Sabtu, 11 April 2009

Belajar Cinta, Setia dan Menjadi Pemenang


Lance Armstrong mengerem sepedanya dan langsung turun. Lance tidak pedulikan apa pun di sekelilingnya. Dia berlari mencari ibunya yang ikut kehujanan selama tujuh jam di bangku penonton menyaksikannya. Tidak lama dia menemukannya. Mereka berdiri dan langsung berpelukan. Guyuran hujan deras masih menimpa mereka. “Kita berhasil! Kita berhasil,” seru Lance. Mereka berdua menangis bersama. Adegan itu dilakukan Lance saat dia memenangi kejuaraan dunia balap sepeda di Oslo, Norwegia.

Lantas karena kemenangannya, Lance diundang oleh Raja Harald dari Norwegia. Raja tersebut ingin memberikan selamat kepadanya. Lance dan ibunya menemui raja tersebut. Saat sampai di sebuah pintu, seorang penjaga menghentikan mereka. “Dia harus berhenti di sini,” kata utusan kerajaan, “Raja akan menemuimu sendiri.” Lance menjawab. “Aku tak akan meninggalkan ibuku di pintu,” katanya. Ia meraih tangan ibunya, lalu berbalik untuk pergi. “Ayo, kita pergi, aku tak akan pergi ke mana pun tanpa ibuku.”

Lance sangat mencintai ibunya. Adegan menghampiri ibunya tidak sekali dia lakukan. Ia melakukannya di beberapa kali kejuaraan saat menjadi pemenang. ”Ibuku telah memberiku lebih dari yang bisa diberikan guru atau sosok ayah yang pernah kumiliki, dan dia melakukannya selama bertahun-tahun yang berat, tahun-tahun yang pasti baginya sehampa tanah kosong cokelat di Texas.”

Selain itu, buat Lance Ibunya adalah sumber motivatornya. Dia selalu menanamkan keberhasilan hasil dari kerja keras. ”Jika kau tak bisa memberikan 110 persen, kau takkan berhasil,” begitu petuahnya kepada Lance.

Lance diketahui terkena kanker testis saat dia sedang menuju puncak prestasinya. Saat itu dia terobsesi untuk menjadi juara Tour de France, sebuah lomba sepeda bergengsi yang menjadi ukuran prestasi seorang pembalap sepeda. Setelah sebelumnya dia gagal meraihnya. Selain itu Lance sedang berlatih keras agar bisa memenangi Olimpiade Atalanta.

Serangan kanker tersebut meruntuhkan semangatnya. Apalagi setelah diketahui kanker yang dia derita sudah mencapai stadium lanjut. Kankernya bukan hanya menyebar, tetapi juga tumbuh dengan cepat. Bahkan telah menyerang otaknya. Keputusan dokter yang menanganinya Lance harus secepatnya menjalani operasi dan dilanjutkan dengan kemoterapi.

Tetapi Lance menyadari, tidak ada waktu buat Lance untuk meratapi penyakitnya. Dia ikuti semua saran dokter yang menanganinya. Di samping itu dia pun berusaha mencari informasi sebanyak mungkin alternatif pengobatan yang bisa membuatnya cepat sembuh. ”Aku mengalahkannya, apa pun itu,” tekad Lance.

Selama proses penyembuhan Lance selalu didampingi ibu yang sangat mencintainya. Ibunya membuatkan jadwal kemoterapi, membuat daftar obat-obat yang harus diminum dan jam berapa Lance harus meminumnya. Bagi ibunya menangani Lance bak menangani sebuah proyek. Baginya pengorganisasian dan pengetahuan akan mempermudah penyembuhan anaknya.

Selain itu ibunya sangat memahami apa yang dirasakan Lance. Akibat kemoterapi, selera makan Lance menjadi bermasalah. Tapi ibunya tetap menyiapkannya. ”Nak jika kau tak lapar dan kau tak mau makan ini, ibu tak akan sakit hati,” ibunya berkata. Tapi ucapan itu selalu membuat Lance mampu menghabiskan makanan yang disediakan ibunya.

Hubungan ibu dan anak menjadi salah satu daya pikat buku dari ini. Sejumlah peristiwa yang melibatkan Lance dan ibunya bisa membuat pembaca terharu. Kutipan pesan ibunya dan ungkapan cinta Lance menambah haru persitiwa-peristiwa yang dituturkan. Tak sadar, bisa membuat tergenang air mata.
Daya pikat lain tentu saja kegigihan Lance untuk meraih impiannya kembali. Di sinilah kita akan merasakan ketegangan. Buku ini ditulis oleh Lance Armstrong sendiri dan Sally Jenkins. Sally Jenkins adalah mantan reporter olah raga. Buku lain yang dia tulis berjudul Man Will Be Boy.

Drama ketegangan masa pemulihan dan awal kebangkitan Lance dengan baik dituturkan di sini. Kita pun bisa terbawa emosi membacanya.

Lance sudah sembuh, dia bahkan sudah berlatih untuk kembali menjadi pesepeda. Tetapi ternyata kesembuhan fisik tidak dibarengi kesembuhan mental. Mental Lance menjadi drop saat di beberapa kejuaraan dia tidak bisa menunjukkan prestasinya. Lance yang semula bermental baja, kini menjadi lemah. Bahkan berulang kali ingin menyatakan mundur sebagai atlet sepeda. Dia tidak ingat lagi kata-kata ibunya yang selalu bisa membiusnya. “Buatlah hambatan menjadi kesempatan, buatlah negatif menjadi positif.” Kesabaran manajernya yang bisa membuat Lance untuk beberapa waktu menunda pengumuman mundur sebagai pesepeda.

Di masa penundaan Lance sibuk dengan hobi barunya, bermain golf. Hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk itu. Sampai suatu waktu Kik, yang kelak menjadi istrinya berkata kepada Lance. “Kau harus memutuskan sesuatu. Kau harus memutuskan jika kau akan pensiun selamanya, dan menjadi pengangguran yang bermain golf, minum bir dan makan makanan Meksiko. Jika memang begitu, tak apa. Aku mencintaimu, dan tetap akan menikahimu.”

Rupanya Lance tergugah oleh sindiran kekasihnya. Walaupun bukan berarti benar-benar bisa memulihkan mental Lance. Dia tetap berkeinginan untuk pensiun. Kik dan manajernya hanya mampu membujuk Lance untuk mengikuti sebuah lomba bersepeda sebagai ajang perpisahan, setelah itu Lance akan mengumumkan pensiun. Lance berlatih, semata agar dia bugar saat mengikuti tersebut. Tapi semangatnya benar-benar pulih karena latihan itu. Lance merasakan kembali masa awal dia berlatih dan aroma lomba, kemudian memenanginya. Dan memang kemenangan yang dia raih, di lomba yang semula akan dijadikan sebagai pengumuman pensiunnya.

Lance tidak jadi mengumumkan pensiunnya, justru dia mendaftarkan diri untuk mengikuti lomba-lomba sepeda lainnya. Mental Lance benar-benar pulih, dia mulai menatap Tour De France. Kejuaraan yang benar-benar dia impikan untuk dimenanginya. Kejuaraan yang menjadi simbol kekuatan dan simbol prestasi pembalap sepeda.

Lance menjuarai Tour De France, bukan hanya sekali, tujuh kali dia memenanginya. Setelah dia terkena kanker yang diprediksi akan menamatkan kariernya. Setelah dia mengalami depresi yang hampir membuatnya pensiun.

Buku ini best seller menurut The New York Time selain itu mendapat pujian dari media lain, diantaranya: Publishers Weekly, People, The Danver Post, dan San Antonio Express-News. The New York Time menulis kata singkat memuji buku ini. “Mengagumkan.”

Cinta, kesetiaan dan kegigihan sesuatu yang bisa kita ambil dari buku ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar