Senin, 04 Desember 2023
Masih Mewek Saat Terkenang Bapak
Sabtu, 16 September 2023
Bapak Telah Sempurna Menyiapkannya
Jumat, 01 September 2023
Pak Syarif, Bestie Bapakku
![]() |
| Saat bapak masih aktif bertani |
Kamis, 16 Maret 2023
HANIN SUDAH MAKIN BESAR
Senin, 06 Desember 2021
Sabtu, 04 Desember 2021
Berhenti Bertani
Senin, 07 Maret 2016
Efek Bahagia dan Kesehatan dari Sebuah Pelukan
Minggu, 06 Maret 2016
Sensasi Dua Garis
![]() |
| Siapa yang hamil sebenarnya? |
Baca selengkapnya......
Sabtu, 26 November 2011
Terjangkit Virus Chicken Soup
"Gooool", teriak saya dan penonton lain saat nonton bareng (Nobar) Indonesia vs Malaysia di Gelora Bung Karno. Lagi seru pertandingan, karena sebelum gol terjadi pun kedua tim silih berganti menyerang.
Belum sempat melihat tayangan ulang gol tersebut karena layar terhalang oleh penonton lain yang berdiri, sebuah SMS masuk ke hand phone saya. Saya lihat pengirimnya dari Diana Sarahsanti, teman di Youth Islamic Stusy Club (YISC) Al-Azhar. "Gue lagi menghibur diri, beli Chicken Soup yang baru, Mengatasi Rasa Duka Karena Kehilangan. "Mudah-mudahan menenangkan," jawaban singkat saya.
Diana dua hari terakhir itu mungkin sedang bersedih. Di status Facebook sehari sebelumnya dia membuat status tentang kehilangan cincin kawinnya. "Sudah kehilangan orangnya,kasih sayangnya,sekarang giliran cincin kawin pemberiannya..Ya Allah kuatkanlah aku.." ucapnya di FB. Sebuah kondisi yang patut kita berikan empati kepadanya.
Tapi tulisan ini tidak akan bercerita tentang derita Diana. Karena kalaupun dia saat ini sedang bersedih, yang saya tahu Diana adalah sosok yang kuat, dan selalu ikhlas menerima semua hal yang menimpa kepadanya. Mudah-mudahan kali inipun dia akan kembali menunjukkan hal itu. Dan menurutku dia, sedang berusaha melakukannya, terbukti dengan membeli buku Chicken Soup for The Soul. Buat saya itu adalah pilihan yang tepat, walaupun bukan berarti satu-satunya pilihan, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi kesedihan.
Dalam buku Chicken Soup for The Soul banyak kisah-kisah inspiratif dan kisah-kisah yang bisa kita teladani. Biasanya kisah-kisah itu dikelompokkan dalam beberapa judul bab, seperti: Tentang Cinta, Tentang Kebaikan, Tentang Orang Tua dan Pengasuhan Anak, Tentang Belajar Mengajar, Mengatasi Hambatan dan beberapa lainnya. Di setiap judul seri buku Chicken Soup for The Soul bisa berbeda-beda pengelompokkan judul babnya.
A4th Course of Chicken Soup for the Soul adalah buku pertama yang saya baca dari buku seri Chicken Soup for The Soul ini. Di buku itu, ada kisah yang selalu saya ingat. Kisah itu dikelompokkan ke dalam bab Tentang Kebaikan, dan judulnya Kaki Besar-Hati Lebih Besar.
Tulisan diawali dengan sebuah sebuah pepatah dari Afrika. "Ketika perbuatan bicara, kata-kata tidak ada artinya.
Diceritakan seorang gadis kecil ingin membeli es krim. Sambil menggenggam uang dengan dia menghampiri sebuah toko es krim. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu untuk membeli es krim, seorang petugas menghardik dengan galaknya menyuruh dia keluar dan disuruh untuk membaca tulisan di yang terpasang di pintu, dan memintanya tidak masuk lagi sebelum dia memakai sepatu.
Saat bersamaan seorang pria bertubuh besar keluar dari toko es krim tersebut. Dia melihat gadis kecil itu keluar dari toko dan berdiri di depan pintu sambil membaca sebuah pengumuman di pintu. "Tidak Memakai Sepatu Tidak Boleh Masuk".
Anak kecil itu berdiri terpaku membaca tulisan itu, perlahan di kedua pipinya mengalir air matanya. Dengan perlahan anak kecil itu berbalik dan meninggalkan toko itu. Tiba-tiba lelaki besar itu memanggilnya sambil duduk di pinggiran jalan. Pria itu melepas sepatunya yang berukuran besar dan meletakkan sepatunya di depan anak kecil tersebut. "Pakailah sepatu saya, mungkin kamu akan kesulitan berjalan dengan sepatu itu, tapi kamu akan mendapatkan es krim," ucapnya. Sebelum anak itu menjawab lelaki besar itu mengangkat anak itu dan memasukkan kakiknya ke dalam sepatu besar miliknya.
Dengan kesulitan anak itu berjalan, tapi tidak berapa lama dia kembali dengan membawa es krim. Dengan senyum dan mata berbinar anak itu menghampiri lelaki besar itu. Lelaki besar itu pun tersenyum melihat kebahagiaan anak itu.
Sederhana apa yang dilakukan oleh lelaki berbadan besar itu. Tapi buat saya, dia lelaki yang berhati besar.
Terima Kasih
Warsa Tarsono.
Tulisan lain:
Inspirasi dari Buku Chicken Soup for The Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Banget
Jejak Kerja Keras Bapakku
PAYISC, Memaknai Hidupku
Sabtu, 19 November 2011
GURU IDOLAKU
Beberapa waktu yang lalu, dalam tulisan saya yang berdujudul Kesan Saat di SMP 2 Banjarharjo saya membuat pertanyaan kepada diri saya sendiri, Siapa atau apa yang paling diingat saat di SMP 2 Banjarharjo?? Maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Pak Regi. Pada kesempatan ini saya juga ingin membuat pertanyaan, siapa guru idola saat SMP? Jawaban atas pertanyaan tersebut dengan cepat saya jawab Pak Regi.
Pak Regi memang buat saya memberikan kesan tersendiri. Saya tahu dia adalah guru yang galak. Makanya dulu saya dan teman-teman menjuluki dia dengan sebutan Paman Harimau. Walaupun begitu seingat saya, dia tidak pernah memukul atau tindakan apapun yang menyakiti secara fisik. Kalau bentakan atau pertanyaan "intimidatif" saat tidak bisa mengerjakan soal atau tidak mengerjakan PR sering saya lihat atau rasakan.
Pak Regi saat ngajar atau tidak, tampangnya selalu serius. Jarang sekali melihat dia tersenyum. Terlihat tersenyum ketika menertawakan muridnya yang tidak bisa mengerjakan soal atau tidak paham terhadap pelajaran yang dia berikan. Mungkin istilah yang tepat bukan senyum tapi menyeringai. Buat saya waktu itu, senyum dia menjadi senyum yang terasa intimidatif, sebuah senyuman sinis.
Saya tidak pernah melihat dia bercanda. Satu-satunya candaan dia yang mungkin semua masih ingat adalah saat dia menjadi instruktur upacara. Setelah dipersilahkan, dia berjalan menghampiri podium, semua siswa terdiam. Beberapa saat kemudian dia mengucapapkan Assalamu'alaikum. Tanpa diduga kemudian dia berkata: "sekian sambutan dari saya, terima kasih." Geeer saat itu terdengar tawa peserta upacara. Sementara guru-guru yang lain terlihat mesem-mesem. Mungkin itu adalah upacara paling singkat. Mungkin itu adalah tindakan paling lucu dari Pak Regi.
Tapi entah mengapa, diam-diam saya menyukai dia. Diam-diam dia menjadi idola saya. Karena dia saya bercita-cita ingin menjadi guru. Guru matematika, pelajaran yang menjadi mata pelajaran Pak Regi. Lucunya, saya membayangkan kalau menjadi guru ingin meniru cara mengajarnya Pak Regi. Tegas, lugas dan tidak mengenal kompromi. Walaupun konsekwensinya mungkin akan dijuluki Paman Harimau juga. Hehehehe
Setelah saya keluar dari SMP saya masih menngingat dia. Saya selalu bertanya kepada adik saya yang juga sekolah di SMP 2 Banjarharjo, gimana khabarnya Pak Regi? Ngajar kelas berapa sekarang? kamu diajar dia enggak? Sampai sekarang saya selalu ingin tahu khabar Pak Regi.
Buat saya, Pak Regi juga yang membuat saya pernah merasa bangga. Saya siswa yang biasa saja, tidak pernah masuk sepuluh besar kelas, apalagi sepuluh besar satu angkatan. Tapi ada saat saya merasa sebagai siswa yang pintar, ya semua gara-gara Pak Regi. Pak Regi memberikan saya nilai 10 atas ulangan yang dia adakan. Bukan sekali tapi tiga kali berturut-turut. Walaupun hanya tiga kali itu saya memperoleh nilai sepuluh, untuk pelajaran matematika maupun pelajaran lainnya. Tapi ketiga nilai tersebut selalu saya kenang.
Sekarang saat teman-teman SMP mulai bertemu di jejaring sosial facebook, rasa ingin bertemu dengan Pak Regi kembali muncul. Ingin tahu berada di mana dia sekarang? dan kalau dia masih hidup, saya ingin bertemu dia. Saya ingin mengatakan kepadanya, dia adalah guru idola saya. Walaupun saat ini saya tidak menjadi guru, tetap dia menjadi idola saya.
Pak Regi guru idolaku, semoga engkau dan keluarga selalu sehat dan mendapat lindungan dari Allah SWT.
Sebuah syair saya alunkan menutup tulisan ini; "......JASAMU TIADA TARA......."
Tulisan lain:
Mug Cantik
Bingkisan Ulang Tahun
Kesan Saat di SMP 2 Banjarharja
Inspirasi dari Kepala Sekolah
Jejak Kerja Keras Bapakku
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Jika mendapat sesuatu dari tulisan ini silahkan di share ke yang lainny bisa ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logo di bawah tulisan ini. Tolong juga berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Apapun komentarnya, berapapun ratingnya, menjadi masukkan yang berarti buat saya.
Terima Kasih
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
Jumat, 18 November 2011
Testimoni
Lusi Romawati
Trima kasih om warsa, mugnya cantik,aku suka. ini gambar karya aku loh,,, hhe btw sebenarnya kemarin salah pemesanan, salah aku sih,tapi om warsa tetep ganti tanpa aku harus bayar lagi. terima kasih om. ayo teman-teman siapa yang mau pesen mug??? pesen aja ama om warsa ya,, pasti puas deh, bisa langsung pesen lewat facebook nya, di WARSA TARSONO. mug nya cantik-cantik lo gambarnya.
Nanin Basuki
Makasih ya Warsa atas bantuannya men-support pembuatan souvenir cantik dan lucu. gambar foto dan tulisan nya jelas. Warna bisa kompromi dengan cepat dan yang penting delivery order nya cepat sampai ditujuan dengan selamat... packaging nya juga ok.
Wawan K. (ABIENET)
"SALUT DAN LUAR BIASA"
"Saya sebagai customer dan mitra Sahabat Kreatif (Warsa Tarsono) mengucapkan salut terhadap produk mug sablonnya. Saya merasa senang berbisnis mug ini karena harganya yang terjangkau dan desain bisa sesuai keinginan pembeli, juga bisa memesan satuan atau borongan. Semoga kerjasama dan usaha kita ini bisa terus meningkat. Sedikit demi sedikit Insya Allah ratusan ribu rupiah mengalir. Saya ucapkan salut untuk Sahabat Kreatif, Selamat dan Sukses."
ABIENET-Jl. Sentosa Raya No. 3 Depok 2 Tengah, Bogor
Akses 50 jam dalam sebulan, akan mendapat hadiah spesial
Senin, 07 November 2011
JEJAK KERJA KERAS BAPAKKU
Wajahnya mulai keriput. Namun dibanding beberapa bulan sebelumnya, pipi bapakku terlihat lebih tembem dan badannya lebih berisi. Usianya mungkin sekitar 63 atau 64 tahun. Kenapa tidak aku bilang angka pasti, karena tidak ada catatan tertulis tanggal, bulan dan tahun berapa bapakku lahir. "Bapak mu lahir saat Zaman Bledugan," cerita nenekku dulu. Beberapa waktu kemudian baru aku tahu kalau zaman bledugan itu artinya zaman waktu Belanda datang kembali untuk menjajah Indonesia. Seingatku ya kisaran 1947 atau 48. Tanggal dan bulan berapa? tidak ada yang tahu.Bapakku lahir dipengungsian, saat Belanda menyerang daerahku.
Bapak meminta aku dan adikku untuk pulang saat libur Idul Adha kemarin. Dia ingin memberi tahu letak sawah dan kebun yang dia milikki, "mumpung dia masih segar," memberikan alasan. Sebenarnya waktu kecil, aku dan adikku sering diajaknya, tapi kami sudah lupa, karena sudah lebih 20 tahun kami tak menginjakkan kami di sawah dan kebun milik keluarga kami.
Membandingkan harga tanah di kampungku dan Jakarta sangatlah jauh, bagai langit dan bumi. Lahan seluas 2500 M2, harganya sekitar 5-6 juta, di Jakarta bisa milyaran rupiah. Tapi betapapun kecil harga jual tanah yang bapak milik, tetap saja aku bangga dengan apa yang dia milikki, yang merupakan hasil jerih payah dan kerja keras dia dan almarhum ibuku.
Foto adikku di areal perkebunan"Sudah sih nanti foto-fotonya," sergah Bapakku, melihat kami sibuk berfoto ria. Buat kami menginjakkan kembali di areal persawahan atau perkebunan menjadi peristiwa langka, karena itu kami ingin mengabadikannya. "Sambil jalan bapak ingin ngobrol sama kalian, ada yang ingin Bapak ceritakan," ujarnya. Kami pun mendekat dan mulai berbincang dengan akrab. Sesekali bapakku selalu mengingatkan kami. "Awas kena duri!" Dalam hati aku menjawab, "Kami sudah gede Pak, masih aja diingetin". Tapi aku tidak mengucapkannya, karena aku tahu itu adalah bentuk sayang dia kepada kami.
Daerah pertama yang kami datangi namanya Pamahan, yang berjarak sekitar 5 KM dari tempat tinggal kami. Saat kami sampai di lokasi, ada sepasang suami istri yang sedang bekerja, mereka adalah keluarga yang menggarap tanah kami. Mereka masih sanak saudara kami, sawah kamipun berdampingan dengan miliknya. Karena bapak tidak sempat menggarapnya, bapak meminta keluarga tersebut sekalian menggarapnya.
Bersama penggarap kebun."
Ini Warsa, ini Carlan," bapakku mengenalkan kami. Ada rasa senang mereka bertemu kami. Karena perjalanan kami masih jauh, kami tidak lama ngobrol. Setelah berfoto kami segera pamit.
"Sekarang ke mana Pak?" tanyaku. "Ke Dangkolong," jawabnya. "Enggak ke Lojok Kanon dulu?" tanyaku kembali. "Ke Dangkolong dulu, baru ke sana," jawab Bapakku.
Lojok Kanon nama yang selalu ku ingat, karena ada peristiwa dramatis yang menimpa keluarga kami. Salah seorang adik kakek kami meninggal di sana. Namanya Sarnab. Masalahnya meninggalnya dengan cara yang tragis. Kejadiannya saat aku belum lahir. Cerita nenekku suatu kali saat Kakek Sarnab sedang mencangkul dia menemukan benda asing, sebuah besi dengan bentuk lonjong memanjang.
Peluru Kanon, orang di desaku menyebutnya. Karena dianggap adik kakekku peluru kanon tersebut sudah tidak aktif, dia-dia memukul-mukulnya. Tiba-tiba Duarrr suara ledakan besar menggelegar. Tubuh adik kakekku terpencar ke mana-mana terkena ledakan tersebut. Nenek ku yang berada tidak jauh menjerit sekeras-kerasnya. Orang-orang yang berada sekitar daerah tersebut berdatangan, tapi tidak ada yang berani melakukan apapun, karena merasa ngeri melihatnya. Hanya nenekku yang berani mengumpulkan bagian-bagian tubuh yang berpencar tersebut, tentu saja sambil menangis.
Dangkolong.
Kami sampai di Dangkolong, tanah keluarga kami ada di bagian pinggir sebuah bukit kecil. Bapak menanaminya dengan pohon jati. Pohonnya masih kecil-kecil karena baru ditanam lima tahun lalu.
Kamipun tidak lama di sini, dan segera melanjutkan ke Lojok Kanon. Di Lojok Kanon kami sempet diskusi, bukan tentang peristiwa ledakan Kanon, karena sudah beberapa kami mendengar ceritanya. Kami mendiskusikan hal yang akan dilakukan terhadap tanah tersebut, karena masih kosong. Akhirnya kami bersepakat untuk menanam pohon jati juga.
Tak lama kemudian kami segera beranjak menuju Kepek Loncer. Saat menuju Kepek Loncer inilah tiba-tiba bapakku berkata; "Diantara anak-anak Bapak, yang paling bandel itu Carlan. Tapi kalau Warsa sama Jabar, paling sering minta dibeliin mainan,sampai numpuk," ujarnya. "Tapi walaupun bandel, Carlan yang paling suka bekerja," timpal adikku. "Eittt nanti dulu," aku memotong. "Kamu tidak pernah ngerasain jadi anak angon (anak gembala), kakak yang selalu disuruh gembalain sapi kalau libur sekolah," ucapku menimpali.
"Benar Pak?" tanya adikku sangsi. "Iya, tapi nyuruh kakak ngangon sapi tidak mudah. Bapak atau Ibu biasanya harus marah dulu, baru kakak mau. Sampai pernah saking marahnya Bapak melempar kakak dengan tahi sapi. Tapi setelah itu Bapak menyesal. Dan sebenarnya kalau Bapak melihat dari jauh kakak sedang menggembala sapi, hati bapak sedih. Bapak menangis dalam hati, karena sebenarnya Bapak enggak ingin anak-anak Bapak jadi gembala seperti Bapak. Bapak tahu itu berat," ucapnya dengan suara yang semakin pelan, terasa ada emosi penyesalan dalam hatinya.
Aku sendiri terdiam mendengar cerita bapak, ada rasa terharu mendengar ungkapan Bapak. Pikiranku melayang ke masa silam, saat aku bersikukuh enggak mau menggembala sapi yang membuat Bapak marah. Dan aku ingat, kalaupun ibuku juga marah, melihat aku dilempar, dia berteriak dan segera memeluk aku, dia ikut menangis, dan berbalik membentak Bapakku. "Apa-apaan sih Pak!" bentak ibu kepada bapak. Sambil membawa aku menjauh dari Bapak.
Paristiwa itu memang buatku juga membekas, tanpa diceritakan kembali oleh bapakku, aku juga masih ingat. Dan menurutku peristiwa itu menjadi noda kasih sayang seorang Bapak kepada anaknya, yang entah mengapa aku juga tidak bisa melupakannya.
Sampai akhirnya hari kemarin aku mendengar penyesalannya, ada rasa haru dan bahagia yang tak terhingga. Bahwa sebenarnya dia juga berat menyuruh anaknya menjadi penggembala sapi. Dalam hati aku berjanji, mulai saat ini aku akan melupakan peristiwa itu. Kalaupun nanti masih tetap ku ingat, justru melihatnya sebagai ungkapan sayang Bapakku terhadap aku. Dan hari-hari ini aku sangat-sangat sedang merasakannya.
Di belakang tampak gunung Kepek Loncer.
Tanpa terasa kami sudah sampai di Kepek Loncer. Sebutan Kepek Loncer pada daerah itu sebenarnya merujuk pada gunung di dekatnya yang bernama Kepek Loncer. Ketika aku tanyakan kepada bapak, kenapa disebut gunung kepek loncer, bapakku menjelaskan bahwa arti kepek itu berasal dari kata lepek. "Payudara yang lepek." jelasnya. "Sedangkan loncer artinya adalah terlepas. Nah sebenarnya yang dikatakan kepek loncer itu adalah sumber air yang ada di pinggir gunung itu, yang tidak pernah kering kalaupun musim kemarau. Arti harpiahnya adalah sumber air yang terlepas dari gunung yang lepek," jelas bapak, sedikit panjang menjelaskan.
Kami telah sampai di daerah Keser. Daerah tersebut sudah dengan rumah tinggal kami. Tapi kami tidak langsung pulang, kami menuju Sawah Gede. Sawah Gede merupakan areal persawahan yang dialiri oleh air irigasi yang berasal dari Waduk Malahayu. Sebuah waduk dengan kisaran panjangn dan lebar masing-masing sekitar 6 KM. Waduk tersebut dibangun saat Indonesia masih dijajah Belanda. Dalam prasastinya diresmikan tahun 1935. Mungkin itu salah satu projek kerja rodi pada masa penjajahan Belanda. Surya Dharma, mantan Ketua Umum YISC pernah aku ajak mengunjunginya.
Menurutku Sawah Gede adalah satu-satunya areal produktif yang ada di desaku. Produktif karena setiap saat bisa ditanami apa saja, karena ada sistem pengairannya. Kalau kebun dan sawah yang sebelumnya aku kunjungi, adalah lahan yang mengandalkan perairannya pada air hujan. Tapi sayangnya, lahan produktif tersebut samakin hari semakin sempit, karena terdesak oleh rumah-rumah warga.
Jam tiga kami sampai di rumah, sekitar 5 jam kami melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Lelah, tapi aku sangat bahagia. Tidak aku perdulikan lecet-lecet pada kakiku, demikian juga dengan adikku. Kami telah menapai jejak kerjakeras bapak dan ibuku.
Saat kami akan kembali ke Jakarta, aku memeluk erat bapakku, diapun membalasnya. Setiap aku mengencangkan pelukanku, diapun melakukan hal yang sama. Kami seolah tidak ingin melepas kehangatan dan rasa sayang yang ditimbulkannya. Semakin erat, semakin aku merasa bahagia. Ada air mata yang ku tahan, sesaat setelah pelukan kami terlepas. Sesaat kemudian bapakku kembali memegang kepalaku, mengusapnya. "Hati-hati ya," ucapnya pelan. Akupun mengangguk, tanpa bisa berkata kembali.
Bingkisan Cantik Ulang Tahun Anak Anda
Mug Cantik Mengabadikan Rasa Sayangmu
Tulisan lain:
Jejak Kasih Sayang Ibuku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt
Jika mendapat sesuatu dari tulisan ini silahkan di share ke yang lainny bisa ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logo di bawah tulisan ini. Tolong juga berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Apapun komentarnya, berapapun ratingnya, menjadi masukkan yang berarti buat saya.
Terima Kasih
Warsa Tarsono
HP: 0818 995 214/021-96318167
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
Jumat, 04 November 2011
BERBAGI PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC- 1
Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang singkat, tapi selama itulah waktu yang saya habiskan beraktifitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Banyak teman bertanya, kok betah banget di YISC, emang ada apa di sana? Mendapat pertanyaan itu sering kali saya tidak bisa langsung menjawabnya. "Terlalu panjang untuk dijelaskan, perlu dua atau tiga harilah baru tuntas," dengan nada bercanda. "Masa sih?" jawab teman tersebut dengan nada tidak percaya. "Kalau tidak percaya, masuk saja sendiri," timpalku. Pertanyaan itupun sampai saat ini tak pernah saya jawab.
Bukan apa-apa, karena, jujur sebenarnya sayapun tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Kalaupun ada jawaban singkat seperti; menambah teman, wawasan,ilmu agama dan belajar berorganisasi tidak lah cukup menggambarkan suasana bathin saya.
Dulu, waktu aktif di YISC beberapa tanggung jawab dipercayakan ke saya. Tahun-tahun awal saya diajak aktif di Berita YISC dan Lembaga Penerbitan. Periode berikutnya menangani kajian-kajian filsafat Islam. Setelah itu diberikan kepercayaan untuk memimpin Ketua Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (P2M), kemudian juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Dinamika Organisasi (MDO). Terakhir diberikan amanah untuk memimpin Lembaga Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC).
Dengan banyaknya tanggungjawab yang saya pegang, sayapun menjadi banyak belajar dari semua proses melaksanakan amanah-amanah tersebut. Dan itu memberikan pengalaman bathin yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini. Dalam banyak hal, pengalaman-pengalaman tersebut bermanfaat bagi saya, baik di dunia kerja maupun di lingkungan keseharian saya. Di samping, tentu saja suasana pertemanan, persahabatan dan persaudaraan yang tanpa pamrih, yang semakin membuat saya betah.
Walaupun mungkin tidak semua pengalaman bathin tersebut bisa dituangkan, saya mencoba untuk menuliskannya. Sekedar untuk berbagi.
Tahun pertama di YISC, lebih banyak saya melewatinya dengan belajar, tapi jangan diartikan saya serius belajar dalam arti sebenarnya. Saya cuma ingin mengatakan, saya belum aktif sebagai pengurus. Aktivitasnya hanya mengikuti berbagai agenda pendidikan di YISC. Setiap minggu saya mengikuti kuliah kelas, forum-forum kajian yang diadakan di internal YISC, seperti Forum Cinta Ilmu, Forum Dialog Dialog dan bedah buku. Sesekali senior mengajak saya datang ke seminar-seminar yang diadakan oleh organisasi lain. Dalam konteks itulah saya katakan melewati hanya dengan belajar.
Dalam proses belajar tersebut saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang agama dan keberagamaan. Itu memberi banyak arti bagi kehidupan saya, bagi keberagamaan saya.
Tahun ke dua saya mulai terlibat di kepengurusan, saya diajak Mas Buni Yani menjadi reporter Berita YISC. Hal baru buat saya, dan waktu itu saya juga tidak tahu alasan apa yang membuat Mas Buni merekrut saya. Saya tidak punya latar belakang pendidikan sebagai jurnalis, saya juga tidak punya pengalaman menulis. Ketika saya sampaikan itu ke Mas Buni, Mas Buni mengatakan, "Ya nanti kita adakan pelatihan," ujarnya singkat.
Akhirnya saya menerimanya, tidak lama kemudian diadakan pelatihan jurnalisme, dengan trainer Mas Buni sendiri, yang memang seorang jurnalis. Saat itu dia bekerja sebagai wartawan di Tempo Interaktif. Sebuah media online, jelmaan dari Majalah Tempo yang saat itu masih di bredel.
Dalam pelatihan tersebut saya dikenalkan konsep lima W (What, Why, When, Who,Where) dan 1 H (How), dan angel berita. Dua konsep yang buat saya benar-benar hal baru. Dengan berbekal pelatihan tersebut saya memulai berprofesi sebagai "wartawan", walaupun sebatas wartawan lokal.
Keterlibatan di Berita YISC itulah yang membuat saya bisa menulis. Dengan kemampuan tersebut saya pernah bekerja di Jurnal Media Watch The Habibie Center, sebuah jurnal untuk memantau dan mengkritisi isi media, juga sebagai wartawan beneran di Majalah Madina.
Dari pengalaman ini saja saya merasa sudah tergambar betapa tidak bisa disederhanakan jawaban atas pertanyaan dari teman-teman saya di atas. Saya mengalami sebuah proses "pendidikan" dari aktivitas saya, dan itu ternyata mewarnai hidup saya sampai saat ini. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin terlupakan.
Pengalaman selanjutnya akan saya tuangkan pada tulisan berikutnya. Secara khusus juga saya akan menulis tentang orang-orang yang berjasa terhadap saya selama beraktivitas di YISC. Tentu saja salah satunya adalah Mas Buni Yani, yang saat ini sedang study di Belanda.
Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt
Tulisan ini bisa di share ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logonya di bawah tulisan ini.
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
Kamis, 03 November 2011
YISC, PERSINGGAHAN YANG MENGASYIKKAN
Masjid Agung Al Azhar
Salah satu babak dalam perjalanan hidup yang aku nikmati adalah saat beraktivitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al- Azhar. Bukan saja karena mendapat pencerahan terhadap hidup dan makna kehidupan, tapi lebih dari sekedar itu. Suasana persahabatan, pertemanan dan persaudaraan yang tidak tersekat oleh tembok-tembok status sosial, atau apapun.
Tapi dalam tulisan ini aku tidak akan menulis itu (Kayaknya serius banget), tapi berbagai suasana yang aku ingat saat itu sering membuat geeerrr, tertawa bersama dan kadang sampai tertawa ngakak. Bisa juga hanya seulas senyum simpul, tapi maknanya daleeemmmm. Hehehe
Pasti teman-teman sepakat, kata rapat adalah kata yang paling akrab diantara sivitas, ya semua karena jika aktif di YISC berarti dia akan menjalani berbagai rapat yang kadang-kadang tak ada henti-hentinya. Apalagi saat hari Minggu, bisa empat sampai lima kelompok beberapa orang duduk melingkar di Taman Firdaus. Semuanya sedang rapat! Bahkan menjelang bulan Ramadhan bisa lebih dari lima kelompok.
Setelah Dzukur, seolah saling berebut, mereka mengambil posisi. Di taman yang sering kali becek setelah hujan dan kering kerontang saat musim kemarau. Tapi semua civitas betah rapat dan bersantai ria di sana. Taman firdaus, membayangkannya akan membuat kita tersenyum sendiri. :)
Kembali ke cerita tentang rapat. Saking seringnya sivitas rapat, Wahyudi Palwono yang dikenal dengan panggilan Uginx, membuat gambar ilustrasi di buku kompilasi yang membuat sivitas tersenyum simpul. Uginx menggambar sebuah pintu, dibagian gambar pintu itu tertulis TUTUP PINTU DENGAN RAPAT. Jadi tutup pintu saja harus dengan RAPAT!!!! Hehehehe
Saat rapat, terutama rapat-rapat yang besar seperti Rapat Evaluasi, Rapat Kerja dan Musyawarah Lengkap, diantara kereriusan membahas berbagai program dan rumusan peraturan organisasi, terselip berbagai gurauan atau pernyataan bahkan celaan yang membuat kami semua geeerrr tertawa. Tapi asyiknya, setiap orang yang menjadi korban celaan, tidak pernah marah, mereka justru menjadi marah kalau program kerja yang mereka buat tidak disetujui. RUARRRR BIASA hehehehe MULIA BANGETTTS! Berikut beberapa peristiwa rapat yang masih aku ingat.
Saat itu rapat kerja baru akan dimulai. Sang Sekum Heru Widiyanto baru saja membuka rapat, sebuah interupsi langsung muncul. Aku lupa siapa yang interupsi waktu itu. Dengan serius dia berkata: “YISC itu lembaga independent, jadi tidak etis kalau diantara kita mengenakan baju partai, jadi saya harap rapat resmi kita harus bersih dari unsure-unsur kampanye partai,” ucapnya lugas.
Kami saling pandang, karena tidak tahu siapa yang dia maksud, sampai akhirnya semua mata tertuju pada Gunawan, AaGun panggilan akrabnya. Terjadilah perdebatan yang sengit. Ada yang mendukung, ada juga yang berpendapat, masalah seperti itu ajah kok dipikirin. Tapi tetap saja perdebatan dilanjutkan, sampai akhirnya Gunawan tunjuk tangan dan memulai bicarta: “Ya sudah, daripada rapat menjadi berlarut-larut, saya yang ngalah dechhh, saya akan ganti baju,” ujarnya singkat. Setelah sekitar setengah jam berdebat. Gubrakkk!!!
Di rapat yang berbeda ada persitiwa yang membuatku tertawa, masih rapat kerja juga. Waktu itu Ahmad Masun (AMGD) baru saja mempresentasikan program humas yang pimpin. Ahmad Nurcholis langsung memberikan tanggapan dan kritik terhadap program yang dibuat AMGD. Kritik-kritik yang tajam, tapi dengan kemampuan bicara C’Nur, kritik yang tajam itu menjadi geerrrr, semua peserta dibuat ketawa.
AMGD menanggapi dengan gaya bicara yang khas dari dia. Salah satu kekhasan AMGD, kalau dia bicara selalu saja bisa menemukan kata yang mempunyai huruf yang sama diakhir kalimatnya.
“Terima kasih pada C’Nur yang telah memberikan masukan yang lugas, cerdas dan trengginas. Saya tahu memang C Nur ini seorang yang kritis, dinamis juga romantis, jadi kita semua bias tertawa kalau dia bicara. Tapi sebelum saya menanggapi, saya minta kepada C’Nur untuk membuka mata dulu,”.
Kami tidak tahu maksdunya AMGD berkata begitu, karena C Nur baru saja bicara enggak mungkin dia ngantuk atau tertidur. Mata kami tertuju kepada C Nur. Kami baru sadar kalau ternyata mata C Nur rada-rada sipit, jadi terlihat menutup mata. Spontan setelah kami menyadari itu kami semua tertawa. Hahahahaha.
Satu lagi peristiwa lucu yang masih aku ingat adalah saat Musleng tahun 95, saat terpilihnya Bang Imaduddin Abdullah sebagai Ketua Umum YISC.
Saat itu memasuki pembahasan tatacara pencalonan ketua umum. Walaupun setiap Musleng sudah ada ketentuan sebelumnya, tapi tetap saja selalu ada perdebatan untuk merumuskannya. Saat itu ada usulan dari salah satu peserta Musleng. Dia mengusulkan bahwa siapa saja yang berniat untuk menjadi ketua umum untuk mengajukan diri secara langsung, untuk melihat kesungguhannya.
Bang Juarsyah mengacungkan tangan, dia tidak setuju terhadap usulan itu. “Budaya kita kan tidak biasa dengan itu, mungkin kalau dia yang mengajukan sendiri dia akan malu, jadi menurut saya kita harus menghormati KEMALUANNYA,” GEEERRRRR, peserta musleng tertawa. Tapi Bang Juarsya belum sadar, beberapa saat kemudian diapun itu tertawa dan berkata: “Rasa malunya maksud saya.” Tapi peserta sudah terlanjur tertawa, dan tidak mendengar klarifikasinya.
Itulah cerita-cerita yang masih aku ingat, masih ada beberapa tapi nanti tulisannya kepanjangan. Silahkan teman-teman yang lain juga bercerita. Hehehehe
Terima Kasih
MUG CANTIK
BINGKISAN ULTAH
BERBAGI PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC
AKSI MAHASISWA UI SESUATU BANGET
SAAT ENDAH MEMILIH PANGGILAN JIWANYA
wtarsono
www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
Selasa, 01 November 2011
UCAPKAN SELAMAT ULANG TAHUN & DOA DENGAN LAGU
Bingkisan Cantik Ulang Tahun Anak Anda
Melengkapi kebahagiaan, saya kirimkan beberapa lagu ulang tahun. Semoga inipun menjadi doa yang baik.
Berikut persembahan lagunya:
Suka dengan kejenakaan Benyamin S, silahkan klik di SINI
Bagi yang suka nuansa Jazz, dengarkan lagu dari Fariz RM. Klik di SINI
Persembahan ulang tahun Kahitna klik di SINI
Penggemar musik rock, silahkan dengarkan lagu dari Jamrud. Klik di SINI
Lagu dari Dewa 19, klik di SINI
Lagu dari Ten2Five Klik di SINI
Lagu dari Samantha, Klik di SINI
Suka dengan lagu ulang tahun Vagetoz. Klik di SINI
Lagu dari Evie Tamala. Klik di SINI
Tentu saja ada lagu selamat ulang tahun yang sering dinyanyikan anak-anak. Klik di SINI
Happy Birthday - Bob Marley, klik di SINI
Happy Birthday Jimy Hendrix, klik di SINI
Happy Birthday Baby Elvis Presley klik di SINI
Happy Birthday, U2 Bono klik di SINI
Birthday Song The Beatles, klik di SINI
Happy Birthday Mariah Carey kilk di SINI
Happy Birthday Party Song klik di SINI
Semoga berarti.
Mencari bingkisan cantik ulang tahun anak Anda, klik di SINI
Mug Cantik, klik di SINI
Tulisan lain Klik di SINI
Ingin mengirim lagu buat teman/sahabat yang berulang tahun, kirimkan link halaman ini. Kalau berkenan, mohon berikan komentar atau rating terhadap postingan ini.
Salam Bahagia
Warsa Tarsono
0818 995 214/021-96318167
www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter : @wtarsono Baca selengkapnya......
Kamis, 20 Oktober 2011
Inspirasi dari Kepala Sekolah
Semula aku enggak sadar, kalau periode aku di SMPN 2 Banjarharjo mengalami dua kali pergantian kepala sekolah. Yang berarti tiga kepala sekolah pernah memimpin kami. Apakah ada perbedaan dari ketiga kepala sekolah tersebut? Seingatku berkaitan dengan program dan sistem pengajaran, enggak ada. Buatku waktu itu hanya pergantian biasa saja, mutasi seorang pejabat, apakah itu karena aku yang tidak peduli? Aku juga enggak ngerti.
Tapi dari ketiga kepala sekolah yang pernah memimpin SMP 2 Banjar, pernah salah satunya masuk ke kelasku. Seingatku waktu kelas 2. Waktu itu guru Bahasa Indonesia berhalangan mengajar. Aku lupa Bu Sri Budi atau bu Siswa, kayaknya sih bu Siswa, karena bu Sri Budi ngajar waktu aku kelas 1.
Nah waktu Bu Siswa tidak datang itu, Kepala Sekolah masuk menggantikannya. Walaupun saat dia masuk bukan untuk mengajar Bahasa Indonesia. Dia bicara tentang masa depan dan apa yang harus dilakukan oleh anak-anak yang saat ini sedang dalam tahap belajar. Detail yang dia bicarakan aku lupa, tapi ada kalimat yang dia ucapkan dan sampai saat aku masih ingat. "Masa depanmu ditentukan oleh sikapmu hari ini," begitu seingatku dia berkata.
Aku bersyukur pernah mendengar kalimat itu, walaupun waktu itu tidak mengubah apapun terhadapku, dalam arti tidak lantas aku menjadi rajin belajar, tapi saat aku sudah lebih besar, kalimat itu sering menyadarkan aku untuk kembali fokus terhadap tujuan-tujuan hidupku.
Terima kasih kepala sekolahku, tapi aku lupa kepala sekolah yang mana.:)
Salam
warsa tarsono
Tulisan lain lihat di www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
Rabu, 31 Desember 2008
Booming Media 'Merah' di Tengah Atmosfer Kehidupan Kita

JAKARTA) - Atmosfer kehidupan kita sudah lama dibanjiri koran, majalah maupun tabloid yang mengeksploitasi kekerasan dan pornografi. Sebenarnya sudah banyak pihak yang menyuarakan protes dan keberatan atas kehadiran media-media semacam ini. Namun suara mereka seperti mengisi ruang kosong, tidak ada yang menanggapi apalagi mengambil tindakan untuk menertibkan media-media "merah" yang begitu vulgar mengumbar syahwat dan kekerasan.
Seruan boikot pun tidak begitu ditanggapi, kecuali oleh mereka yang benar-benar sadar dan kritis akan dampak media-media kasar dan porno ini terhadap moral masyarakat. Sepertinya tidak ada satupun kekuatan yang mampu menyensor apalagi mengendalikan kehadiran media-media semacam ini. Apakah kita hanya berdiam diri menontot makin bebas dan vulgarnya media-media "merah" beredar di masyarakat ?
Dampak Kebebasan Pers Dan Aturan Yang Lemah ?
Bahwa kekerasan entah itu tindak kriminal atau kekerasan seksual terjadi di masyarakat, adalah sebuah fakta yang bisa menjadi bahan berita bagi media massa. Berita-berita semacam ini, sebenarnya bisa menjadi kontrol sosial agar masyarakat waspada dengan ancaman kekerasan dan kejahatan. Sepanjang penyajiannya sesuai dengan kaidah jurnalistik dan tidak melanggar etika, tentu tidak jadi masalah.
Persoalannya, media-media tertentu menyajikannnya dalam bentuk yang sangat vulgar baik dalam bentuk gambar maupun gaya penulisan beritanya. Yang tambah memprihatinkan, media-media non-berita yang menjual aurat perempuan juga kian marak dan dijual bebas dengan harga yang murah meriah. Sehingga anak-anak dibawah umur pun bisa membacanya. Sebut saja koran Lampu Merah, tabloid Hot, WOW, Pop, Lipstik dan masih banyak lagi.
Munculnya koran dan tabloid-tabloid semacam itu, merupakan salah satu ekses kebebasan pers di Indonesia yang mulai terbuka pada era reformasi. Pakar di bidang pers yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Pers Atmakusumah ketika dimintai pendapatnya mengungkapkan, tiap kali kebebasan pers dibuka di negara-negara demokrasi, eksesnya pasti ada. Yaitu munculnya media-media baru yang jumlahnya kadang sampai overdosis.
“Overdosis disini maksudnya, akan timbul upaya-upaya kreatif pengelola media pers untuk menciptakan apa saja yang menurut mereka bisa disajikan, karena ada pasar. Jadi ada 2 hal, ekses overdosis dari kebebasan pers, dan kedua karena adanya pasar,” jelas Atmakusumah.
Sedangkan dari sisi undang-undangnya, Atmakusumah menyatakan perangkat undang-undangnya sebenarnya sudah tersedia. Tapi pasal-pasalnya masih banyak yang multi interpretable. Misalnya soal definisi pornografi, “Sampai sekarang dimanapun di dunia tidak ada definisi yang pas untuk pornografi, di tiap kelompok atau tiap bangsa,” tambahnya.
Sementara itu, Warsa Tarsono dari Aliansi Masyarakat Anti Pornografi dan Pornoaksi (AMAPP) cenderung melihat lemahnya pemerintahan kita dalam mengatur munculnya media massa yang bisa menyebabkan terjadinya penyimpangan moral dan etika.
Warsa Tarsono yang pernah membuat hasil pemantauan tentang peredaran tabloid-tabloid pornografi itu menyatakan, peredaran media-media semacam ini, termasuk koran-koran yang dianggap vulgar dalam memberitakan peristiwa kriminal dan kekerasan, sudah dalam taraf yang mengkhawatirkan. Untuk itu, menurut Warsa sudah saatnya dibuat regulasi untuk menertibkan peredaran media-media seperti ini.
Deregulasi macam apa yang sebaiknya dibuat? Pakar pers yang masih mengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo Atmakusumah menyatakan, Dewan Pers pernah mengusulkan sebaiknya dibuat Undang-Undang Distribusi. “Dengan begitu kita tidak terlibat dalam perdebatan misalnya apa itu pornografi, seberapa jauh batasannya. Tapi, pokoknya setiap media apakah media pers atau bukan pers, kalau memang keberadaannya ditentang oleh masyarakat, maka distribusinya atau penjualannya bisa dibatasi,” tukasnya.
Hal ini menurut Atmakusumah dilakukan di berbagai negara, misalnya media-media serupa itu hanya boleh dijual di toko-toko tertentu. Dan di toko tertentu itupun ditempatkan di tempat tertentu, tidak dijual secara terbuka di pinggir jalan. Dengan adanya regulasi semacam ini, kata Atmakusumah, paling tidak kita tidak terjerumus dalam larangan-larangan yang mengandung penafsiran beragam.
Lebih lanjut Atmakusumah mengatakan, dirinya tidak terlalu setuju kalau larangan-larangan muncul kembali, termasuk untuk media-media yang dianggap berisi pornografi dan kekerasan. “Kalau ingin ada pelarangan atau pembatasan yang lebih ketat, kembalikan saja pada hukum dan ajukan ke pengadilan. Putusan hakim nantinya pasti tidak memuaskan bagi sebagian masyarakat,” tandas Atmakusumah.
Kuncinya Ada di Masyarakat Sendiri
Berita kriminal atau kekerasan atau yang berbau pornografi harus diakui mampu menarik perhatian publik, sehingga cukup menguntungkan dari sisi pasar. Tapi jangan lupa, apa yang disajikan media bisa ditiru masyarakat, sesuai fungsi media sebagai penghubung dua kepentingan atau lebih. Tak heran kalau saat ini, media massa sering dituding sebagai salah satu penyebab turunnya moral masyarakat, termasuk remaja. Dan masyarakat konsumen media pun seolah dibuat tak berdaya dengan serangan media-media yang mengumbar kekerasan dan pornografi.
Tapi sebenarnya, masyarakat bukanlah pasien yang tidak berdaya. Mereka dinilai memiliki daya selektivitas dan filter berdasarkan tingkat pendidikan dan pengalamannya. Pertahanan masyarakat sebenarnya lebih kuat dari sekedar bisa menyaring media mana yang layak menurut ukuran mereka. Mereka bisa saja langsung membuang koran yang memang tidak mereka sukai, atau tidak membelinya.
Warsa Tarsono, dari Aliansi Masyarakat Anti Pornografi dan Pornoaksi menyatakan, karena sekarang era kebebasan pers, pada akhirnya tidak ada lembaga yang punya otoritas yang mengatur peredaran media yang berbau pornografi dan kekerasan. Maka gerakan masyarakatlah yang kemudian diharapkan mampu mengontrol media-media semacam itu. “ Pers hanya punya kewajiban etika. Cuma masalahnya jangankan etika yang tidak ada sangsinya, etika yang ada hukumannya saja masih dilanggar,” tegas Warsa.
Gerakan Masyarakat yang makin kuat, dinilainya, menjadi satu-satunya harapan agar bisa mengadukan kekerasan ataupun pornografi di media itu ke pengadilan.
Sementara Atmakusumah berpendapat lain. Kehadiran media-media semacam itu, menurutnya, tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Karena kalau ada media yang dianggap keterlaluan, pengelolanya bisa dipanggil oleh Dewan Pers dan diajak berdiskusi. Kasus semacam ini, lanjutnya, pernah terjadi dengan Harian Rakyat Merdeka yang sering membuat judul-judul yang sensational. Setelah pengelolanya dipanggil dan diajak berdiskusi, akhirnya ada perubahan.
Dari sisi masyarakat, Atmakusumah melihat tidak ada persoalan, karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang heterogen. Menurutnya, harus ada penelitian yang lebih mendalam soal dampak media-media yang mengumbar kekerasan dan pornografi ini bagi masyarakat, sebelum memberikan penilaian bahwa media seperti ini hanya memberi dampak negatif bagi masyarakat.
Lampu Merah Tetap Pertimbangkan Etika
Lampu Merah sering dinilai sebagai media yang terlalu vulgar mengumbar kekerasan dalam berita-berita kriminalnya, baik dari sisi gambar maupun penulisan berita, khususnya judul berita. Namun harus diakui koran ini cukup diterima masyarakat, terbukti oplahnya yang cukup tinggi sekitar 115.000 eksemplar di Jabotabek, bahkan peredarannya sudah meluas ke beberapa daerah di Jawa dan luar Jawa.
Koran yang pertama terbit tanggal 26 November 2001 ini, menurut Redaktur Kriminalnya Tole Sutrisno, memang dikhususkan untuk berita-berita kriminal, dan dulu pernah memasang moto Love, Peace and Friend. Selain berita-berita kriminal, koran ini juga memuat informasi seputar kesehatan dan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan berita-berita olahraga.
“Kita menyajikan berita kriminal tapi tidak menyajikan sesuatu yang ‘ngeri’ gitu. Kita menyajikannya dengan soft,” kata Tole, ketika ditanya soal adanya penilaian miring terhadap koran Lampu Merah. Menurutnya, apa yang disajikan lampu merah baik dalam bentuk foto maupun judul berita tidak menyalahi aturan dan kaidah jurnalistik, karena itu sebagai penegasan berita dan bisa membuat orang tergelitik untuk membaca.
Tole tidak menampik, ada kepentingan bisnis untuk menarik pangsa pasar agar tertarik membeli lampu merah. Apalagi Lampu Merah memang mengambil segmen untuk kalangan bawah, sehingga harus menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana. “Kita sebenarnya menyajikan jurnalistik simpel, bagaimana supaya masyarakat mengerti gitu aja,” ujar Tole.
Lebih lanjut Tole mengungkapkan, pihaknya juga punya kepedulian dengan kepentingan konsumen. Untuk itu, Lampu Merah pernah melakukan audisi dengan MUI, yang justru waktu itu yang dipermasalahkan soal iklan. Selain itu lampu merah juga sering menyisipkan tip untuk pembacanya, misalnya untuk berita yang tidak layak dibaca anak dibawah umur. Pesan-Pesan ini disisipkan dalam bentuk berita, aku Tole Sutrisno pada eramuslim. (lena/sultoni/eramuslim)
Tulisan ini diambil dari Swaramuslim.net








