Tampilkan postingan dengan label al-azhar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-azhar. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Desember 2011

SEBUAH KHABAR BAHAGIA DARI ADIK PAYISC

MENCARI BINGKISAN CANTIK ULTAH ANAK ANDA? KLIK DI SINI
Sebuah pesan muncul di halaman Facebook saya dari seseorang yang bernama Dety Celico. Khabar yang membuat merasa bahagia dan bangga, sebuah sapaan dari mantan adik asuh di Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC) Al Azhar.

Berikut pesannya: "Assalamualaikum Ka Warsa. Masih inget aku engga kak? Ini Deti kak, entah adik PAYISC yang paling apa dulunya. Dulu aku teh tinggalnya di Senayan. Tapi Senayan udah digusur jadi Senayan City. Terus aku pindah ke Sinabung dan Alhamdulillah sekarang di Bogor, soalnya aku kuliah di IPB, sekarang semester 3 jurusan Meteorologi Terapan S1. Kakak apa kabar? Lama juga enggak ketemu Kak Warsa..hehehe."

Spontan pikiranku menerawang mencoba mengingat nama Dety, adik asuh di PAYISC dahulu. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk mengingatnya, karena Dety dahulu anak yang menonjol keseriusannya belajar di PAYISC. Anaknya sedikit pendiam, tidak banyak bicara, tetapi saat diminta untuk menghapal ayat atau surat tertentu dalam Al-Quran, dia salah satu anak yang pertama hafal ayat-ayat atau surat-surat itu.

Dia juga anak yang serius belajar di PAYISC. Sekolahnya pulang jam 5 sore, tapi dia selalu berusaha datang ke pengajian PAYISC yang diadakan setiap pukul 5 sore sampai jam 7 malam. Dia juga selalu mengikuti semua kegiatan PAYISC baik yang rutin maupun kegiatan insidentil. Kalaupun tidak bisa ikut, itu benar-benar karena alasan yang bisa dia pertanggungjawabkan.

Khabar bahwa saat ini dia sedang berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) saya yakin akan menjadi khabar bahagia juga buat para donatur dan pengurus PAYISC yang lain, baik donatur dan pengurus saat ini maupun donatur dan pengurus PAYISC sebelumnya.

Khabar dari Dety menjadi harapan buat saya, semoga selain Dety, adik-adik PAYISC yang lain juga saat ini sedang kuliah. Atau kalau pun tidak, saya berharap mereka bekerja di tempat yang layak, sehingga mereka bisa memperbaiki nasibnya dan nasib keluarnyanya. Semoga.***

Kalau berkenan berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Tks

MUG CANTIK KLIK DI SINI

Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt


Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214

Baca selengkapnya......

Senin, 10 Agustus 2009

Tafsir Buya Hamka-pun Terpinggirkan


Sepuluh tahun bahkan lebih beraktiivitas di YISC Al Azhar, saya akui telah banyak merubah cara pandang saya terhadap berbagai hal. Dari seorang yang tidak banyak berinteraksi dengan berbagai wacana Islam, menjadi ngeh dan bahkan saat ini bekerja sebagai wartawan di majalah Islam. Saya yakin saya tidak sendiri, ada banyak teman-teman yang lain yang mempunyai latarbelakang yang sama, dan kemudian mendapat pencerahan di YISC Al Azhar.

Bukan hanya wawasan keislaman yang saya dapat, juga tentang bagaimana berorganisasi. Pengalaman yang paling berkesan saat tahun pertama di YISC adalah saat Musyawarah Lengkap (Musleng). Pengalaman baru buat saya mengikuti perdebatan untuk merumuskan kaidah-kaidah dan arah perjuangan organisasi. Banyak perdebatan, banyak interupsi diselingi lontaran-lontaran lucu dari para peserta.

Tentu saja, sebagai anak baru yang tidak banyak tahu tentang organisasi dan dinamikanya, saya hanya jadi pendengar, sambil sesekali mengacungkan tangan ketika keputusan harus dilakukan dengan voting.

Saya menikmati dinamika itu dan saya bangga menjadi peserta Musleng. Saking bangganya materi-materi (rumusan KD/KRT) Musleng saya bawa-bawa terus saat istirahat dan name tage tanda peserta musleng saya pakai terus. Saya copot saat pulang ke rumah.

Suasana yang sangat saya nikmati tentu saja adalah atmosfir perdebatan dalam Musleng tersebut. Sering kali perbedaan itu menajam dan masing-masing pendukung gagasan mempunyai argumen untuk mempertahankannya. Sesekali diantara mereka ada yang ngotot, tetapi kengototan mereka ternyata hanya di forum. Dan tentu saja tidak ada intimidasi, apalagi intimidasi ideologis. Tidak ada teriakan-teriakan Allahu Akbar saat berbeda pendapat. Tidak ada klaim bahwa rumusan saya lebih Islami, sementara yang lainnya tidak. Walaupun ada seorang peserta yang tiba-tiba interupsi dan mengajak semua beristigfar.

Saya rasakan suasana seperti itu sampai Musleng 2004. Berbeda dengan dua Musleng terakhir yang saya ikuti. Ada calon ketua umum yang menyatakan bahwa pencalonannya dalam rangka untuk membersihkan YISC dari musuh-musuh Islam. Ada kelompok yang bersujud syukur saat calonnya terpilih menjadi ketua. Ada teriakan Allahu Akbar saat berbeda pendapat, seolah yang berbeda itu musuh Islam. Suasananya seperti ada "pertarungan", suasananya seperti ada persaingan ideologis.

Di Musleng terakhir (2007) yang saya ikuti, ada kesedihan yang sampai saat ini masih membekas. Yaitu teranulirnya Tafsir Buya Hamka sebagai rujukan utama dalam arah kebijakan program pendidikan. Saya tidak bisa menerka alasan lebih jauh mengapa tafsir Buya Hamka dianulir. Tapi memang menjadikan tafsir Buya Hamka sebagai rujukan utama sangatlah "berisiko".

Itu berarti kita akan menerima pernikahan beda agama yang direstui oleh Buya Hamka. Berarti juga kita akan mengharamkan poligami, padahal Buya Hamka pasti tahu bahwa poligami adalah "syariat" Islam. Menerima gagasan menjadi Indonesia adalah menjadi Islam, tanpa harus memaksakan "bersyariat" atau bernegara Islam. Sebuah cara pandang yang dianggap sekuler oleh kalangan tertentu.

Keterbukaan pemikirannya membuat Buya Hamka menganggap Soekarno tetap sebagai muslim, dan berkenan menjadi imam shalat jenazahnya, walaupun Hamka tahu bahwa Soekarno adalah penggagas Nasakom. Bersedia menikahkan anaknya Pramudya Ananta Toer (Pram), walau tahu Pram adalah tokoh PKI.

Masihkah gagasan-gagasan ini akan dilestarikan oleh sivitas dan pengurus YISC saat ini? Atau tetap meminggirkannya. Dipinggirkan oleh Organisasi yang direstui, dibina dan dibanggakan oleh Buya Hamka.

Salam,

wtarsono

Baca selengkapnya......