Tampilkan postingan dengan label yisc al azhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yisc al azhar. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Mei 2012

Nikmati Tantangannya, Nikmati Rasa Bahagianya, Saat ini dan Hari Esok

Sebuah pesan di wall facebook saya meminta mengirim nomor handphone ke inbox-nya. "Kami ingin mengundang Kak Warsa ke acara silaturahmi akbar PAYISC", bunyi pesan sebelumnya. Saya pun mengirimkan nomor saya dan berkomitmen untuk hadir pada acara itu, kalau pengurus PAYISC memang mengundangnya.

Menghadiri undangan silaturahim pengurus PAYISC bagi saya merupakan bentuk apresiasi saya terhadap pengurus PAYISC saat ini. Saya ingin menghargai komitmen mereka menjadi pengurus PAYISC, karena menurut saya itu bukan sesuatu yang mudah. Menjadi pengurus PAYISC berarti dia siap mengorbankan sebagian besar waktu istirahatnya. Berbeda dengan departemen atau lembaga lain di YISC, yang kebanyakan aktivitasnya hanya hari Sabtu atau Minggu. Kalaupun ada tambahan, hanya sesekali, untuk rapat atau sekedar mengkoordinasi. Tidak bermaksud mengecilkan.

Berbeda dengan menjadi pengurus PAYISC. Selain hari Sabtu atau Minggu, aktivitas PAYISC adalah Selasa - Kamis. Walaupun tidak mesti setiap hari datang, tapi pasti diantara hari-hari itu akan sering datang. Ini berarti akan mengambil waktu istirahat, setelah pulang kerja.

Menjadi pengurus PAYISC, berarti juga akan bekerja untuk mencari donatur. Tidak hanya itu, juga bersiap untuk mengeluarkan uang dari kantong sendiri untuk berbagai kegiatan PAYISC. Tidak besar, tapi kemungkinan akan sering.

Menjadi pengurus PAYISC berarti akan berhadapan dengan berbagai tipe anak, baik karakter, kondisi ekonomi, latar belakang keluarga, semangat mengikuti kegiatan, semangat memperbaiki diri dan agretivitas anak-anak. Harus diakui tidak semua adik-adik PAYISC gampang diarahkan. Kadang sering membuat kita emosi, tapi kita harus bisa bersabar, karena mereka anak-anak.

Menjadi pengurus PAYISC berati juga akan menghadapi berbagai tipe pengajar. Diantara mereka kadang sering terjadi kesalahpahaman, dan berarti itu adalah pekerjaan tambahan yang harus diselesaikan. Tidak mudah, karena mereka semua punya peran penting, kalau tidak hati-hati bisa memperuncing konflik diantara mereka.

Masih ada lagi, pengurus juga akan menghadapi berbagai harapan orang tua. Rasa cemburu karena anaknya mendapat perlakuan yang berbeda. Seorang teman berseloroh kepada saya. Mengurus PAYISC seperti mengurus dua anak kembar, sedikit saja memberikan perbedaan, akan menjadi pemicu rasa cemburu diantara keduanya.

Itulah berbagai tantangan yang akan dihadapi oleh pengurus PAYISC, bisa lebih dari itu, kurang rasanya tidak. Saya menyampaikan ini tentu saja tidak untuk menakut-nakuti atau membuat lemah pengurus PAYISC saat ini. Saya hanya ingin menyampaikan tantangannya memang besar. Karena itu saat mendapat undangan saya berkomitmen untung menghadirinya. Sebagai ungkapan apresiasi, sebagai bentuk penghargaan, sebagai bentuk dukungan.

Dan saya rasa itu juga yang dirasakan Fitri Ardani ketua PAYISC periode 1998-1999 dengan Ketua Umum YISC Mba Ferlita Sari. Dia langsung antusias setelah saya sampaikan adanya undangan silaturahim dari pengurus PAYISC. Pesan singkat dia sampaikan untuk pengurus PAYISC saat ini. "Yang harus tetap dipelihara oleh teman-teman adalah istiqomah", ucapnya.

Dan dengar apa yang disampaikan Mba Puri, pengurus PAYISC periode 1996-1997 dengan ketua umum Bang Imaduddin Abdullah. "Sembilan puluh persen pengalaman saya mengurus PAYISC bermanfaat bagi pekerjaan saya", ucapnya menguatkan.

Dan dengar pula pengakuan dari Dety, mantan adik PAYISC. "Saya di PAYISC sejak SD kelas empat sampai SMA kelas dua. Saya merasakan sekali kerja keras, ketulusan dan keikhlasan kakak-kakak pengurus PAYISC. Karena kakak-kakak di PAYISC, saat ini saya bisa kuliah di IPB. Saya pun terinspirasi untuk melakukan hal yang sama saat ini. Mengabdi untuk anak-anak yang kurang mampu. Tadinya ingin mengabdi di PAYISC, tapi karena saat ini saya kos di Bogor, maka saya melakukannya di sana. Bersama teman-teman saya mengajar anak-anak kurang mampu di dekat kampus IPB. Programnya kami sebut Sekolah Bersama Yuk, disingkat SBY", ujarnya.

"Tidak hanya itu, kakak-kakak di PAYISC menjadi role model bagi saya", lanjut Dety. Pengakuan yang membuat saya terharu.

Buat teman-teman pengurus PAYISC saat ini, nikmatilah tantangannya. Nikmati kebahagiaannya, saat ini dan esok, ketika ada pengakuan dari adik-adik, bahwa peran kita sangat berarti buat mereka.

Salam
Wtarsono

NB: Terima kasih untuk Surya Ningsih, Ketua PAYISC saat ini, dan Fauzi, Ketua Umum YISC, untuk perkenalannya yang ramah. Mari ciptakan kebersamaan, untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Baca selengkapnya......

Selasa, 08 Mei 2012

ALUMNI YISC DAN KONTRIBUSINYA BAGI MASYARAKAT

Beberapa hari lagi Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar akan berulang tahun yang ke 41, tepatnya pada 16 Mei 2012. Tujuh tahun lalu saya masih aktif di organisasi pemuda masjid paling tua tersebut. Sejak tidak beraktivitas lagi, saat YISC berulang tahun, saya menerima telepon atau SMS undangan untuk menghadiri syukuran ulang tahunnya. Tapi karena berbagai hal, sering kali saya tidak bisa menghadirinya.

YISC bagi saya memang mempunyai tempat sendiri dalam hidup saya. Di organisasi tersebutlah saya menerima pelajaran dan pengalaman hidup yang memberikan makna buat saya. Saya telah menulis beberapa tulisan tentang hal-hal positif pengalaman berorganisasi di YISC. Menjelang ulang tahun YISC ke 41 ini, saya ingin menuliskan kembali hal-hal positif berkomunitas di YISC. Tapi bukan tentang saya, melainkan tentang aktivitas sosial beberapa alumni lain.

Buat saya, aktivitas alumni ini adalah buah dari berorganisasi, berinteraksi, berkomunitas, bersilaturrahmi dan tentu saja belajar di YISC Al Azhar. Karena dalam berbagai aktivitasnya identitas sebagai mantan aktivis YISC selalu dilontarkan.


RAUDHAH INSTITUTE; UNTUK PENCERAHAN DAN PEMBERDAYAAN
Raudhah Institue adalah lembaga yang dibentuk oleh alumni YISC yang beraktifitas antara tahun 1990 sampai 2006. Raudhah pada mulanya adalah pengajian bulanan alumni YISC. Setelah beberapa tahun berjalan, tercetuslah gagasan bahwa sudah saatnya Raudhah melakukan sesuatu buat masyarakat. Kalau selama ini pengajian untuk diri sendiri, selanjutnya aktivitas Raudhah juga berorientasi untuk masyarakat. Ditambahkanlah namanya menjadi Raudhah Insitute dengan tagline UNTUK PENCERAHAN DAN PEMBERDAYAAN.

Tidak lama setelah perubahan itu Raudhah Institue melakukan aksi sosial. Dengan dikomandani oleh Ferlita Sari, Winarto Rahmat, Endah Lismartini, Preti Prasanti, Nani Basuki, Ahmad Nurcholis, Gunawan, Erna Kusmania dll, segera membuat aksi. Kegiatan pertama adalah Workshop Menjadi Guru Kreatif bagi guru-guru Paud Kecamatan Sawangan, Depok. 4o-an guru-guru di sawangan mendapatkan pelatihan bagaimana menjadi guru kreatif dengan tim trainer dari Ahmad Nurcholis.

Sebulan setelah itu, aksi berikutnya adalah penyuluhan gigi dan gizi sehat. Pada kegiatan ini Raudhah tim memberikan penyuluhan bagaimana merawat gigi dan membuat gizi sehat buat anak. Drg. Wanda Anwar mantan ketua Dept. Pengabdian dan Hubungan Masyarakat (PHM) periode 1998-1999 menjadi penyuluhnya. Sesi penyuluhan gizi sehat diberikan oleh Marina Ahmad, alumni YISC yang saat ini berbisnis bubur sehat. Pengisi acara lainnya adalah Nina Yuliana mantan aktivis PAYISC, mengisi dongeng, dan saya sendiri mengisi Ice Breaking.

Bulan Mei ini Raudhah Institute akan membuat kegiatan di Bogor. Pasca kegiatan ke tiga ini, para alumni YISC ini berencana untuk melakukan Rapat Kerja (Raker) untuk merumuskan aksi-aksi sosialnya secara sistematis dan terencana.

PAUD BUNGA HATI
Paud Bunga Hati adalah sekolah untuk anak-anak usia dini yang didirikan oleh Endah Lismartini, mantan Ketua Lembaga Penerbitan YISC Periode 2000-2001. Saat masuk sebagai anggota YISC Endah adalah seorang jurnalis. Maka kiprahnyapun di YISC di lembaga penerbitan.

Saya kaget saat Endah sudah tidak aktif lagi di YISC dia mendirikan Paud, sebuah lembaga pendidikan. Kaget, karena selama saya berinteraksi dengan Endah, tidak ada tanda-tanda dia konsen terhadap dunia pendidikan. Dalam beberapa kali diskusi, saya menangkap aktivitasnya di YISC inilah yang menumbuhkan jiwa sosial dia. Saat Endah melihat di sekitar tempat tinggalnya banyak anak-anak kecil tidak mendapat pendidikan yang selayaknya, tergeraklah hatinya untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya dia mendirikan Paud untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

SEKOLAH RAKYAT BOGOR
Minggu, 6 Mei yang lalu saya diajak Munawar M. Ali berkunjung ke Yayasan Sekolah Rakyat di Ciawi Bogor. Munawar adalah alumni YISC yang saat aktif menjadi Ketua Lembaga Kajian periode 2002-2003. Saat ini munawar merupakan ketua Yayasan Sekolah Rakyat Bogor, sebuah lembaga yang menaungi 18 Tempat Kegiatan Belajar Mandiri (TKBM). TKBM adalah penyelenggara sekolah terbuka bagi anak-anak kurang mampu. Lembaga yang Munawar pimpin beroperasi untuk wilayah Bogor. Jumlah siswanya mencapai 1300 anak. Semua siswa yang bersekolah di sini tidak dipungut biaya.

Saya diajak Munawar untuk melihat kegiatan yang saat ini sedang diadakan, yaitu Pelatihan Kewirausahaan untuk Pengajar Sekolah Rakyat yang berkerjasama dengan Sekolah Bisnis Prasetiya Mulya. Selama perjalanan, Munawar banyak bercerita tantangan-tantangan yang dia hadapi saat merintis sekolah terbuka 10 tahun lalu. Pernah sekolahnya dianggap sesat oleh kyai setempat karena menambahkan kata yes setelah bersyahadat.

Suatu kali sekolahnya mengadakan kegiatan. Untuk menambah semangat anak-anaknya dibuatlah yel dengan kalimat syahadat. Setelah kalimat Lailahaillallah Muhammadarosulullah ditambahkan kalimat yes sambil mengepalkan tangan dan menariknya ke bawah. Rupanya penambahan kata yes ini dianggak ajaran baru. Hari berikutnya anak-anak yang datang ke sekolahnya hanya dua anak.

Tapi tulisan ini tidak akan membahas itu lebih jauh, mudah-mudahan di kesempatan yang lain. Tulisan ini lebih tentang aksi alumni YISC bagi masyarakat. Dalam konteks itu saya akan bercerita pengalaman saya pada program Pelatihan Kewirausahaan bagi Pengajar Sekolah Rakyat.

Saat saya datang ke tempat acara, saya diperkenalkan Munawar kepada para pengajar dan pengurus yang lain Yayasan Sekolah Rakyat sebagai alumni YISC Al Azhar. Begitupun saat diperkenalkan kepada tim dari Prasetiya Mulya. Dia ulangi saat Munawar memberikan pembukaan. Dengan bangga Munawar memperkenalkan saya dan dirinya sebagai alumni YISC Al Azhar.

Dalam konteks itu saya menangkap bahwa aktivitas sosial dia selama ini baik langsung atau tidak langsung adalah buah interaksi dan beraktivitas di YISC Al Azhar. Saya ingin mengatakan bahwa, baik teman-teman penggerak Raudhah Institute, Endah dan Munawar, aktivitasnya di YISC Al Azhar telah membangun jiwa sosialnya. Dan mereka saat ini menjadi leader pada aksi-aksi sosial di masyarakat.

PENGAJIAN NURUL ISLAM
Pengajian Nurul Islam adalah tempat kegiatan Penyuluhan gigi dan gizi sehat yang diadakan Raudhah Institute beberapa waktu yang lalu. Lembaga ini didirikan dan dipimpin oleh Gunawan, mantan Ketua Pendidikan YISC Al Azhar periode 2002-2003. Gunawan mempunyai suara keras. Saat rapat atau kegiatan di YISC dahulu, saat bicara, kalau yang lain pasti menggunakan mic, tapi Gunawan tidak, karena suaranya sudah seperti suara speaker. Peace Gun :)

Ada kejadian lucu saat kegiatan Raudhah Institue kemarin. Acara akan dimulai, Yayat istrinya Gunawan sebagai MC akan membuka acara. Sudah mengucapkan Assalamu'alaikum dan beberapa kalimat pembuka, tapi ibu-ibu dan anak-anak masih saling bicara, karena suara speakernya tidak terdengar. Saya dan petugas di Musala berusaha membantu memperbaiki. Beberapa waktu kemudian Gunawan menghampiri sambil bertanya kenapa mic-nya, sambil meraih mic yang dipegang Yayat. "Tes tes", ucapnya spontan. "Ini bagus", sambil menyodorkannya kepada Yayat. "Yang ngetes elu, suara lu sudah kayak speaker, ya bagus lah", ucapku protes. "Ah elu Sa", timpalnya sambil menyeringai.

Kembali ke tentang Pengajian Nurul Islam. Lembaga ini didirikan Gunawan sebelum Gunawan aktif di YISC Al Al Azhar. Tapi aktivitasnya di YISC sedikit banyaknya telah membuat lembaganya semakin berkembang. Dalam berbagai kesempatanpun Gunawan pun menyampaikan YISC telah memberinya pengalaman berharga, baik untuk pribadinya maupun untuk jiwa sosialnya. Lebih dari itu, dia mendapatkan istri cantik yang sangat dia cintai. :)

RUMAH BELAJAR DAN KREATIFITAS SAHABAT CAHAYA
Sahabat Cahaya adalah lembaga yang konsen terhadap pengembangan pendidikan. Aktivitas kami adalah penyelenggaraan Play Group (PG) dan Taman Kanak-kanak, Pembelajaran Sains untuk anak-anak Sekolah Dasar (SD), Pelatihan dan Parenthing.

Sahabat Cahaya saat ini sedang mengembangkan metode pembelajaran sains untuk anak usia dini dengan menggunakan empat pendekatan, yaitu bernyanyi, bereksperimen, bermain dan bercerita. Kami kemas ini dalam bentuk workshop untuk guru-guru usia dini. Tim workshop sains Sahabat Cahaya telah mengisi di banyak tempat, di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Terakhir kami mengisi workshop di tiga kota/kabupaten Provinsi Jambi.

Sahabat Cahaya didirikan dan dikelola oleh Heru Widiyanto mantan Ketua Umum YISC periode 2002-2003, Rudi Darmawan dan Saya sendiri mantan ketua Dept. Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat dan Ketua Lembaga PAYISC.

Dalam berbagai kesempatan kami selalu menyampaikan bahwa didirikannya Sahabat Cahaya terinspirasi dan termotivasi karena aktivitas kami di YISC Al Azhar. Ini merupakan pengakuan begitu bermanfaatnya kami berkomunitas di YISC. Baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Itu semua karena di YISC kami menemukan saudara yang tidak mencela karena keburukannya. Sahabat yang mau berbagi walaupun tanpa kelebihan. Kawan yang saling menghargai dengan kelebihan dan kekurangannya. Iman yang tidak saling menyesatkan karena perbedaan.

Semoga kultur itu akan selalu terpelihara, sehingga semakin banyak pemuda-pemuda yang tercerahkan dan selanjutnya melakukan pemberdayaan bagi masyarakatnya. Amin

Wallahualambisawab.

Butuh Mug untuk Promosi, Bingkisan Ultah atau Koleksi Pribadi?

Salam

Warsa Tarsono

Tulisan terkait
1. PAYISC Memaknai Hidupku
2. Pengalaman Beraktivitas di YISC
3. YISC Persinggahan yang Mengasyikkan

Baca selengkapnya......

Senin, 26 Desember 2011

SEBUAH KHABAR BAHAGIA DARI ADIK PAYISC

MENCARI BINGKISAN CANTIK ULTAH ANAK ANDA? KLIK DI SINI
Sebuah pesan muncul di halaman Facebook saya dari seseorang yang bernama Dety Celico. Khabar yang membuat merasa bahagia dan bangga, sebuah sapaan dari mantan adik asuh di Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC) Al Azhar.

Berikut pesannya: "Assalamualaikum Ka Warsa. Masih inget aku engga kak? Ini Deti kak, entah adik PAYISC yang paling apa dulunya. Dulu aku teh tinggalnya di Senayan. Tapi Senayan udah digusur jadi Senayan City. Terus aku pindah ke Sinabung dan Alhamdulillah sekarang di Bogor, soalnya aku kuliah di IPB, sekarang semester 3 jurusan Meteorologi Terapan S1. Kakak apa kabar? Lama juga enggak ketemu Kak Warsa..hehehe."

Spontan pikiranku menerawang mencoba mengingat nama Dety, adik asuh di PAYISC dahulu. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk mengingatnya, karena Dety dahulu anak yang menonjol keseriusannya belajar di PAYISC. Anaknya sedikit pendiam, tidak banyak bicara, tetapi saat diminta untuk menghapal ayat atau surat tertentu dalam Al-Quran, dia salah satu anak yang pertama hafal ayat-ayat atau surat-surat itu.

Dia juga anak yang serius belajar di PAYISC. Sekolahnya pulang jam 5 sore, tapi dia selalu berusaha datang ke pengajian PAYISC yang diadakan setiap pukul 5 sore sampai jam 7 malam. Dia juga selalu mengikuti semua kegiatan PAYISC baik yang rutin maupun kegiatan insidentil. Kalaupun tidak bisa ikut, itu benar-benar karena alasan yang bisa dia pertanggungjawabkan.

Khabar bahwa saat ini dia sedang berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) saya yakin akan menjadi khabar bahagia juga buat para donatur dan pengurus PAYISC yang lain, baik donatur dan pengurus saat ini maupun donatur dan pengurus PAYISC sebelumnya.

Khabar dari Dety menjadi harapan buat saya, semoga selain Dety, adik-adik PAYISC yang lain juga saat ini sedang kuliah. Atau kalau pun tidak, saya berharap mereka bekerja di tempat yang layak, sehingga mereka bisa memperbaiki nasibnya dan nasib keluarnyanya. Semoga.***

Kalau berkenan berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Tks

MUG CANTIK KLIK DI SINI

Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt


Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214

Baca selengkapnya......

Rabu, 23 November 2011

PAYISC, MEMAKNAI HIDUPKU

PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC-2
Saya hentikan langkah, kemudian sejenak saya tarik nafas. Teman saya Atiyah Fitri (Fitri Ardani) yang mengikuti di belakang juga ikut berhenti. Terlihat jalan yang akan saya lalui tergenang air. Di antara genangan air yang menutupi jalan tersebut terlihat ada balok kayu yang bisa ditapaki, sehingga kalau saya berhasil menginjak di balok itu, sepatu dan celana saya tidak akan kotor. Sebelum melangkah saya angkat celana saya, dan mulai menapaki balok-balok itu.

Saat saya mulai melangkah, Fitri juga mengikuti di belakang. Tapi dia tidak perduli dengan genangan air yang menutupi jalan. Dia tidak berusaha menginjakkan kaki di balok-balok itu. Dia tidak pedulikan air dan tanah becek mengenai sepatu dan ujung roknya. Sejenak saya memperhatikannya, dan saya merasa malu sendiri.

Saat itu (1997-1998) Atiyah Fitri adalah ketua Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC ) Al - Azhar. Kami berdua akan mengunjungi rumah salah satu adik PAYISC yang sedang sakit di daerah Cawang. Walaupun akhirnya, rumah yang kami datangi bukan hanya rumah adik PAYISC yang sedang sakit, tapi beberapa rumah adik PAYISC yang lainnya. Karena ada beberapa adik PAYISC yang tinggal di daerah Cawang. Sekalian saja kami silaturrahmi dengan keluarga-keluarga adik PAYISC .

Periode itu adik PAYISC banyak tersebar di beberapa daerah. Ada di Senopati, Senayan, Sinabung, Hang Jebat dan Cawang. Cawang adalah tempat terjauh dari adik-adik PAYISC. Selain itu adik-addik PAYISC yang berasal dari Cawang kondisi ekonominya
lebih rendah. Anak-anaknya juga lebih minder dibanding adik-adik PAYISC dari daerah lain.

Mengenaskan! Ucap saya dalam hati saat sampai di rumah adik PAYISC tersebut. Dinding terbuat dari triplek yang sudah lapuk, dan di dindingnya terlihat kotoran air banjir yang sering menerpa daerah itu. Rumahnya tingkat, tapi keluarga itu hanya mengontrak ruangan bawah. Besar ruangan sekitar 2.5 x 3 meter, dihuni oleh satu keluarga yang berjumlah lima, dua orang tua dan tiga anak. Sayangnya saya lupa nama adik PAYISC itu.

"Kalau banjir airnya sampai sana," ucap ibunya adik PAYISC sambil menunjuk bekas lumpur yang masih menempel. Kalau melihat bekasnya, saat banjir kontrakkan dia semua kemasukkan air. Karena bekas kotoran lumpur yang dia tunjuk adalah bagian teratas dari dinding tersebut. "Terima kasih sudah mau datang ke gubuk kami, inimah bukan rumah tapi gubuk" ucap tuan rumah menyambut kami.

PAYISC adalah salah satu lembaga di Youth Islamic Study Club (YISC ) Al - Azhar. Lembaga yang membidangi pembinaan anak-anak dari kalangan tidak mampu. Secara struktur, semula PAYISC berada di Departemen Hubungan Masyarakat (PHM). Tapi pada Musyawarah Lengkap (Musleng) 1995, diputuskan menjadi Lembaga dan diberikan hak kelola mandiri baik secara program maupun pendanaan. Karena sejarahnya, saat Rohman terpilih menjadi Ketua Umum, ada suara yang ingin mengubah PAYISC tidak menjadi lembaga lagi. Saya sampaikan waktu itu, kalau mau mengubah status kelembagaan PAYISC , harus di Musleng, Ketua Umum tidak mempunyai hak untuk itu!

Saya terlibat di PAYISC saat memasuki semester ke dua aktif di YISC. Tapi tidak sebagai pengurus, hanya membantu saat ada event-event tertentu, atau sesekali mengajar. Termasuk pada periode 1996-1997, saat Fitri menjadi Ketua PAYISC . Mulai intens terlibat di PAYISC pada semester akhir periode kepengurusan dengan Ketua Umum Heru Widiyanto. Pada periode berikutnya saya menjadi ketua PAYISC .

Buat saya aktif di PAYISC, baik saat hanya membantu maupun saat menjadi ketua telah memberikan makna buat hidup saya. Makna yang membuat saya merasa bahagia. Makna yang membuat hidup saya berarti.

Dua tahun saya sebagai ketua. Saya berinteraksi dengan adik-adik dari kalangan tidak mampu dengan segala problema yang mereka hadapi. Mereka berhadapan dengan segala keterbatasan untuk memperoleh pendidikan, pengajaran yang baik, motivasi hidup yang rendah dan tentu saja keadaan lingkungan yang keras. Beberapa adik-adik PAYISC saat itu adalah pengamen dan pengojek payung. Dengan semua itu membuat saya bersyukur, bahwa sebagian keterbatasan mereka tidak saya hadapi.

Selain itu, aktif di PAYISC membuat saya belajar. Belajar cara mensyukuri hidup, cara menghadapi anak-anak, dan cara mengorganisasi program dan pendanaan untuk aktifitas sosial.

Semua pengalaman itu tidak saya lupakan. Semua pengalaman itu membuat saya bahagia. Bukan karena saya telah memberikan sesuatu, tapi karena saya mendapatkan sesuatu.

Tulisan lain:
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Berbagi Pengalaman Beraktifitas di YISC-1
Saat Endah Memilih Panggilan Jiwanya


Terima Kasih

Warsa Tarsono
wtarsono@yahoo.com
0818 995 214

Baca selengkapnya......

Jumat, 04 November 2011

BERBAGI PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC- 1

Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang singkat, tapi selama itulah waktu yang saya habiskan beraktifitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Banyak teman bertanya, kok betah banget di YISC, emang ada apa di sana? Mendapat pertanyaan itu sering kali saya tidak bisa langsung menjawabnya. "Terlalu panjang untuk dijelaskan, perlu dua atau tiga harilah baru tuntas," dengan nada bercanda. "Masa sih?" jawab teman tersebut dengan nada tidak percaya. "Kalau tidak percaya, masuk saja sendiri," timpalku. Pertanyaan itupun sampai saat ini tak pernah saya jawab.

Bukan apa-apa, karena, jujur sebenarnya sayapun tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Kalaupun ada jawaban singkat seperti; menambah teman, wawasan,ilmu agama dan belajar berorganisasi tidak lah cukup menggambarkan suasana bathin saya.

Dulu, waktu aktif di YISC beberapa tanggung jawab dipercayakan ke saya. Tahun-tahun awal saya diajak aktif di Berita YISC dan Lembaga Penerbitan. Periode berikutnya menangani kajian-kajian filsafat Islam. Setelah itu diberikan kepercayaan untuk memimpin Ketua Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (P2M), kemudian juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Dinamika Organisasi (MDO). Terakhir diberikan amanah untuk memimpin Lembaga Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC).

Dengan banyaknya tanggungjawab yang saya pegang, sayapun menjadi banyak belajar dari semua proses melaksanakan amanah-amanah tersebut. Dan itu memberikan pengalaman bathin yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini. Dalam banyak hal, pengalaman-pengalaman tersebut bermanfaat bagi saya, baik di dunia kerja maupun di lingkungan keseharian saya. Di samping, tentu saja suasana pertemanan, persahabatan dan persaudaraan yang tanpa pamrih, yang semakin membuat saya betah.

Walaupun mungkin tidak semua pengalaman bathin tersebut bisa dituangkan, saya mencoba untuk menuliskannya. Sekedar untuk berbagi.

Tahun pertama di YISC, lebih banyak saya melewatinya dengan belajar, tapi jangan diartikan saya serius belajar dalam arti sebenarnya. Saya cuma ingin mengatakan, saya belum aktif sebagai pengurus. Aktivitasnya hanya mengikuti berbagai agenda pendidikan di YISC. Setiap minggu saya mengikuti kuliah kelas, forum-forum kajian yang diadakan di internal YISC, seperti Forum Cinta Ilmu, Forum Dialog Dialog dan bedah buku. Sesekali senior mengajak saya datang ke seminar-seminar yang diadakan oleh organisasi lain. Dalam konteks itulah saya katakan melewati hanya dengan belajar.

Dalam proses belajar tersebut saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang agama dan keberagamaan. Itu memberi banyak arti bagi kehidupan saya, bagi keberagamaan saya.

Tahun ke dua saya mulai terlibat di kepengurusan, saya diajak Mas Buni Yani menjadi reporter Berita YISC. Hal baru buat saya, dan waktu itu saya juga tidak tahu alasan apa yang membuat Mas Buni merekrut saya. Saya tidak punya latar belakang pendidikan sebagai jurnalis, saya juga tidak punya pengalaman menulis. Ketika saya sampaikan itu ke Mas Buni, Mas Buni mengatakan, "Ya nanti kita adakan pelatihan," ujarnya singkat.

Akhirnya saya menerimanya, tidak lama kemudian diadakan pelatihan jurnalisme, dengan trainer Mas Buni sendiri, yang memang seorang jurnalis. Saat itu dia bekerja sebagai wartawan di Tempo Interaktif. Sebuah media online, jelmaan dari Majalah Tempo yang saat itu masih di bredel.

Dalam pelatihan tersebut saya dikenalkan konsep lima W (What, Why, When, Who,Where) dan 1 H (How), dan angel berita. Dua konsep yang buat saya benar-benar hal baru. Dengan berbekal pelatihan tersebut saya memulai berprofesi sebagai "wartawan", walaupun sebatas wartawan lokal.

Keterlibatan di Berita YISC itulah yang membuat saya bisa menulis. Dengan kemampuan tersebut saya pernah bekerja di Jurnal Media Watch The Habibie Center, sebuah jurnal untuk memantau dan mengkritisi isi media, juga sebagai wartawan beneran di Majalah Madina.

Dari pengalaman ini saja saya merasa sudah tergambar betapa tidak bisa disederhanakan jawaban atas pertanyaan dari teman-teman saya di atas. Saya mengalami sebuah proses "pendidikan" dari aktivitas saya, dan itu ternyata mewarnai hidup saya sampai saat ini. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin terlupakan.

Pengalaman selanjutnya akan saya tuangkan pada tulisan berikutnya. Secara khusus juga saya akan menulis tentang orang-orang yang berjasa terhadap saya selama beraktivitas di YISC. Tentu saja salah satunya adalah Mas Buni Yani, yang saat ini sedang study di Belanda.

Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt



Tulisan ini bisa di share ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logonya di bawah tulisan ini.

Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214

Baca selengkapnya......

Selasa, 19 Januari 2010

Buku Kompilasi dan Facebook


Buat aktivis Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar antara tahun 1997 sampai awal 2000an, kenal sekali dengan Buku Kompilasi. Terutama aktivis yang sering 'mangkal' di sekretariat. Buku berukuran folio, berisi berbagai celoteh pikir civitas YISC, dari yang serius sampai yang hanya berupa ungkapan kekesalan, atau pesan kepada teman lainnya di YISC.

Banyak juga teman-teman yang menulis puisi di buku itu, baik puisi cinta atau apapun. Sebagain teman yang lain ada juga yang gemar menulis syair-syair lagu dengan atau tanpa kord.

Hampir setiap civitas saat datang ke sekretariat yang pertama ditanya adalah buku kompilasi. Setelah menemukannya dia bisa hanya sekedar membaca, menulis apapun yang dia pikirkan saat itu, juga bisa mengomentari tulisan yang ada. Satu pesan atau tulisan bisa dikomentari oleh banyak orang.

Buku itu sering juga menjadi sarana klarifikasi teman-teman, ataupun sindiran-sindiran. Tak jarang kadang tulisan di kompilasi menjadi pemicu kesalahpahaman.

Pernah salah seorang pengurus menulis pesan, "sekretariat bau". Tulisan itu kemudian menjadi bola panas di sekretariat. Civitas yang sering menginap di sana tersindir, merasa dia sebagai penyebabnya. Bebagai komentar bermunculan, baik yang sepakat maupun yang tidak.

Pernah juga buku kompilasi yang masih kosong tiba-tiba menghilang, terjadilah kehebohan, menduga-duga siapa yang mengambil buku tersebut. Siapa yang sedang berkonflik dan merasa tersindir oleh tulisan di dalam buku itu menjadi 'tersangka' utamanya.

Walaupun terjadi efek-efek seperti itu, keberadaan Buku Kompilasi tetap lah positif. Berbagai gagasan sering muncul karena ada sarana untuk menuangkannya. Komunikasi menjadi terbuka dan asyik. Banyak teman mempunyai inisial yang sampai saat ini masih dikenal. Ada yang mempunyai nama brokoli, bawang merah dll. Yang paling menonjol dalam hal inisial ini adalah teman-teman yang menyebut kelompoknya bumbu dapur.

Bumbu dapur dan teman-teman yang lainnya saling berinteraksi di Buku Kompilasi. Terjadilah dinamika komunikasi yang mengasyikkan. Saling menuangkan pikirannya, curhatnya dan saling berkomentar. Ada tawa, ada canda yang membuat semakin indah kebersamaan.

Mungkin suasana seperti itulah yang saat ini kita rasakan dengan adanya Facebook. Menurutku ada beberapa sisi persamaan antara Facebook dan Buku Kompilasi. Saat ini kita di facebook membuat status dengan apapun yang ada dalam pikiran kita. Bisa rasa sedih, gembira, atau menuliskan suatu gagasan yang ingin di sharing. Di buku kompilasi kita bisa melakukan itu semua. Kita ingat tulisan Suwitno yang sering panjang-panjang, mungkin di facebook saat ini kita sebutnya menjadi note (catatan).

Ungkapan-ungkapan spontan di Buku Kompilasi, di Facebook menjadi status. Informasi lowongan pekerjaan di Buku Kompilasi, di Facebook agak mirip dengan link (tautan), dan lain-lain.

Buat saya, Buku Kompilasi masih terasa indah, facebook sedang merasakan keindahan. :D.

Saya yakin kita lebih dulu yang merasakan sesuatu yang dirasakan oleh pengguna FB saat ini.

Saya menunggu komentar, tanggapan atau kenangan tentang buku kompilasi. Mudah-mudahan bisa menumbuhkan kembali semangat persaudaraan yang dulu kita rasakan bersama. Saya sendiri saking berjubelnya kenangan terhadap Buku Kompilasi, agak kaweur menuangkannya. Silahkan teman-teman...........

NB: Buku kompilasi digagas oleh Wahyudi Palwono atau dikenal dengan Uginx. Uginx menikah dengan Teh Euis Fauziah mantan ketua pendidikan saat ketua umumnya Mba Ferly.

Salam

Warsa Tarsono

Baca selengkapnya......