAUD BUNGA HATI
Paud Bunga Hati adalah sekolah untuk anak-anak usia dini yang didirikan oleh Endah Lismartini, mantan Ketua Lembaga Penerbitan YISC Periode 2000-2001. Saat masuk sebagai anggota YISC Endah adalah seorang jurnalis. Maka kiprahnyapun di YISC di lembaga penerbitan.

Saya kaget saat Endah sudah tidak aktif lagi di YISC dia mendirikan Paud, sebuah lembaga pendidikan. Kaget, karena selama saya berinteraksi dengan Endah, tidak ada tanda-tanda dia konsen terhadap dunia pendidikan. Dalam beberapa kali diskusi, saya menangkap aktivitasnya di YISC inilah yang menumbuhkan jiwa sosial dia. Saat Endah melihat di sekitar tempat tinggalnya banyak anak-anak kecil tidak mendapat pendidikan yang selayaknya, tergeraklah hatinya untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya dia mendirikan Paud untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

SEKOLAH RAKYAT BOGOR
Minggu, 6 Mei yang lalu saya diajak Munawar M. Ali berkunjung ke Yayasan Sekolah Rakyat di Ciawi Bogor. Munawar adalah alumni YISC yang saat aktif menjadi Ketua Lembaga Kajian periode 2002-2003. Saat ini munawar merupakan ketua Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, sebuah lembaga yang menaungi 18 Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM). TKBM adalah penyelenggara sekolah terbuka bagi anak-anak kurang mampu. Lembaga yang Munawar pimpin beroperasi untuk wilayah Bogor. Jumlah siswanya mencapai 1300 anak. Semua siswa yang bersekolah di sini tidak dipungut biaya.

Saya diajak Munawar untuk melihat kegiatan yang saat ini sedang diadakan, yaitu Pelatihan Kewirausahaan untuk Pengajar Sekolah Rakyat yang berkerjasama dengan Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya. Selama perjalanan, Munawar banyak bercerita tantangan-tantangan yang dia hadapi saat merintis sekolah terbuka 10 tahun lalu. Pernah sekolahnya dianggap sesat oleh kyai setempat karena menambahkan kata yes setelah bersyahadat.

Suatu kali sekolahnya mengadakan kegiatan. Untuk menambah semangat anak-anaknya dibuatlah yel dengan kalimat syahadat. Setelah kalimat Lailahaillallah Muhammadarosulullah ditambahkan kalimat yes sambil mengepalkan tangan dan menariknya ke bawah. Rupanya penambahan kata yes ini dianggak ajaran baru. Hari berikutnya anak-anak yang datang ke sekolahnya hanya dua anak.

Tapi tulisan ini tidak akan membahas itu lebih jauh, mudah-mudahan di kesempatan yang lain. Tulisan ini lebih tentang aksi alumni YISC bagi masyarakat. Dalam konteks itu saya akan bercerita pengalaman saya pada program Pelatihan Kewirausahaan bagi Pengajar Sekolah Rakyat.

Saat saya datang ke tempat acara, saya diperkenalkan Munawar kepada para pengajar dan pengurus yang lain Yayasan Sekolah Rakyat sebagai alumni YISC Al Azhar. Begitupun saat diperkenalkan kepada tim dari Prasetiya Mulya. Dia ulangi saat Munawar memberikan pembukaan. Dengan bangga Munawar memperkenalkan saya dan dirinya sebagai alumni YISC Al Azhar.

Dalam konteks itu saya menangkap bahwa aktivitas sosial dia selama ini baik langsung atau tidak langsung adalah buah interaksi dan beraktivitas di YISC Al Azhar. Saya ingin mengatakan bahwa, baik teman-teman penggerak Raudhah Institute, Endah dan Munawar, aktivitasnya di YISC Al Azhar telah membangun jiwa sosialnya. Dan mereka saat ini menjadi leader pada aksi-aksi sosial di masyarakat.

PENGAJIAN NURUL ISLAM
Pengajian Nurul Islam adalah tempat kegiatan Penyuluhan gigi dan gizi sehat yang diadakan Raudhah Institute beberapa waktu yang lalu. Lembaga ini didirikan dan dipimpin oleh Gunawan, mantan Ketua Pendidikan YISC Al Azhar periode 2002-2003. Gunawan mempunyai suara keras. Saat rapat atau kegiatan di YISC dahulu, saat bicara, kalau yang lain pasti menggunakan mic, tapi Gunawan tidak, karena suaranya sudah seperti suara speaker. Peace Gun :)

Ada kejadian lucu saat kegiatan Raudhah Institue kemarin. Acara akan dimulai, Yayat istrinya Gunawan sebagai MC akan membuka acara. Sudah mengucapkan Assalamu'alaikum dan beberapa kalimat pembuka, tapi ibu-ibu dan anak-anak masih saling bicara, karena suara speakernya tidak terdengar. Saya dan petugas di Musala berusaha membantu memperbaiki. Beberapa waktu kemudian Gunawan menghampiri sambil bertanya kenapa mic-nya, sambil meraih mic yang dipegang Yayat. "Tes tes", ucapnya spontan. "Ini bagus", sambil menyodorkannya kepada Yayat. "Yang ngetes elu, suara lu sudah kayak speaker, ya bagus lah", ucapku protes. "Ah elu Sa", timpalnya sambil menyeringai.

Kembali ke tentang Pengajian Nurul Islam. Lembaga ini didirikan Gunawan sebelum Gunawan aktif di YISC Al Al Azhar. Tapi aktivitasnya di YISC sedikit banyaknya telah membuat lembaganya semakin berkembang. Dalam berbagai kesempatanpun Gunawan pun menyampaikan YISC telah memberinya pengalaman berharga, baik untuk pribadinya maupun untuk jiwa sosialnya. Lebih dari itu, dia mendapatkan istri cantik yang sangat dia cintai. :)

RUMAH BELAJAR DAN KREATIFITAS SAHABAT CAHAYA
Sahabat Cahaya adalah lembaga yang konsen terhadap pengembangan pendidikan. Aktivitas kami adalah penyelenggaraan Play Group (PG) dan Taman Kanak-kanak, Pembelajaran Sains untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD), Pelatihan dan Parenthing.

Sahabat Cahaya saat ini sedang mengembangkan metode pembelajaran sains untuk anak usia dini dengan menggunakan empat pendekatan, yaitu bernyanyi, bereksperimen, bermain dan bercerita. Kami kemas ini dalam bentuk workshop untuk guru-guru usia dini. Tim workshop sains Sahabat Cahaya telah mengisi di banyak tempat, di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Terakhir kami mengisi workshop di tiga kota/kabupaten Provinsi Jambi.

Sahabat Cahaya didirikan dan dikelola oleh Heru Widiyanto mantan Ketua Umum YISC periode 2002-2003, Rudi Darmawan dan Saya sendiri mantan ketua Dept. Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat dan Ketua Lembaga PAYISC.

Dalam berbagai kesempatan kami selalu menyampaikan bahwa didirikannya Sahabat Cahaya terinspirasi dan termotivasi karena aktivitas kami di YISC Al Azhar. Ini merupakan pengakuan begitu bermanfaatnya kami berkomunitas di YISC. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Itu semua karena di YISC kami menemukan saudara yang tidak mencela karena keburukannya. Sahabat yang mau berbagi walaupun tanpa kelebihan. Kawan yang saling menghargai dengan kelebihan dan kekurangannya. Iman yang tidak saling menyesatkan karena perbedaan.

Semoga kultur itu akan selalu terpelihara, sehingga semakin banyak pemuda-pemuda yang tercerahkan dan selanjutnya melakukan pemberdayaan bagi masyarakatnya. Amin

Wallahualambisawab.

Butuh Mug untuk Promosi, Bingkisan Ultah atau Koleksi Pribadi?

Salam

Warsa Tarsono

Tulisan terkait
1. PAYISC Memaknai Hidupku
2. Pengalaman Beraktivitas di YISC
3. YISC Persinggahan yang Mengasyikkan

Baca selengkapnya......

Senin, 07 Mei 2012

DARI MASTER, DOKTOR SAMPAI PROFESOR TURUN GUNUNG

"Saya orang pertama yang apply program ini," ujar Arief Fadhilah, AK, MBA., dengan nada bangga. Arief, demikian nama panggilannya, adalah dosen Prasetiya Mulya yang menjadi pengajar pada program Inkubator Kewirausahaan bagi Pengajar Sekolah Rakyat Bogor. Bagi Arief keikutsertaannya dalam program ini merupakan kesempatan mengabdi kepada masyarakat, apalagi yang diberikan pelatihan adalah guru-guru.

"Ini adalah kesempatan langka, saya sudah sering memberikan pelatihan kepada orang-orang di daerah, tapi mereka bukan guru. Menariknya, memberikan pelatihan kepada guru, di samping ilmu yang mereka dapatkan bisa dia terapkan untuk dirinya sendiri, mereka juga bisa  menyampaikannya kepada murid-muridnya. Mereka bisa menginspirasi dan melakukan bimbingan kepada murid-muridnya, dari sini diharapkan akan tumbuh wirausahawan-wirausahawan baru. Kalau program ini berhasil otomatis berarti mengangkat ekonomi banyak orang," jelasnya.
 

Arief memang antusias sekali membicarakan keikutsertaannya dalam program sosialnya ini. Bagi dia berbagi ilmu adalah sebagai sebuah pengabdian yang membahagiakannya. "Saya ingat kata-kata kakek, kalau semua orang berpendidikan, tidak akan ada orang yang mau mencuri," ujarnya mengingat kembali kata-kata kakeknya.

Arief pada program ini memberikan materi tentang pengelolaan pendapatan. Peserta diberikan pengetahuan bagaimana memisahkan uang pribadi dan uang usaha. Membedakan biaya tetap dan biaya variabel sampai bagaimana menghitung biaya pokok dan harga jual. Dia juga memberikan beberapa kali simulasi bagaimana menerapkannya saat berwirausaha.

Arief merupakan salah satu dosen terbaik yang dimiliki oleh Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya. Arief lulus pendidikan S1 di Universitas Indonesia pada 2009. Kemudian memperoleh gelar MBA dari Universiti Putra Malaysia pada 2003. Dia telah menjadi dosen di Prasetiya Mulya selama lima tahun.

Prasetiya Mulya memang terlihat serius menggarap program kerjasama dengan Yayasan Sekolah Bogor ini. Mereka menurunkan dosen-dosen terbaik yang dimilikinya, dari mulai dosen yang bergelar MBA, MM, MBT, M. Eng sampai PHD dan Doktor bahkan Guru Besar (Profesor).

Mereka antara lain Nugroho Suryo, Ph.D memberikan materi Modal Kewirausahaan, Dr. Achmad Setyo Hadi untuk materi Dinamika Kelompok, Arief Fadhilah, MBA untuk materi Pengelolaan Pendapatan, Nico F. Samad, MMT, MBT., untuk materi Pembuatan Laporan Keuangan Sederhana. Prof. Ignas G. Sidik, DBA memberikan materi Strategi Pemasaran, Andrey H. Pulungan M. Com memberikan materi Pengelolaan Aset.

Dosen-dosen lainnya yang juga berpartisipasi adalah: Luciana Haryono, MM., Prof. Andreas Budiharjo, Ph.D.,  Lies Dahlia, MM., Lenny Soenaryo, Ph.D., Safitri Siswono, MM. dan Burhan Primanintyo, M.Eng.

Tentu program ini disambut antusias oleh para guru-guru yang tergabung di Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, "Luar biasa, sekolah bisnis terkemuka yang telah melahirkan banyak pengusaha mau memberikan pelatihan buat para guru Sekolah Rakyat, kami bersyukur sekali mendapat kesempatan ini," ujar Rifanti dengan nada senang.

Tulisan Terkait: Agar Guru Mandiri Secara Financial

Baca selengkapnya......

AGAR GURU MANDIRI SECARA FINANCIAL

Jarak dua kilometer harus ditempuh oleh Rifanti, saat dia akan mengajar di Tempat Kegiatan Belajar Mandiri Attin di Ciawi Bogor. Rifanti tidak mengeluh dengan kondisi tersebut, walaupun honor mengajar yang dia terima hanya sebesar lima ribu rupiah setiap harinya. Bagi Rifanti, ada kebahagiaan lain yang dia dapat dari kegiatan tersebut yang bukan berbentuk materi.

Rifanti tidak sendiri, ada banyak pengajar lain yang juga mempunyai kondisi yang sama. Seperti itulah dunia pendidikan di Indonesia, fasilitas pendidikan yang kurang dan kesejahteraan pengajar yang kurang memadai. Itulah cermin kesalahan mengelola negara ini oleh pemerintahan sebelumnya dan saat ini.
Untungnya di negara ini masih banyak orang-orang seperti Rifanti yang bersedia mengabdikan hidupnya untuk pendidikan masyarkat di sekitarnya, walaupun dengan imbalan apa adanya.

Rifanti adalah salah satu dari pengajar TKBM yang tergabung di Yayasan Sekolah Rakyat (YSR) Bogor yang di ketuai oleh Munawar M. Ali, mantan aktivis Youth Islamic Study Club YISC Al-Azhar. YSR Bogor saat ini menaungi 18 TKBM yang ada di Bogor, dengan jumlah pengajar 165 orang guru dan murid-murid sebanyak 1300 anak.

Munawar gelisah dengan kondisi tidak memadainya honor para pengajar yang tergabung dalam yayasannya. Maka, kemudian Munawar mencoba melakukan upaya-upaya lain yang bisa menambah kesejahteraan pengajarnya. Akhirnya ditemukanlah program pelatihan Kewirausahaan bagi para pengajar, dan ditawarkan kepada lembaga-lembaga yang bersedia membantu.

Program tersebut kamudian direspon positif oleh Sekolah Bisnis Prasetya Mulya. YSR dan Sekolah Bisnis Prasetya Mulya sepakat untuk mengadakan Inkubator Kewirausahaan sebanyak enam kali pertemuan dengan 12 materi. Materi tersebut antara lain meliputi: Modal Kewirausahaan, Dinamika Kelompok, Pengelolaan Pendapatan, Pembuatan Laporan Keuangan, Strategi Pemasaran, Pengelolaan Aset, Pengelolaan Akutansi, Motivasi 2 kali pertemuan, Motivasi Berwirausaha, Sumber Daya Manusia, dan Ringkasan Program.


Pada akhir program para peserta pelatihan akan mempresentasikan ide-ide bisnis yang mereka ingin lakukan. Ide-ide tersebut kemudian akan disaring, bagi yang layak akan diberikan modal untuk dijalankan. "Saya sudah mendapat komitmen, ada orang yang bersedia memberikan modal usaha," ujar Munawar saat pembukaan hari ke dua pelatihan tersebut.

Tulisan terkait:
Dari Master, Doktor Sampai Profesor Turun Gunung

Baca selengkapnya......