![]() |
| Raudah Institute, Lembaga Alumni YISC |
Baca selengkapnya......
![]() |
| Raudah Institute, Lembaga Alumni YISC |
MENCARI BINGKISAN CANTIK ULTAH ANAK ANDA? KLIK DI SINI
Sebuah pesan muncul di halaman Facebook saya dari seseorang yang bernama Dety Celico. Khabar yang membuat merasa bahagia dan bangga, sebuah sapaan dari mantan adik asuh di Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC) Al Azhar.
Berikut pesannya: "Assalamualaikum Ka Warsa. Masih inget aku engga kak? Ini Deti kak, entah adik PAYISC yang paling apa dulunya. Dulu aku teh tinggalnya di Senayan. Tapi Senayan udah digusur jadi Senayan City. Terus aku pindah ke Sinabung dan Alhamdulillah sekarang di Bogor, soalnya aku kuliah di IPB, sekarang semester 3 jurusan Meteorologi Terapan S1. Kakak apa kabar? Lama juga enggak ketemu Kak Warsa..hehehe."
Spontan pikiranku menerawang mencoba mengingat nama Dety, adik asuh di PAYISC dahulu. Tidak diperlukan waktu yang lama untuk mengingatnya, karena Dety dahulu anak yang menonjol keseriusannya belajar di PAYISC. Anaknya sedikit pendiam, tidak banyak bicara, tetapi saat diminta untuk menghapal ayat atau surat tertentu dalam Al-Quran, dia salah satu anak yang pertama hafal ayat-ayat atau surat-surat itu.
Dia juga anak yang serius belajar di PAYISC. Sekolahnya pulang jam 5 sore, tapi dia selalu berusaha datang ke pengajian PAYISC yang diadakan setiap pukul 5 sore sampai jam 7 malam. Dia juga selalu mengikuti semua kegiatan PAYISC baik yang rutin maupun kegiatan insidentil. Kalaupun tidak bisa ikut, itu benar-benar karena alasan yang bisa dia pertanggungjawabkan.
Khabar bahwa saat ini dia sedang berkuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB) saya yakin akan menjadi khabar bahagia juga buat para donatur dan pengurus PAYISC yang lain, baik donatur dan pengurus saat ini maupun donatur dan pengurus PAYISC sebelumnya.
Khabar dari Dety menjadi harapan buat saya, semoga selain Dety, adik-adik PAYISC yang lain juga saat ini sedang kuliah. Atau kalau pun tidak, saya berharap mereka bekerja di tempat yang layak, sehingga mereka bisa memperbaiki nasibnya dan nasib keluarnyanya. Semoga.***
Kalau berkenan berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Tks
MUG CANTIK KLIK DI SINI
Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
Sepuluh tahun, bukanlah waktu yang singkat, tapi selama itulah waktu yang saya habiskan beraktifitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar. Banyak teman bertanya, kok betah banget di YISC, emang ada apa di sana? Mendapat pertanyaan itu sering kali saya tidak bisa langsung menjawabnya. "Terlalu panjang untuk dijelaskan, perlu dua atau tiga harilah baru tuntas," dengan nada bercanda. "Masa sih?" jawab teman tersebut dengan nada tidak percaya. "Kalau tidak percaya, masuk saja sendiri," timpalku. Pertanyaan itupun sampai saat ini tak pernah saya jawab.
Bukan apa-apa, karena, jujur sebenarnya sayapun tak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Kalaupun ada jawaban singkat seperti; menambah teman, wawasan,ilmu agama dan belajar berorganisasi tidak lah cukup menggambarkan suasana bathin saya.
Dulu, waktu aktif di YISC beberapa tanggung jawab dipercayakan ke saya. Tahun-tahun awal saya diajak aktif di Berita YISC dan Lembaga Penerbitan. Periode berikutnya menangani kajian-kajian filsafat Islam. Setelah itu diberikan kepercayaan untuk memimpin Ketua Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (P2M), kemudian juga pernah duduk sebagai anggota Majelis Dinamika Organisasi (MDO). Terakhir diberikan amanah untuk memimpin Lembaga Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC).
Dengan banyaknya tanggungjawab yang saya pegang, sayapun menjadi banyak belajar dari semua proses melaksanakan amanah-amanah tersebut. Dan itu memberikan pengalaman bathin yang tidak bisa dilupakan sampai saat ini. Dalam banyak hal, pengalaman-pengalaman tersebut bermanfaat bagi saya, baik di dunia kerja maupun di lingkungan keseharian saya. Di samping, tentu saja suasana pertemanan, persahabatan dan persaudaraan yang tanpa pamrih, yang semakin membuat saya betah.
Walaupun mungkin tidak semua pengalaman bathin tersebut bisa dituangkan, saya mencoba untuk menuliskannya. Sekedar untuk berbagi.
Tahun pertama di YISC, lebih banyak saya melewatinya dengan belajar, tapi jangan diartikan saya serius belajar dalam arti sebenarnya. Saya cuma ingin mengatakan, saya belum aktif sebagai pengurus. Aktivitasnya hanya mengikuti berbagai agenda pendidikan di YISC. Setiap minggu saya mengikuti kuliah kelas, forum-forum kajian yang diadakan di internal YISC, seperti Forum Cinta Ilmu, Forum Dialog Dialog dan bedah buku. Sesekali senior mengajak saya datang ke seminar-seminar yang diadakan oleh organisasi lain. Dalam konteks itulah saya katakan melewati hanya dengan belajar.
Dalam proses belajar tersebut saya mendapat banyak pengetahuan baru tentang agama dan keberagamaan. Itu memberi banyak arti bagi kehidupan saya, bagi keberagamaan saya.
Tahun ke dua saya mulai terlibat di kepengurusan, saya diajak Mas Buni Yani menjadi reporter Berita YISC. Hal baru buat saya, dan waktu itu saya juga tidak tahu alasan apa yang membuat Mas Buni merekrut saya. Saya tidak punya latar belakang pendidikan sebagai jurnalis, saya juga tidak punya pengalaman menulis. Ketika saya sampaikan itu ke Mas Buni, Mas Buni mengatakan, "Ya nanti kita adakan pelatihan," ujarnya singkat.
Akhirnya saya menerimanya, tidak lama kemudian diadakan pelatihan jurnalisme, dengan trainer Mas Buni sendiri, yang memang seorang jurnalis. Saat itu dia bekerja sebagai wartawan di Tempo Interaktif. Sebuah media online, jelmaan dari Majalah Tempo yang saat itu masih di bredel.
Dalam pelatihan tersebut saya dikenalkan konsep lima W (What, Why, When, Who,Where) dan 1 H (How), dan angel berita. Dua konsep yang buat saya benar-benar hal baru. Dengan berbekal pelatihan tersebut saya memulai berprofesi sebagai "wartawan", walaupun sebatas wartawan lokal.
Keterlibatan di Berita YISC itulah yang membuat saya bisa menulis. Dengan kemampuan tersebut saya pernah bekerja di Jurnal Media Watch The Habibie Center, sebuah jurnal untuk memantau dan mengkritisi isi media, juga sebagai wartawan beneran di Majalah Madina.
Dari pengalaman ini saja saya merasa sudah tergambar betapa tidak bisa disederhanakan jawaban atas pertanyaan dari teman-teman saya di atas. Saya mengalami sebuah proses "pendidikan" dari aktivitas saya, dan itu ternyata mewarnai hidup saya sampai saat ini. Sebuah pengalaman yang tidak mungkin terlupakan.
Pengalaman selanjutnya akan saya tuangkan pada tulisan berikutnya. Secara khusus juga saya akan menulis tentang orang-orang yang berjasa terhadap saya selama beraktivitas di YISC. Tentu saja salah satunya adalah Mas Buni Yani, yang saat ini sedang study di Belanda.
Tulisan lain:
PAYISC Memaknai Hidupku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt
Tulisan ini bisa di share ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logonya di bawah tulisan ini.
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
Masjid Agung Al Azhar
Salah satu babak dalam perjalanan hidup yang aku nikmati adalah saat beraktivitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al- Azhar. Bukan saja karena mendapat pencerahan terhadap hidup dan makna kehidupan, tapi lebih dari sekedar itu. Suasana persahabatan, pertemanan dan persaudaraan yang tidak tersekat oleh tembok-tembok status sosial, atau apapun.
Tapi dalam tulisan ini aku tidak akan menulis itu (Kayaknya serius banget), tapi berbagai suasana yang aku ingat saat itu sering membuat geeerrr, tertawa bersama dan kadang sampai tertawa ngakak. Bisa juga hanya seulas senyum simpul, tapi maknanya daleeemmmm. Hehehe
Pasti teman-teman sepakat, kata rapat adalah kata yang paling akrab diantara sivitas, ya semua karena jika aktif di YISC berarti dia akan menjalani berbagai rapat yang kadang-kadang tak ada henti-hentinya. Apalagi saat hari Minggu, bisa empat sampai lima kelompok beberapa orang duduk melingkar di Taman Firdaus. Semuanya sedang rapat! Bahkan menjelang bulan Ramadhan bisa lebih dari lima kelompok.
Setelah Dzukur, seolah saling berebut, mereka mengambil posisi. Di taman yang sering kali becek setelah hujan dan kering kerontang saat musim kemarau. Tapi semua civitas betah rapat dan bersantai ria di sana. Taman firdaus, membayangkannya akan membuat kita tersenyum sendiri. :)
Kembali ke cerita tentang rapat. Saking seringnya sivitas rapat, Wahyudi Palwono yang dikenal dengan panggilan Uginx, membuat gambar ilustrasi di buku kompilasi yang membuat sivitas tersenyum simpul. Uginx menggambar sebuah pintu, dibagian gambar pintu itu tertulis TUTUP PINTU DENGAN RAPAT. Jadi tutup pintu saja harus dengan RAPAT!!!! Hehehehe
Saat rapat, terutama rapat-rapat yang besar seperti Rapat Evaluasi, Rapat Kerja dan Musyawarah Lengkap, diantara kereriusan membahas berbagai program dan rumusan peraturan organisasi, terselip berbagai gurauan atau pernyataan bahkan celaan yang membuat kami semua geeerrr tertawa. Tapi asyiknya, setiap orang yang menjadi korban celaan, tidak pernah marah, mereka justru menjadi marah kalau program kerja yang mereka buat tidak disetujui. RUARRRR BIASA hehehehe MULIA BANGETTTS! Berikut beberapa peristiwa rapat yang masih aku ingat.
Saat itu rapat kerja baru akan dimulai. Sang Sekum Heru Widiyanto baru saja membuka rapat, sebuah interupsi langsung muncul. Aku lupa siapa yang interupsi waktu itu. Dengan serius dia berkata: “YISC itu lembaga independent, jadi tidak etis kalau diantara kita mengenakan baju partai, jadi saya harap rapat resmi kita harus bersih dari unsure-unsur kampanye partai,” ucapnya lugas.
Kami saling pandang, karena tidak tahu siapa yang dia maksud, sampai akhirnya semua mata tertuju pada Gunawan, AaGun panggilan akrabnya. Terjadilah perdebatan yang sengit. Ada yang mendukung, ada juga yang berpendapat, masalah seperti itu ajah kok dipikirin. Tapi tetap saja perdebatan dilanjutkan, sampai akhirnya Gunawan tunjuk tangan dan memulai bicarta: “Ya sudah, daripada rapat menjadi berlarut-larut, saya yang ngalah dechhh, saya akan ganti baju,” ujarnya singkat. Setelah sekitar setengah jam berdebat. Gubrakkk!!!
Di rapat yang berbeda ada persitiwa yang membuatku tertawa, masih rapat kerja juga. Waktu itu Ahmad Masun (AMGD) baru saja mempresentasikan program humas yang pimpin. Ahmad Nurcholis langsung memberikan tanggapan dan kritik terhadap program yang dibuat AMGD. Kritik-kritik yang tajam, tapi dengan kemampuan bicara C’Nur, kritik yang tajam itu menjadi geerrrr, semua peserta dibuat ketawa.
AMGD menanggapi dengan gaya bicara yang khas dari dia. Salah satu kekhasan AMGD, kalau dia bicara selalu saja bisa menemukan kata yang mempunyai huruf yang sama diakhir kalimatnya.
“Terima kasih pada C’Nur yang telah memberikan masukan yang lugas, cerdas dan trengginas. Saya tahu memang C Nur ini seorang yang kritis, dinamis juga romantis, jadi kita semua bias tertawa kalau dia bicara. Tapi sebelum saya menanggapi, saya minta kepada C’Nur untuk membuka mata dulu,”.
Kami tidak tahu maksdunya AMGD berkata begitu, karena C Nur baru saja bicara enggak mungkin dia ngantuk atau tertidur. Mata kami tertuju kepada C Nur. Kami baru sadar kalau ternyata mata C Nur rada-rada sipit, jadi terlihat menutup mata. Spontan setelah kami menyadari itu kami semua tertawa. Hahahahaha.
Satu lagi peristiwa lucu yang masih aku ingat adalah saat Musleng tahun 95, saat terpilihnya Bang Imaduddin Abdullah sebagai Ketua Umum YISC.
Saat itu memasuki pembahasan tatacara pencalonan ketua umum. Walaupun setiap Musleng sudah ada ketentuan sebelumnya, tapi tetap saja selalu ada perdebatan untuk merumuskannya. Saat itu ada usulan dari salah satu peserta Musleng. Dia mengusulkan bahwa siapa saja yang berniat untuk menjadi ketua umum untuk mengajukan diri secara langsung, untuk melihat kesungguhannya.
Bang Juarsyah mengacungkan tangan, dia tidak setuju terhadap usulan itu. “Budaya kita kan tidak biasa dengan itu, mungkin kalau dia yang mengajukan sendiri dia akan malu, jadi menurut saya kita harus menghormati KEMALUANNYA,” GEEERRRRR, peserta musleng tertawa. Tapi Bang Juarsya belum sadar, beberapa saat kemudian diapun itu tertawa dan berkata: “Rasa malunya maksud saya.” Tapi peserta sudah terlanjur tertawa, dan tidak mendengar klarifikasinya.
Itulah cerita-cerita yang masih aku ingat, masih ada beberapa tapi nanti tulisannya kepanjangan. Silahkan teman-teman yang lain juga bercerita. Hehehehe
Terima Kasih
MUG CANTIK
BINGKISAN ULTAH
BERBAGI PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC
AKSI MAHASISWA UI SESUATU BANGET
SAAT ENDAH MEMILIH PANGGILAN JIWANYA
wtarsono
www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214