Tampilkan postingan dengan label anugerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label anugerah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Desember 2011

TEMUKAN KALIMAT INSPIRATIF MU

Mug Cantik Bingkisan Ulang Tahun Anak Anda
Salah satu adegan yang saya suka dari film Sang Pemimpi adalah saat Julian Balia, guru Ikal dan kawan-kawan mengajak murid-muridnya memekikkan kata-kata inspiratif, setelah atau sebelum memulai pelajaran. "Kalian harus tahu betapa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Kalau kalian mampu menyusun kata-kata dengan indah bukan saja kalian mampu membuat karya yang luar biasa, tapi kalian juga bisa membuat orang lain tergetar dengan apa yang kalian tulis atau kalian ucapkan," ucap Julian Balia menjelaskan.

"Para pelopor, sebelum kita tutup kelas hari ini, pekikkan kata-kata yang memberimu inspirasi. Kau, Ma'ruf! perintahya. "Jika mata dibayar dengan mata, maka dunia akan buta, Mahatma Gandhi," ujar Ma'ruf spontan. "Ahmad". "I shall return, Jendral Mc Arthur," ucap Ahmad.

Zakiyah Nurmala
Kemudian satu persatu murid yang lain mengikuti. "Kaum muda, yang diperlukan adalah orang-orang yang mampu memimpikan sesuatu yang tak pernah diimpikan oleh siapapun, Jhon F. Kennedy," lanjut Zakiyah Nurmala. "Tidak semua yang dapat dihitung diperhitungkan, dan tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung, Albert Einstein," Ucap Arai tidak mau kalah dari Zakiyah Nurmala, gadis pujaan hatinya. "Masa muda, masa yang berapi-api, Rhoma Irama, ucap Ikal diikuti tawa teman-temannya.

Di lain waktu, Julian Balia meminta murid-muridnya memekikkan kata-kata inspiratif kembali. Terlontarlah kata-kata yang dikutip dari tokoh-tokoh nasional kita. "Dengan menolong diri sendiri kita bisa menolong orang lain lebih sempurna, RA. Kartini". "Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bias mengubah dunia, Soekarno". "Kemerdekaan nasional bukanlah tujuan akhir, rakyat yang bebas berkarya adalah puncaknya, Sutan Syahrir". "Selama dengan buku kalian boleh memenjaraku di mana saja, sebab dengan buku aku bebas, Muhammad Hatta."

Sebelum menonton film Sang Pemimpi saya mempunyai kebiasaan mencatat kata-kata inspiratif dari buku-buku yang saya baca. Buat saya kata-kata itu sering menyadarkan saya, baik tentang mimpi-mimpi saya maupun hal-hal yang ingin saya perbaiki. Saat SMP saya mendapatkan sebuah kalimat inspiratif dari kepala sekolah yang sampai saat ini masih diingat. "Sikapmu hari ini akan menentukan masa depanmu kelak". Atau kalimat dari guru dan sekaligus paman saya waktu SMA. "Dalam setiap kesempatan selalu ada kesempitan, dan dalam setiap kesempitan selalu ada kesempatan".

Selain dua kalimat tersebut, saya mempunyai beberapa kalimat inspiratf yang menjadi favorit. "Tidak ada yang perlu ditakuti dalam kehidupan ini, semua hanya perlu dipahami". Kalimat lainnya, "Kekhawatiran adalah penyalahgunaan imajinasi yang merupakan anugerah Tuhan". Dua kalimat tersebut saya sering ucapkan tatkala saya merasakan ada tekanan atau ketakutan terhadap sesuatu yang akan menimpa saya.

Untuk memotivasi diri, kalimat yang sering saya gunakan adalah kalimat berikut; "Hidup itu seperti naik sepeda, kita akan jatuh kalau kita berhenti mengayuhnya". Agar konsisten dengan impian-impian saya kalimat yang saya gunakan; "Tidak diperlukan energi yang lebih besar untuk membuat impian yang besar, dibanding impian yang kecil". "Cepat atau lambat, mereka yang menang adalah mereka yang berpikir bahwa mereka bisa." atau kalimat dari Napoleon Hill: "Tidak ada yang bisa mengalahkan ketekunan dan kegigihan".

Saya juga mempunyai ayat Al-Quran yang menjadi favorit kutipan saya, dari surat At-Takasur: "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan Begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu." Selain surat At-Takasur, saya suka juga dengan surat Al-Ashr. "Demi masa."

Dahlan Iskan, Menteri BUMN
Terakhir saya menemukan kalimat inspiratif dari dua buku yang sedang saya baca; "Gunung tidak mesti tinggi yang penting ada dewanya, sungai tidak mesti dalam yang penting ada naganya, manusia tidak mesti hebat dan serba besar, yang penting ada artinya," Dahlan Iskan di buku Dua Tangis dan Ribuan Tawa. "Ide besar bukan dari tindakan Tuhan. Ide itu datang dari tindakan kita sehari-hari." Donny Duetsch penulis buku The Big Idea sekalugus pemandu acara The Big Idea di CNBC.

Di bawah tulisan ini saya sertakan beberapa kalimat inspiratif yang saya kumpulkan, barangkali bisa dipakai oleh teman-teman. Dengan bertahap, Insya Allah akan saya tambahkan kalimat-kalimat inspiratif lainnya yang didapat dari buku-buku yang saya baca atau ungkapan yang saya dengar, dari siapa saja.

"Sebagian orang menghabiskan waktunya dengan menunggu datangnya waktu yang sempurna. Jarang ada waktu yang sempurna dalam hal apa pun. Yang penting langsung memulai, ikuti permainannya." Jack Canfield.

"Tak ada orang yang pernah menjadi hebat atau baik kecuali melalui banyak kesalahan besar." WIlliam E. Gladstone (Mantan Perdana Menteri Ingris).

"Akui bahwa rasa takut itu ada tapi jangan membiarkannya menghalangi Anda melakukan tugas-tugas penting." Jack Cenfield.

"Aku sudah lama hidup dan menghadapi banyak masalah, yang sebagian besar tek pernah terjadi." Mark Twain - Pengarang & Humoris Amerika Ternama.

"Kemajuan selalu melibatkan risiko; kau tidak bisa mencapai tingkat dua dan mempertahankan kakimu di tingkat satu." Frederick Wilcox.

"Yang penting bukan keinginan untuk menang, karena setiap orang memilikinya. Yang penting keinginan mempersiapkan diri untuk penting." Paul "Bear" Bryant.

"Kebanyakan orang menyerah ketika mereka nyaris meraih kesuksesan. Mereka berhenti satu meter dari garis finis. Mereka menyerah di detik-detik terakhir permainan, satu langkah dari gol kemenangan." H. Ross Perot Miliuner Amerika & mantan kandidat presiden AS.

"Jangan biarkan pikiranmu menjauh dari karya besar yang ada di depan kita". Abraham Lincoln Mantan Presiden AS.

"Setiap tindakan yang dilakukan dihadapan orang lain harus dilakukan dengan menghormati mereka yang hadir". George Washington mantan Presiden AS.***

Mug Cantik untuk Ulang Tahun Anak Anda Klik di SINI

Tulisan lain:
Rasid Memungut Sampah Sebagai Panggilan Hati
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Lewat Lagu
Ali Sadikin Ngotot, Masjid Said Naum Berdiri
Mencari Mal Ramah Islam

Kalau berkenan tolong berikan rating atau komentar terhadap tulisan ini.

Salam Bahagia
Warsa Tarsono
0818 995 214/021-96318167
www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter : @wtarsono

Baca selengkapnya......

Sabtu, 26 November 2011

Terjangkit Virus Chicken Soup

"Gooool", teriak saya dan penonton lain saat nonton bareng (Nobar) Indonesia vs Malaysia di Gelora Bung Karno. Lagi seru pertandingan, karena sebelum gol terjadi pun kedua tim silih berganti menyerang.

Belum sempat melihat tayangan ulang gol tersebut karena layar terhalang oleh penonton lain yang berdiri, sebuah SMS masuk ke hand phone saya. Saya lihat pengirimnya dari Diana Sarahsanti, teman di Youth Islamic Stusy Club (YISC) Al-Azhar. "Gue lagi menghibur diri, beli Chicken Soup yang baru, Mengatasi Rasa Duka Karena Kehilangan. "Mudah-mudahan menenangkan," jawaban singkat saya.

Diana dua hari terakhir itu mungkin sedang bersedih. Di status Facebook sehari sebelumnya dia membuat status tentang kehilangan cincin kawinnya. "Sudah kehilangan orangnya,kasih sayangnya,sekarang giliran cincin kawin pemberiannya..Ya Allah kuatkanlah aku.." ucapnya di FB. Sebuah kondisi yang patut kita berikan empati kepadanya.

Tapi tulisan ini tidak akan bercerita tentang derita Diana. Karena kalaupun dia saat ini sedang bersedih, yang saya tahu Diana adalah sosok yang kuat, dan selalu ikhlas menerima semua hal yang menimpa kepadanya. Mudah-mudahan kali inipun dia akan kembali menunjukkan hal itu. Dan menurutku dia, sedang berusaha melakukannya, terbukti dengan membeli buku Chicken Soup for The Soul. Buat saya itu adalah pilihan yang tepat, walaupun bukan berarti satu-satunya pilihan, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi kesedihan.

Dalam buku Chicken Soup for The Soul banyak kisah-kisah inspiratif dan kisah-kisah yang bisa kita teladani. Biasanya kisah-kisah itu dikelompokkan dalam beberapa judul bab, seperti: Tentang Cinta, Tentang Kebaikan, Tentang Orang Tua dan Pengasuhan Anak, Tentang Belajar Mengajar, Mengatasi Hambatan dan beberapa lainnya. Di setiap judul seri buku Chicken Soup for The Soul bisa berbeda-beda pengelompokkan judul babnya.

A4th Course of Chicken Soup for the Soul adalah buku pertama yang saya baca dari buku seri Chicken Soup for The Soul ini. Di buku itu, ada kisah yang selalu saya ingat. Kisah itu dikelompokkan ke dalam bab Tentang Kebaikan, dan judulnya Kaki Besar-Hati Lebih Besar.

Tulisan diawali dengan sebuah sebuah pepatah dari Afrika. "Ketika perbuatan bicara, kata-kata tidak ada artinya.

Diceritakan seorang gadis kecil ingin membeli es krim. Sambil menggenggam uang dengan dia menghampiri sebuah toko es krim. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu untuk membeli es krim, seorang petugas menghardik dengan galaknya menyuruh dia keluar dan disuruh untuk membaca tulisan di yang terpasang di pintu, dan memintanya tidak masuk lagi sebelum dia memakai sepatu.

Saat bersamaan seorang pria bertubuh besar keluar dari toko es krim tersebut. Dia melihat gadis kecil itu keluar dari toko dan berdiri di depan pintu sambil membaca sebuah pengumuman di pintu. "Tidak Memakai Sepatu Tidak Boleh Masuk".

Anak kecil itu berdiri terpaku membaca tulisan itu, perlahan di kedua pipinya mengalir air matanya. Dengan perlahan anak kecil itu berbalik dan meninggalkan toko itu. Tiba-tiba lelaki besar itu memanggilnya sambil duduk di pinggiran jalan. Pria itu melepas sepatunya yang berukuran besar dan meletakkan sepatunya di depan anak kecil tersebut. "Pakailah sepatu saya, mungkin kamu akan kesulitan berjalan dengan sepatu itu, tapi kamu akan mendapatkan es krim," ucapnya. Sebelum anak itu menjawab lelaki besar itu mengangkat anak itu dan memasukkan kakiknya ke dalam sepatu besar miliknya.

Dengan kesulitan anak itu berjalan, tapi tidak berapa lama dia kembali dengan membawa es krim. Dengan senyum dan mata berbinar anak itu menghampiri lelaki besar itu. Lelaki besar itu pun tersenyum melihat kebahagiaan anak itu.

Sederhana apa yang dilakukan oleh lelaki berbadan besar itu. Tapi buat saya, dia lelaki yang berhati besar.

Terima Kasih

Warsa Tarsono.

Tulisan lain:
Inspirasi dari Buku Chicken Soup for The Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Banget
Jejak Kerja Keras Bapakku
PAYISC, Memaknai Hidupku

Baca selengkapnya......

Sabtu, 19 November 2011

GURU IDOLAKU


Beberapa waktu yang lalu, dalam tulisan saya yang berdujudul Kesan Saat di SMP 2 Banjarharjo saya membuat pertanyaan kepada diri saya sendiri, Siapa atau apa yang paling diingat saat di SMP 2 Banjarharjo?? Maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Pak Regi. Pada kesempatan ini saya juga ingin membuat pertanyaan, siapa guru idola saat SMP? Jawaban atas pertanyaan tersebut dengan cepat saya jawab Pak Regi.

Pak Regi memang buat saya memberikan kesan tersendiri. Saya tahu dia adalah guru yang galak. Makanya dulu saya dan teman-teman menjuluki dia dengan sebutan Paman Harimau. Walaupun begitu seingat saya, dia tidak pernah memukul atau tindakan apapun yang menyakiti secara fisik. Kalau bentakan atau pertanyaan "intimidatif" saat tidak bisa mengerjakan soal atau tidak mengerjakan PR sering saya lihat atau rasakan.

Pak Regi saat ngajar atau tidak, tampangnya selalu serius. Jarang sekali melihat dia tersenyum. Terlihat tersenyum ketika menertawakan muridnya yang tidak bisa mengerjakan soal atau tidak paham terhadap pelajaran yang dia berikan. Mungkin istilah yang tepat bukan senyum tapi menyeringai. Buat saya waktu itu, senyum dia menjadi senyum yang terasa intimidatif, sebuah senyuman sinis.

Saya tidak pernah melihat dia bercanda. Satu-satunya candaan dia yang mungkin semua masih ingat adalah saat dia menjadi instruktur upacara. Setelah dipersilahkan, dia berjalan menghampiri podium, semua siswa terdiam. Beberapa saat kemudian dia mengucapapkan Assalamu'alaikum. Tanpa diduga kemudian dia berkata: "sekian sambutan dari saya, terima kasih." Geeer saat itu terdengar tawa peserta upacara. Sementara guru-guru yang lain terlihat mesem-mesem. Mungkin itu adalah upacara paling singkat. Mungkin itu adalah tindakan paling lucu dari Pak Regi.

Tapi entah mengapa, diam-diam saya menyukai dia. Diam-diam dia menjadi idola saya. Karena dia saya bercita-cita ingin menjadi guru. Guru matematika, pelajaran yang menjadi mata pelajaran Pak Regi. Lucunya, saya membayangkan kalau menjadi guru ingin meniru cara mengajarnya Pak Regi. Tegas, lugas dan tidak mengenal kompromi. Walaupun konsekwensinya mungkin akan dijuluki Paman Harimau juga. Hehehehe

Setelah saya keluar dari SMP saya masih menngingat dia. Saya selalu bertanya kepada adik saya yang juga sekolah di SMP 2 Banjarharjo, gimana khabarnya Pak Regi? Ngajar kelas berapa sekarang? kamu diajar dia enggak? Sampai sekarang saya selalu ingin tahu khabar Pak Regi.

Buat saya, Pak Regi juga yang membuat saya pernah merasa bangga. Saya siswa yang biasa saja, tidak pernah masuk sepuluh besar kelas, apalagi sepuluh besar satu angkatan. Tapi ada saat saya merasa sebagai siswa yang pintar, ya semua gara-gara Pak Regi. Pak Regi memberikan saya nilai 10 atas ulangan yang dia adakan. Bukan sekali tapi tiga kali berturut-turut. Walaupun hanya tiga kali itu saya memperoleh nilai sepuluh, untuk pelajaran matematika maupun pelajaran lainnya. Tapi ketiga nilai tersebut selalu saya kenang.

Sekarang saat teman-teman SMP mulai bertemu di jejaring sosial facebook, rasa ingin bertemu dengan Pak Regi kembali muncul. Ingin tahu berada di mana dia sekarang? dan kalau dia masih hidup, saya ingin bertemu dia. Saya ingin mengatakan kepadanya, dia adalah guru idola saya. Walaupun saat ini saya tidak menjadi guru, tetap dia menjadi idola saya.

Pak Regi guru idolaku, semoga engkau dan keluarga selalu sehat dan mendapat lindungan dari Allah SWT.

Sebuah syair saya alunkan menutup tulisan ini; "......JASAMU TIADA TARA......."

Tulisan lain:
Mug Cantik
Bingkisan Ulang Tahun
Kesan Saat di SMP 2 Banjarharja
Inspirasi dari Kepala Sekolah
Jejak Kerja Keras Bapakku
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul


Jika mendapat sesuatu dari tulisan ini silahkan di share ke yang lainny bisa ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logo di bawah tulisan ini. Tolong juga berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Apapun komentarnya, berapapun ratingnya, menjadi masukkan yang berarti buat saya.

Terima Kasih
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214

Baca selengkapnya......

Senin, 07 November 2011

JEJAK KERJA KERAS BAPAKKU

Wajahnya mulai keriput. Namun dibanding beberapa bulan sebelumnya, pipi bapakku terlihat lebih tembem dan badannya lebih berisi. Usianya mungkin sekitar 63 atau 64 tahun. Kenapa tidak aku bilang angka pasti, karena tidak ada catatan tertulis tanggal, bulan dan tahun berapa bapakku lahir. "Bapak mu lahir saat Zaman Bledugan," cerita nenekku dulu. Beberapa waktu kemudian baru aku tahu kalau zaman bledugan itu artinya zaman waktu Belanda datang kembali untuk menjajah Indonesia. Seingatku ya kisaran 1947 atau 48. Tanggal dan bulan berapa? tidak ada yang tahu.Bapakku lahir dipengungsian, saat Belanda menyerang daerahku.

Bapak meminta aku dan adikku untuk pulang saat libur Idul Adha kemarin. Dia ingin memberi tahu letak sawah dan kebun yang dia milikki, "mumpung dia masih segar," memberikan alasan. Sebenarnya waktu kecil, aku dan adikku sering diajaknya, tapi kami sudah lupa, karena sudah lebih 20 tahun kami tak menginjakkan kami di sawah dan kebun milik keluarga kami.

Membandingkan harga tanah di kampungku dan Jakarta sangatlah jauh, bagai langit dan bumi. Lahan seluas 2500 M2, harganya sekitar 5-6 juta, di Jakarta bisa milyaran rupiah. Tapi betapapun kecil harga jual tanah yang bapak milik, tetap saja aku bangga dengan apa yang dia milikki, yang merupakan hasil jerih payah dan kerja keras dia dan almarhum ibuku.

Foto adikku di areal perkebunan"Sudah sih nanti foto-fotonya," sergah Bapakku, melihat kami sibuk berfoto ria. Buat kami menginjakkan kembali di areal persawahan atau perkebunan menjadi peristiwa langka, karena itu kami ingin mengabadikannya. "Sambil jalan bapak ingin ngobrol sama kalian, ada yang ingin Bapak ceritakan," ujarnya. Kami pun mendekat dan mulai berbincang dengan akrab. Sesekali bapakku selalu mengingatkan kami. "Awas kena duri!" Dalam hati aku menjawab, "Kami sudah gede Pak, masih aja diingetin". Tapi aku tidak mengucapkannya, karena aku tahu itu adalah bentuk sayang dia kepada kami.

Daerah pertama yang kami datangi namanya Pamahan, yang berjarak sekitar 5 KM dari tempat tinggal kami. Saat kami sampai di lokasi, ada sepasang suami istri yang sedang bekerja, mereka adalah keluarga yang menggarap tanah kami. Mereka masih sanak saudara kami, sawah kamipun berdampingan dengan miliknya. Karena bapak tidak sempat menggarapnya, bapak meminta keluarga tersebut sekalian menggarapnya.

Bersama penggarap kebun."
Ini Warsa, ini Carlan," bapakku mengenalkan kami. Ada rasa senang mereka bertemu kami. Karena perjalanan kami masih jauh, kami tidak lama ngobrol. Setelah berfoto kami segera pamit.

"Sekarang ke mana Pak?" tanyaku. "Ke Dangkolong," jawabnya. "Enggak ke Lojok Kanon dulu?" tanyaku kembali. "Ke Dangkolong dulu, baru ke sana," jawab Bapakku.

Lojok Kanon nama yang selalu ku ingat, karena ada peristiwa dramatis yang menimpa keluarga kami. Salah seorang adik kakek kami meninggal di sana. Namanya Sarnab. Masalahnya meninggalnya dengan cara yang tragis. Kejadiannya saat aku belum lahir. Cerita nenekku suatu kali saat Kakek Sarnab sedang mencangkul dia menemukan benda asing, sebuah besi dengan bentuk lonjong memanjang.

Peluru Kanon, orang di desaku menyebutnya. Karena dianggap adik kakekku peluru kanon tersebut sudah tidak aktif, dia-dia memukul-mukulnya. Tiba-tiba Duarrr suara ledakan besar menggelegar. Tubuh adik kakekku terpencar ke mana-mana terkena ledakan tersebut. Nenek ku yang berada tidak jauh menjerit sekeras-kerasnya. Orang-orang yang berada sekitar daerah tersebut berdatangan, tapi tidak ada yang berani melakukan apapun, karena merasa ngeri melihatnya. Hanya nenekku yang berani mengumpulkan bagian-bagian tubuh yang berpencar tersebut, tentu saja sambil menangis.

Dangkolong.
Kami sampai di Dangkolong, tanah keluarga kami ada di bagian pinggir sebuah bukit kecil. Bapak menanaminya dengan pohon jati. Pohonnya masih kecil-kecil karena baru ditanam lima tahun lalu.

Kamipun tidak lama di sini, dan segera melanjutkan ke Lojok Kanon. Di Lojok Kanon kami sempet diskusi, bukan tentang peristiwa ledakan Kanon, karena sudah beberapa kami mendengar ceritanya. Kami mendiskusikan hal yang akan dilakukan terhadap tanah tersebut, karena masih kosong. Akhirnya kami bersepakat untuk menanam pohon jati juga.

Tak lama kemudian kami segera beranjak menuju Kepek Loncer. Saat menuju Kepek Loncer inilah tiba-tiba bapakku berkata; "Diantara anak-anak Bapak, yang paling bandel itu Carlan. Tapi kalau Warsa sama Jabar, paling sering minta dibeliin mainan,sampai numpuk," ujarnya. "Tapi walaupun bandel, Carlan yang paling suka bekerja," timpal adikku. "Eittt nanti dulu," aku memotong. "Kamu tidak pernah ngerasain jadi anak angon (anak gembala), kakak yang selalu disuruh gembalain sapi kalau libur sekolah," ucapku menimpali.

"Benar Pak?" tanya adikku sangsi. "Iya, tapi nyuruh kakak ngangon sapi tidak mudah. Bapak atau Ibu biasanya harus marah dulu, baru kakak mau. Sampai pernah saking marahnya Bapak melempar kakak dengan tahi sapi. Tapi setelah itu Bapak menyesal. Dan sebenarnya kalau Bapak melihat dari jauh kakak sedang menggembala sapi, hati bapak sedih. Bapak menangis dalam hati, karena sebenarnya Bapak enggak ingin anak-anak Bapak jadi gembala seperti Bapak. Bapak tahu itu berat," ucapnya dengan suara yang semakin pelan, terasa ada emosi penyesalan dalam hatinya.

Aku sendiri terdiam mendengar cerita bapak, ada rasa terharu mendengar ungkapan Bapak. Pikiranku melayang ke masa silam, saat aku bersikukuh enggak mau menggembala sapi yang membuat Bapak marah. Dan aku ingat, kalaupun ibuku juga marah, melihat aku dilempar, dia berteriak dan segera memeluk aku, dia ikut menangis, dan berbalik membentak Bapakku. "Apa-apaan sih Pak!" bentak ibu kepada bapak. Sambil membawa aku menjauh dari Bapak.

Paristiwa itu memang buatku juga membekas, tanpa diceritakan kembali oleh bapakku, aku juga masih ingat. Dan menurutku peristiwa itu menjadi noda kasih sayang seorang Bapak kepada anaknya, yang entah mengapa aku juga tidak bisa melupakannya.

Sampai akhirnya hari kemarin aku mendengar penyesalannya, ada rasa haru dan bahagia yang tak terhingga. Bahwa sebenarnya dia juga berat menyuruh anaknya menjadi penggembala sapi. Dalam hati aku berjanji, mulai saat ini aku akan melupakan peristiwa itu. Kalaupun nanti masih tetap ku ingat, justru melihatnya sebagai ungkapan sayang Bapakku terhadap aku. Dan hari-hari ini aku sangat-sangat sedang merasakannya.

Di belakang tampak gunung Kepek Loncer.
Tanpa terasa kami sudah sampai di Kepek Loncer. Sebutan Kepek Loncer pada daerah itu sebenarnya merujuk pada gunung di dekatnya yang bernama Kepek Loncer. Ketika aku tanyakan kepada bapak, kenapa disebut gunung kepek loncer, bapakku menjelaskan bahwa arti kepek itu berasal dari kata lepek. "Payudara yang lepek." jelasnya. "Sedangkan loncer artinya adalah terlepas. Nah sebenarnya yang dikatakan kepek loncer itu adalah sumber air yang ada di pinggir gunung itu, yang tidak pernah kering kalaupun musim kemarau. Arti harpiahnya adalah sumber air yang terlepas dari gunung yang lepek," jelas bapak, sedikit panjang menjelaskan.

Kami telah sampai di daerah Keser. Daerah tersebut sudah dengan rumah tinggal kami. Tapi kami tidak langsung pulang, kami menuju Sawah Gede. Sawah Gede merupakan areal persawahan yang dialiri oleh air irigasi yang berasal dari Waduk Malahayu. Sebuah waduk dengan kisaran panjangn dan lebar masing-masing sekitar 6 KM. Waduk tersebut dibangun saat Indonesia masih dijajah Belanda. Dalam prasastinya diresmikan tahun 1935. Mungkin itu salah satu projek kerja rodi pada masa penjajahan Belanda. Surya Dharma, mantan Ketua Umum YISC pernah aku ajak mengunjunginya.

Menurutku Sawah Gede adalah satu-satunya areal produktif yang ada di desaku. Produktif karena setiap saat bisa ditanami apa saja, karena ada sistem pengairannya. Kalau kebun dan sawah yang sebelumnya aku kunjungi, adalah lahan yang mengandalkan perairannya pada air hujan. Tapi sayangnya, lahan produktif tersebut samakin hari semakin sempit, karena terdesak oleh rumah-rumah warga.

Jam tiga kami sampai di rumah, sekitar 5 jam kami melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Lelah, tapi aku sangat bahagia. Tidak aku perdulikan lecet-lecet pada kakiku, demikian juga dengan adikku. Kami telah menapai jejak kerjakeras bapak dan ibuku.

Saat kami akan kembali ke Jakarta, aku memeluk erat bapakku, diapun membalasnya. Setiap aku mengencangkan pelukanku, diapun melakukan hal yang sama. Kami seolah tidak ingin melepas kehangatan dan rasa sayang yang ditimbulkannya. Semakin erat, semakin aku merasa bahagia. Ada air mata yang ku tahan, sesaat setelah pelukan kami terlepas. Sesaat kemudian bapakku kembali memegang kepalaku, mengusapnya. "Hati-hati ya," ucapnya pelan. Akupun mengangguk, tanpa bisa berkata kembali.

Bingkisan Cantik Ulang Tahun Anak Anda
Mug Cantik Mengabadikan Rasa Sayangmu

Tulisan lain:
Jejak Kasih Sayang Ibuku
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Ucapkan Selamat dan Doa Ulang Tahun Melalui Lagu
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Bangettt

Jika mendapat sesuatu dari tulisan ini silahkan di share ke yang lainny bisa ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logo di bawah tulisan ini. Tolong juga berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Apapun komentarnya, berapapun ratingnya, menjadi masukkan yang berarti buat saya.

Terima Kasih
Warsa Tarsono
HP: 0818 995 214/021-96318167
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono

Baca selengkapnya......

Kamis, 03 November 2011

YISC, PERSINGGAHAN YANG MENGASYIKKAN

Masjid Agung Al Azhar
Salah satu babak dalam perjalanan hidup yang aku nikmati adalah saat beraktivitas di Youth Islamic Study Club (YISC) Al- Azhar. Bukan saja karena mendapat pencerahan terhadap hidup dan makna kehidupan, tapi lebih dari sekedar itu. Suasana persahabatan, pertemanan dan persaudaraan yang tidak tersekat oleh tembok-tembok status sosial, atau apapun.


Tapi dalam tulisan ini aku tidak akan menulis itu (Kayaknya serius banget), tapi berbagai suasana yang aku ingat saat itu sering membuat geeerrr, tertawa bersama dan kadang sampai tertawa ngakak. Bisa juga hanya seulas senyum simpul, tapi maknanya daleeemmmm. Hehehe

Pasti teman-teman sepakat, kata rapat adalah kata yang paling akrab diantara sivitas, ya semua karena jika aktif di YISC berarti dia akan menjalani berbagai rapat yang kadang-kadang tak ada henti-hentinya. Apalagi saat hari Minggu, bisa empat sampai lima kelompok beberapa orang duduk melingkar di Taman Firdaus. Semuanya sedang rapat! Bahkan menjelang bulan Ramadhan bisa lebih dari lima kelompok.

Setelah Dzukur, seolah saling berebut, mereka mengambil posisi. Di taman yang sering kali becek setelah hujan dan kering kerontang saat musim kemarau. Tapi semua civitas betah rapat dan bersantai ria di sana. Taman firdaus, membayangkannya akan membuat kita tersenyum sendiri. :)

Kembali ke cerita tentang rapat. Saking seringnya sivitas rapat, Wahyudi Palwono yang dikenal dengan panggilan Uginx, membuat gambar ilustrasi di buku kompilasi yang membuat sivitas tersenyum simpul. Uginx menggambar sebuah pintu, dibagian gambar pintu itu tertulis TUTUP PINTU DENGAN RAPAT. Jadi tutup pintu saja harus dengan RAPAT!!!! Hehehehe

Saat rapat, terutama rapat-rapat yang besar seperti Rapat Evaluasi, Rapat Kerja dan Musyawarah Lengkap, diantara kereriusan membahas berbagai program dan rumusan peraturan organisasi, terselip berbagai gurauan atau pernyataan bahkan celaan yang membuat kami semua geeerrr tertawa. Tapi asyiknya, setiap orang yang menjadi korban celaan, tidak pernah marah, mereka justru menjadi marah kalau program kerja yang mereka buat tidak disetujui. RUARRRR BIASA hehehehe MULIA BANGETTTS! Berikut beberapa peristiwa rapat yang masih aku ingat.

Saat itu rapat kerja baru akan dimulai. Sang Sekum Heru Widiyanto baru saja membuka rapat, sebuah interupsi langsung muncul. Aku lupa siapa yang interupsi waktu itu. Dengan serius dia berkata: “YISC itu lembaga independent, jadi tidak etis kalau diantara kita mengenakan baju partai, jadi saya harap rapat resmi kita harus bersih dari unsure-unsur kampanye partai,” ucapnya lugas.

Kami saling pandang, karena tidak tahu siapa yang dia maksud, sampai akhirnya semua mata tertuju pada Gunawan, AaGun panggilan akrabnya. Terjadilah perdebatan yang sengit. Ada yang mendukung, ada juga yang berpendapat, masalah seperti itu ajah kok dipikirin. Tapi tetap saja perdebatan dilanjutkan, sampai akhirnya Gunawan tunjuk tangan dan memulai bicarta: “Ya sudah, daripada rapat menjadi berlarut-larut, saya yang ngalah dechhh, saya akan ganti baju,” ujarnya singkat. Setelah sekitar setengah jam berdebat. Gubrakkk!!!

Di rapat yang berbeda ada persitiwa yang membuatku tertawa, masih rapat kerja juga. Waktu itu Ahmad Masun (AMGD) baru saja mempresentasikan program humas yang pimpin. Ahmad Nurcholis langsung memberikan tanggapan dan kritik terhadap program yang dibuat AMGD. Kritik-kritik yang tajam, tapi dengan kemampuan bicara C’Nur, kritik yang tajam itu menjadi geerrrr, semua peserta dibuat ketawa.

AMGD menanggapi dengan gaya bicara yang khas dari dia. Salah satu kekhasan AMGD, kalau dia bicara selalu saja bisa menemukan kata yang mempunyai huruf yang sama diakhir kalimatnya.

“Terima kasih pada C’Nur yang telah memberikan masukan yang lugas, cerdas dan trengginas. Saya tahu memang C Nur ini seorang yang kritis, dinamis juga romantis, jadi kita semua bias tertawa kalau dia bicara. Tapi sebelum saya menanggapi, saya minta kepada C’Nur untuk membuka mata dulu,”.

Kami tidak tahu maksdunya AMGD berkata begitu, karena C Nur baru saja bicara enggak mungkin dia ngantuk atau tertidur. Mata kami tertuju kepada C Nur. Kami baru sadar kalau ternyata mata C Nur rada-rada sipit, jadi terlihat menutup mata. Spontan setelah kami menyadari itu kami semua tertawa. Hahahahaha.

Satu lagi peristiwa lucu yang masih aku ingat adalah saat Musleng tahun 95, saat terpilihnya Bang Imaduddin Abdullah sebagai Ketua Umum YISC.

Saat itu memasuki pembahasan tatacara pencalonan ketua umum. Walaupun setiap Musleng sudah ada ketentuan sebelumnya, tapi tetap saja selalu ada perdebatan untuk merumuskannya. Saat itu ada usulan dari salah satu peserta Musleng. Dia mengusulkan bahwa siapa saja yang berniat untuk menjadi ketua umum untuk mengajukan diri secara langsung, untuk melihat kesungguhannya.

Bang Juarsyah mengacungkan tangan, dia tidak setuju terhadap usulan itu. “Budaya kita kan tidak biasa dengan itu, mungkin kalau dia yang mengajukan sendiri dia akan malu, jadi menurut saya kita harus menghormati KEMALUANNYA,” GEEERRRRR, peserta musleng tertawa. Tapi Bang Juarsya belum sadar, beberapa saat kemudian diapun itu tertawa dan berkata: “Rasa malunya maksud saya.” Tapi peserta sudah terlanjur tertawa, dan tidak mendengar klarifikasinya.

Itulah cerita-cerita yang masih aku ingat, masih ada beberapa tapi nanti tulisannya kepanjangan. Silahkan teman-teman yang lain juga bercerita. Hehehehe

Terima Kasih

MUG CANTIK
BINGKISAN ULTAH
BERBAGI PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC
AKSI MAHASISWA UI SESUATU BANGET
SAAT ENDAH MEMILIH PANGGILAN JIWANYA


wtarsono
www.wtarsono.blogspot.com
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214

Baca selengkapnya......

Kamis, 01 Januari 2009

Masjid dan Pemberdayaan Masyarakat (4)


JAKARTA ISLAMIC CENTER
Dari Haram Jaddah Menjadi Hamparan Sajadah

Hari semakin sore, tetapi terik panas matahari masih dirasakan di jalan Kramat jaya Koja Jakarta Utara. Kawasan dimana masjid Jakarta Islamic Center (JIC) berdiri dengan megahnya. Panas matahari tersebut tidak menghalangi aktivitas orang-orang yang berada di sekitar masjid tersebut. Sebagian orang-orang sibuk menggelar dagangan di jalan depan masjid JIC berdiri. “Disini ramenya mulai menjelang maghrib sampai malam jam sepuluh”. Ungkap ibu Sri Siti Pardiah.

Ibu Sri sudah setahun berjualan di jalan depan JIC untuk membiayai enam anaknya. “Anak saya masih dua yang masih sekolah, jadi saya berjualan seperti ini, suami saya sudah meninggal tiga tahun lalu”. Sebelum berjualan di kawasan JIC ibu Sri berjualan di pelabuhan, karena sering di gusur akhirnya pindah di kawasan JIC. Menurut pengakuannya suaminya sewaktu kawasan ini masih menjadi tempat lokalisasi Pekerja Seks Komersial (PSK) bekerja sebagai keamanan. “Walaupun baru setahun berjualan disini, saya tahu daerah sini dari dulu. Kalau siang keramaiannya mungkin hampir sama, tapi kalau sekarang disini lebih ramai kalau ada kegiatan-kegiatan di Islamic Center”. Jelasnya.

Hampir sama seperti yang disampaikan Ibu Sri, menurut Bapak Jamid kawasan ini dari dulu sudah seramai dulu. Pak Jamid adalah ketua RT 06 di kawasan JIC. Beliau tinggal di daerah tersebut sejak tahun 1972. “Niat gubernur saat itu untuk membuat lokalisasi mungkin baik, dari pada para PSK berkeliaran di jalan-jalan, tetapi pelaksanaannya tidak berjalan mulus. Banyak anak-anak yang masih dibawah umur di bawa ke sini untuk di jadikan PSK, jadi saat gubernur Sutiyoso menutup kramat tunggak saya sih senang saja”. Lanjutnya. Menurutnya hampir di setiap gang di daerah sini ada banyak PSK. “Saya akui, walaupun saya sudah punya anak lima, saya suka tergoda, bayangkan banyak perempuan-perempuan cantik, bagaimana tidak tergoda”. Imbuhnya dengan agak malu-malu. “Dulu kawasan ini disebut sebagai haram jadah, sekarang menjadi hamparan sejadah”. Lanjutnya

Menurut Pak Jamid sepanjang jalan depan JIC orang-orang berjualan minuman-minuman keras. Setelah kawasan ini di alih fungsikan banyak orang kemudian berjualan pakaian muslim baik untuk perempuan maupun laki-laki.”Saya sendiri dulu berjualan alat-alat listrik”. Lanjutnya kembali

Menurut Pak Jamid saat ini keamanan daerah itu semakin baik. Masyarakat juga merasa senang dengan kondisi saat ini. “Dulu saya malu kalau ditanya tinggal dimana, saya jawab kramat tunggak, orang langsung berkomentar; oh tempat gituan ya?” Jelasnya.

JIC adalah sebuah kawasan yang dirancang sebagai pusat peradaban islam di Jakarta yang bertaraf internasional dimana masjid sebagai sentrumnya.. JIC di rancang bukan saja sebagai pusat peribadatan tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan latihan serta bisnis yang bernuansa islami. Dengan visi tersebut maka desain rancangan bangunan-bangunan yang ada dengan desain modern dan megah. Dalam masterplan ada tiga komplek dibangun berdasarkan fungsi dan peruntukannya. Masjid dengan kapasitas 20.680 orang berada ditengah, diapit oleh dua komplek lainnya. Sisi kanan Masjid sebagai pusat pendidikan dan palatihan, luas kawasan ini mencapai 13.551 M2. Sisi kiri masjid sebagai pusat bisnis yang mencapai luas 21.452 M2.

Secara garis besar JIC akan difungsikan pada enam bidang fungsi antara lain: Bidang Takmir Masjid, Bidang Pendidikan dan Latihan, Bidang Sosial Budaya, Bidang Informasi dan Komunikasi, Bidang Pengembangan Bisnis dan Bidang Pendukung.

Program Takmir meliputi: Penyelenggaraan ibadah-ibadah mahdhah, Penyelenggaraan kajian-kajian aspek-aspek bathin dalam setiap ibadah mahdhah, Penyelenggaraan kajian-kajian islam klasik dan kontemporer, peringatan hari-hari besar islam, pendirian TK, TPA dan wadah peningkatan kreativitas dan inovasi dan team building bagi remaja muslim, pengkajian dan pengembangan format dakwah yang sesuai dengan tuntutan zaman, pelaksanaan manajemen masjid yang profesional, memberikan pelayanan kebutuhan dasar ibadah mahdhah dan pengetahuan keagamaan dan penyelenggaraan kegiatan-kegiatan cepat tanggap terhadap permasalahan keummatan dan kemanusiaan.

Bidang Pendidikan dan Latihan.
Bidang ini mempunyai program unggulan antara lain: Pelatihan ekstension untuk manajemen dan tren peradaban modern, Pelatihan manajemen masjid, Training for trainer untuk guru dan trainer pemula, Kursus bahasa Inggris, Pelatihan kepemimpinan, Pelatihan manajemen perencanaan, Pelatihan ekonomi syariah, Pelatihan ekonomi dan perbankan syariah, Pelatihan creative learning, Workshop tiga dimensi movie maker, Pelatihan al goritma pemrograman computer sengan animasi 3D dan Pelatihan husnul khotimah.

Bidang Sosial Budaya
Bidang social budaya berperan dalam pengembangan seni budaya islam dan pengembangan masyarakat dala bidang keagamaan, pendidikan dan ekonomi umat. Beberapa program unggulannya antara lain: Pembakuam prosesi mauled khas Batawi, Festifal maulid nusantara, riset dan pemetaan kondisi ekonomi dam social budaya masyarakat sekitar JIC dengan masjid sebagai sentra utama, dan penguatan basis ekonomi jamaah, melalui pola jaringan yang terjalin lewat masjid.

Bidang Komunikasi dan Informasi
Bidang ini berfungsi sebagai pusat informasi dan komunikasi setiap pemikiran, gagasan dan aksi yang dilakukan setiap bidang fungsi di JIC kepada khalayak masyarakat luas. Beberapa program unggulannya antara lain: Pengembangan infrastruktur teknologi informasi di lingkungan JIC, Implementasi dan pengembangan software-sofware aplikasi, system informasi manajemen, perpustakaan konvensional dan digital, layanan wisata dakwah melalui multimedia bagi siswa dan masyarakat, pembatan layanan informasi keislaman dan berita serta agenda JIC dan melakukan kerjasama penyiaran melalui media cetak dan elektronik.

Bidang Pengembangan Bisnis
Ada tiga bidang yang akan menjadi bidang bisnis yang akan dikembangkan, antara lain perkantoran, convention hall dan hotel. Konsepsi bisnis yang akan dikembangkan semua mengacu pada pengembangan bisnis berbasis syariah.

JIC mungkin sebagai sebuah terobosan bagi dunia Islam di Indonesia. Dari aspek visi perencanaan program gagasan tersebut perlu diapresiasi. Walaupun memang perencanaan yang ada belum semuannya terimplementasi. “Baru sekitar 60 persen kawasan ini di bangun, jadi belum semuanya optimal” Demikian ditegaskan oleh ibu Hanny, staft humas JIC. “Program-program pendidikan dan latihan yang ada baru sebatas fasilitasi dan bekerjasama dengan pihak luar”. Lanjutnya.

Baru tiga tahun secara resmi JIC dioperasikan. Mungkin memang kita masih perlu menunggu dan memberikan waktu kepada pengelola untuk mengimplementasikan gagasan dan perencanaan yang ada. Dan semoga hal itu tidak terhenti hanya karena terkendala oleh dana, masalah klasik yang selalu menghantui dunia islam di Indonesia.

Wassalam,

MWT

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Majalah Madina. Ini tulisan terakhhir dari 4 tulisan. Mudah-mudahan lain kali saya bisa membuat liputan masjid lainnya.

Baca selengkapnya......

Masjid dan Pemberdayaan Masyarakat (3)


MASJID CUT MEUTIAH
Klinik Kesehatan dan Pelayanan Jenazah Gratis

Kumandang suara azan menggema di kawasan jalan Cut Meutiah. Matahari semakin condong ke arah barat. Suara azan tersebut merupakan panggilan kepada kaum muslim untuk melakukan sholat ashar. Menjelang azan berhenti orang-orang mulai berdatangan mengambil wudhu dan melanjutkannya dengan sholat berjamaah. Sekitar tiga puluh menit kemudian setelah sholat ashar berjamaah selesai, anak-anak muda mulai berdatangan. Mereka bergerombol. Diantara mereka ada yang terlihat membawa bola. Tak lama kemudian mereka mulai bermain bola. Ada canda tawa, ada celaan, tetapi mereka terlihat bergembira dengan permainan mereka. Meraka bermain bola di halaman depan masjid Cut Meutiah.

Masjid Cut Meutiah merupakan salah satu Masjid yang berada dikawasan elit Menteng. Masjid ini dikelola oleh Yayasan Masjid Cut Meutiah. Secara resmi masjid ini berbadan hukum tahun 1987. Menurut Ketua Pelaksana Harian Heri Hermawan, Masjid Cut Meutiah selain sebagai tempat beribadah, juga difungsikan sebagai sebagai sarana untuk melayani dan pemberdayaan ummat, terutama warga di sekitar daerah masjid tersebut.

Untuk mengoptimalkan peran sebagai sarana pemberdayaan ummat, dibuat struktur organisasi berdasarkan peran tersebut. Beberapa bidang yang ada antara lain: lembaga anak asuh yatim dan piatu, badan sosial kematian, lembaga bantuan hukum, koperasi, lembaga poliklinik, pendidikan, bimbingan haji dan umrah, Remaja Islam Cut Meutiah, dan Lembaga Pengajian Ibu-ibu.

Saat ini masjid Cut Meutiah mempunyai 77 anak asuh yang diberikan beasiswa pendidikan. Bantuan yang diberikan meliputi biaya sekolah, seragam, uang jajan dan keperluan-keperluan lain yang berhubungan dengan proses pendidikan. Beasiswa diberikan sampai anak tersebut menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Tetapi kami tidak menampung mereka di sini, kami tempatkan mereka dikeluarganya yang masih hidup atau jamaah disini yang bersedia menampung mereka”. Tegas Pak Heri.

Bidang lainnya yaitu Badan Sosial Kematian. Badan ini berfungsi untuk melayani ummat apabila ada keluarga yang terkana musibah kematian. Layanan yang diberikan antara lain: memandikan, mengafani, mensholatkan dan mengantarkan ke pemakaman. Layanan khusus diberikan bagi warga masyarakat yang tidak mempunyai tempat tinggal yang memadai atau sempit. Masjid Cut Meutiah menyediakan ruangan aula yang bisa digunakan oleh keluarga yang berduka untuk merawat dan mensemayamkan jenazah sampai jenazah tersebut dibawa kepemakaman. Semua layanan tersebut diberikan secara gratis. “Kami mempunyai dua armada ambulance yang bisa sewaktu-waktu diminta bantuan untuk mengantar atau menjemput jenazah, bahkan untuk mengantar ke luar kota”. Lanjut Pak Heri.

Bidang lain difungsikan untuk membantu ummat adalah Lembaga Bantuan Hukum. Selama ini lembaga bantuan hukum lebih berperan untuk penyelesaian sengketa pernikahan. Termasuk di dalamnya penyelesaian pembagian harta gono gini. “Beberapa sengketa tanah juga pernah ditangani”. Ungkap Pak Heri.

Selain itu yang tak kalah penting perannya adalah klinik kesehatan. Jamaah masjid dan masyarakat umum disekitar Masjid Cut Meutiah disediakan pelayanan gratis untuk pemeriksaan dan pengobatan. Layanan pengobatan yang disediakan adalah penyakit umum dan gigi. Selama ini Masjid Cut Meutiah mendapatkan suplai obat-obatan dari 18 agen farmasi di Jakarta. Setiap bulan Masjid Cut Meutiah mendapatkan secara gratis obat-obatan dari 18 agen tersebut. Apabila persediaan obat sudah menipis pengurus mengirimkan surat kepada agen-agen obat tersebut.

Untuk menopang pembiayaan semua kegiatan sosial tersebut pengurus melakukan kerjasama dengan pihak luar dan membuat koperasi. Salah satu kerjasama yang sampai saat ini berjalan adalah kerjasama dengan warung makan Sederhana. Bentuk kerjasamanya bagi hasil atas keuntungan warung makan tersebut. Sementara keuntungan koperasi selain digunakan untuk pembiayaan operasional Masjid, juga digunakan untuk bantuan pinjaman bagi jamaah. “Kami tidak khusus membuat program pinjaman, tetapi pabila ada jamaah yang membutuhkan uang dan dia minta bantuan pinjaman, kami layani”. Tutur Pak Heri

Bidang lain yang diandalkan untuk menopang biaya operasional adalah dari Bidang Pendidikan dan Bimbingan Haji dan Umrah. Walaupun kedua bidang tersebut bukan dimaksudkan untuk cari keuntungan, tetapi selama ini kelebihan dari biaya operasional kedua bidang tersebut dimasukkan dalam kas yayasan yang akan digunakan untuk biaya operasional Masjid.

Wassalam,

MWT

Tulisan ini sudah pernah dimuat di Majalah Madina. Tulisan tentang Masjid lainnya menyusul.

Baca selengkapnya......

Rabu, 31 Desember 2008

Masjid dan Pemberdayaan Masyarakat (2)


MASJID AGUNG SUNDA KELAPA
Rumah Sehat dan Beasiswa Bagi Anak Yatim

Matahari belum terlalu terik, saat para petugas Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) sedang mempersiapkan ruangan Aula Sakinah. Setiap hari jum’at para petugas memang mempunyai kesibukan tambahan, maklum setiap hari tersebut Masjid akan dipenuhi oleh banyak jamaah yang akan melakukan sholat jumat. Jamaah yang datang dan melakukan sholat, tidak saja memenuhi ruangan utama sholat bahkan Aula Sakinah dan halaman Masjid Agung Sunda Kelapa.

Sementara para petugas (Marbot) sedang mempersiapkan tempat sholat, di gedung depan Masjid Agung Sunda Kelapa ada kesibukan lain. Sebuah gedung bercat warna hijau berlantai lima. Dari jauh sudah terlihat gedung tersebut bertuliskan Rumah Sehat Masjid Agung Sunda Kelapa. Di dalam gedung tersebut dua orang ibu-ibu sedang menghadap petugas di sana. Mereka sedang mendaftarkan diri untuk mendapat pelayanan kesehatan. Ibu pertama bernama Kusninah mendaftarkan anaknya yang bernama Siti Jubaidah yang terkena penyakit kuning. Sementara Ibu kedua yang bernama Imas Rostiawati mendaftarkan anak dan suaminya, anaknya terkana sakit batuk, sedang suaminya terkena hernia.

“Sudah enam kali kami berobat ke sini, dua kali anak saya, saya tiga kali dan suami saya sekali”. Jawab ibu Imas saat ditanya seberapa sering berobat ke Rumah Sehat MASK. Ibu Imas mengaku senang dengan adanya Rumah Sehat MASK, disamping karena gratis pelayanannya juga bagus. “Petugas disini ramah, disamping itu dokternya mau menjawab setiap pertanyaan yang kami tanyakan. Berbeda dengan kalau saya berobat ke puskesmas, sering kalau kami bertanya mereka menjawab dengan ketus”. Tutur pak Sahrudin Malik suami dari ibu Imas.

Rasa senang juga diungkapkan oleh ibu Kusninah. “Saya baru pertama kami berobat ke sini, saya senang karena tidak bayar, kami merasa terbantu”. Tutur bu Kusninah.

Sejak 14 September 2007, di Masjid Agung Sunda Kelapa terdapat kesibukan lain diluar kegiatan keseharian yang sifatnya peribadatan. Sejak tanggal tersebut Masjid Agung Sunda Kelapa yang bekerjasama dengan Dompet Dhuafa Republika mengoperasikan Rumas Sehat. Sebuah layanan kesehatan yang diperuntukan bagi kalangan kaum dhuafa. Mereka yang tergolong dhuafa akan mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis. Perismian beroperasinya Rumah Sehat tersebut dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sejak beroperasinya, Rumah Sehat menerima kurang lebih 30 pasien setiap harinya. Adapun pelayanan diberikan oleh Rumah Sehat MASK meliputi: pemeriksaan umum dan spesialis, pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan rontgen polos, perawatan gigi, bersalin, obat, transportasi ambulance dan tindakan gawat darurat. “Untuk layanan spesialis saat ini kami sedang menunggu proses izin dari departemen kesehatan”. Ungkap Dr. Fachrizal Achmad, M, Si, direktur Rumah Sehat tersebut. Adapun layanan penyakit spesialis meliputi penyakit dalam, anak, bedah dan kebidanan. “Semula kami menginginkan adanya rawat inap, tetapi karena lokasi Rumah Sehat ini dekat masjid yang notabene tempat berkumpul dan lalu lalang banyak orang, Ibu menteri tidak mengizinkan”. Lanjut dr. Fachri.

Rumah Sehat, sebuah nama yang belum lazim untuk sebuah layanan kesehatan. Selama ini kita lebih mengenal istilah rumah sakit atau klinik. Terhadap hal ini dr. Fachrizal memberikan argumentasinya. “Kami ingin merubah paradigma masyarakat tantang layanan kesehatan”. Dalam pandangan dr. Fachrizal selama ini banyak orang datang ke rumah sakit dengan terpaksa, terpaksa karena sakit. Lebih miris lagi mereka datang ke rumah sakit bukannya mendapat kesembuhan tetapi menambah penyakit yang disebabkan ketidakpuasan pelayanan dan beban biaya. “Nah beban-beban seperti itu ingin kami hilangkan, terutama bagi kalangan orang-orang yang memang sudah terbebani kehidupannya karena kekurangan ekonomi. Kami ingin menciptakan bawah sadar dalam pikiran orang yang datang kesini, mereka akan sehat”. Tuturnya bersemangat

Ternyata hal itu dirasakan oleh pasien yang datang ke situ. Menurut pengakuan ibu Imas, dia merasakan adanya perasaan senang dan yakin akan kesembuhannya. “Kami berobat kesini seperti kami mau jalan-jalan, kami saling mengajak saat ada diantara kami mau berobat”. Imbuhnya.

Rumah Sehat merupakan salah satu Masjid Agung Sunda Kelapa, selain program tersebut mereka mempunyai program-program lain dalam pelayanan terhadap jamaah dan ummat. Ada empat bidang antara lain: Bidang keagamaan, sosial, usaha dan pendukung operasi. Bidang keagamaan meliputi ibadah mahdah, zakat, infak, shodaqoh dan wakaf, dakwah dan majelis ta’lim. Bidang Usaha meliputi penyewaan propoerti, koperasi dan jasa pelatihan. Sementara bidang sosial meliputi pembinaan individu, institusi dan remaja islam.

Dalam bidang sosial pembinaan individu mempunyai program beasiswa bagi anak-anak yang kurang mampu. Jumlah anak yang diberi biaya sekolah mencapai 200 anak. Mereka diberikan beasiswa sampai tingkat SMA. Selain diberikan biaya sekolah mereka, dibina keagamaannya seminggu sekali. Sementara untuk orang tua mereka, diadakan pengajian sebulan sekali.

Masjid Agung Sunda Kelapa juga selalu mengadakan kegiatan tanggap darurat, seperti bantuan kepada orang-orang yang terkena bencana alam. Selain memberi bantuan yang berbentuk sandang dan pangan, juga membantu mendirikan kembali masjid-masjid yang hancur karena bencana alam tersebut.

Salam

MWT

Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Madina. Tulisan tentang masjid lainnya akan diposting menyusul.

Baca selengkapnya......

Pengalaman Mewawancarai Ketua MPR RI


Minggu kemarin saya ditugaskan oleh Majalah Madina untuk mewawancarai Ketua MPR Dr. Hidayat Nur Wahid. Majalah Madina adalah tempat dimana saya nyambi sebagai wartawan. Saya diminta mewawancarai Pak Hidayat tentang usulan Pak Hidayat terhadap MUI untuk membuat fatwa haram golput.

Walaupun dunia jurnalistik bukan sesuatu yang baru buat saya, tetapi profesi resmi sebagai wartawan baru kali ini.

Semula saya agak ragu untuk dapat menghubungi Pak Hidayat, karena waktu yang sudah agak mepet. Akhirnya saya mencoba mengubungi teman-teman aktivis PKS yang saya kenal, dari dia kemudian saya mendapat nomor telepon Pak Umar, sekretaris Pak Hidayat.

Secepatnya saya menghubungi Pak Umar. Dari Pak Umar saya dianjurkan untuk menghubungi Pak Dikarno, orang sekretariat MPR. Pak Dikarno menyarankan saya untuk membuat surat dan dikirim melalui fax. Saya ikuti prosedur tersebut, setelah dikirim saya mengkonfirmasi ke Pak Dikarno, apakah suratnya sudah diterima. "Sudah, dan sudah taroh di meja Bapak". Jawab Pak Dikarno.

Mendengar jawaban tersebut, saya lega, kemudian merencanakan untuk mengkonfirmasi besok harinya. Esok harinya, waktu menunjukan sekitar pukul 8 pagi, saat itu saya masih bersiap untuk berangkat kerja. Tiba-tiba HP saya berdering, dan dari sebrang terdengar suara, "Ini Pak Warsa?". "Iya Pak". "Bapak besok diterima untuk wawancara jam 1 siang". Saya kaget dan surprise mendengar berita itu. "Oh iya pak, terima kasih". Jawab saya."Bapak besok ketemu saya dulu". Iya pak, terima kasih, jawab saya kembali. Saya pun merencanakan untuk mengkonfirmasi kembali pagi harinya sebelum saya bernagkat wawancara.

Esok harinya saya pun masih bersiap, waktu sekitar pukul 8an. HP saya berdering dan saya angkat, terdengar suara dari HP saya. "Dengan Pak Warsa?". "Iya Pak". "Jadi Pak wawancara dengan Pak Hidayat?". "Jadi". "Saya mau konfirmasi aja, Bapak datang sebelum jam 1 ya, takutnya Bapak ada acara lain". "Iya Pak". Terima kasih Pak. Kami menutup pembicaraan.

Pukul 12.30 saya sudah di gedung MPR dan langsung menuju ruangan Pak Hidayat Nur Wahid. Petugas keamanan di MPR bertanya tantang keperluan saya, dan saya katakan saya sudah punya janji untuk mewawancarai Pak Hidayat Nur Wahid. Petugas mempersilahkan saya untuk masuk. Saat saya sedang menunggu lift terdengar suara petugas keamanan di sana berkoordinasi dengan petugas yang jaga di ruangan ketua MPR menggunakan HT. "Monitor, ini ada satu orang walet menuju ke sana, dia sudah punya janji dengan pak Hidayat untuk wawancara, gitu ganti". "86". Terdengar jawaban dari suara HT nya.

Mendengar percakapan tersebut saya tersenyum sendiri. "Oooh walet toh istilah buat wartawan, baru tahu aku". Ucap saya dalam hati. Saya tahu para petugas keamanan sering menggunakan istilah-istilah sendiri untuk percakapan antara mereka. Dan itu saya tahu setelah beberapa lama bergaul dengan petugas keamanan di Al Azhar. Untuk areal sekolah misalnya mereka menggunakan istilah solo, ada juga medan 1 dan medan 2 dst.

Saya sampai di lantai ruangan Pak Hidayat langsung disambut oleh petugas di sana, petugaspun langsung memberikan khabar kepada saya. "Pak Hidayat masih di jalan, Bapak diminta nunggu, silahkan Bapak bisa nunggu di situ". Sambil menunjuk kursi tamu yang ada di lantai itu. "Oke Pak, kalau mau sholat dulu dimana Pak? Tanya saya. "Oh di sana, sini saya antar" Sambil bergegas mengantarkan saya ke tempat sholat. Saya merasa surprise mendapat perlakuan tersebut. Semula saya berharap cuma ditunjukkan tempatnya saja, tetapi malah dia mengantarkan saya sampai ke tempat sholat tersebut. Saya kagum atas perlakuan tersebut, dalam hati, saya merasa bangga ternyata gedung MPR mempunyai petugas yang bisa memberi pelayanan dengan baik, seperti sering saya temui di gedung-gedung swasta.

Saya tadinya mafhum kalau di gedung MPR ini petugasnya sama dengan gedung-gedung pemerintah lainnya, yang sering kali cuek sama tamu-tamu yang datang. Kalau diminta menunjukan sesuatu, kebanyakan mereka sering menjawab seadanya dan kemudian berlalu. Tetapi saat ini di gedung MPR tidak, jadi saya surprise sekali.

Beberapa waktu setelah menunggu, Pak Hidayat datang, tak lama kemudian saya diminta untuk masuk ruangan. Saat inipun saya menerima pelayanan yang memuaskan, saya diantar ke ruangan, dan kemudian dipersilahkan dengan sopan oleh petugas.

Tak lama saya langsung mewawancarai Pak Hidayat, ada beberapa pertanyaan saya ajukan, tetapi memang lebih banyak mengenai usulan dia agar MUI membuat fatwa. Dari wawancara tersebut saya mengetahui latar belakang Pak Hidayat memberikan usulan tersebut. Argumen-argumennya cukup rasional, dan menunjukan dia sebagai seorang negarawan.

Terus terang saya sendiri semula berencana untuk golput pada pemilu legislatif, tetapi akan memilih saat pemilu presiden. Dengan argumen Pak Hidayat saya berpikir untuk merubah rencana saya, walaupun belum tentu akan memilih PKS. "Yang penting gunakan hak pilih". Sedikit saya kutifkan wawancara beliau.

Untuk lebih lanjut mengetahui hasil wawancara saya silahkan membacanya, tentu saja dengan membeli Majalah Madina. website Majalah Madina: www.madina.co.id.

Selama saya menjalani preses wawancara tersebut, ada dua hal yang membuat saya surprise. Pertama keseriusan staf MPR menjadwalkan dan memberikan pelayanan wawancara saya dengan Pak Hidayat. Kedua Pelayanan para petugas keamanan yang maksimal terhadap saya. Untuk itu saya berdoa semoga mereka menjadi orang-orang yang selalu bisa dibanggakan.

Tapi sayangnya saya masih melihat beberapa staf lain dengan cueknya merokok di tempat yang terlarang untuk merokok, di gedung MPR tentunya. Ketika fotografer saya menegornya staf tersebut dengan seenaknya menjawab "Saya bukan merokok, tapi memegang rokok", padahal rokok yang dia pegang menyala. Terselip rasa sedih dalam hati saya.

Wassalam,

MWT

Baca selengkapnya......

Rabu, 26 November 2008

Anugerah dan Tiga Misi Hidup


Saya menamakan blog saya dengan ANUGERAH. Penggunaan kata itu merupakan ungkapan syukur saya kepada Allah, yang menciptakan dan menjadikan saya seperti saat ini.

Selanjutnya sayapun menuliskan tentang diri saya dalam hidup saya. Itulah misi hidup saya. Ada tiga misi.

Satu persatu ketiga misi tersebut ingin saya uraikan. Walaupun detailnya bukan pada tulisan ini. Menyusul akan saya buatkan. Di sini saya hanya akan menggambarkan secara umum saja.

Misi pertama adalah membuat orang untuk selalu tersenyum bahagia. Artinya saya ingin punya peran membuat orang atau siapapun yang berinteraksi dengan saya akan merasa nyaman, akan merasa senang dan akan merasa bahagia. Bukan pada saat bertemu saja, tetapi akan merasakan semua itu saat dan setelah bertemu dengan saya. Atau kalau ada orang yang merasa bosan dengan hidupnya maka dia akan berpikir ingin bertemu dengan saya. Bukan persoalan mudah, pasti akan sulit. Mengutif kata-kata Ismail Yusanto (Jubir HTI) "Sulit bukan berarti utopis".

Misi selanjutnya adalah mengisnpirasi kebajikan. Dalam misi tersebut saya ingin menempatkan diri saya sebagai orang yang menginspirasi orang lain terdorong melakukan kebaikan. Bukan untuk saya, tetapi buat orang lain, walaupun tidak menutup kemungkinannya. Ini juga sulit. Yang pasti sebelum saya mengisnpirasi, saya harus terlebih dahulu melakukannya. Melakukan kebajikan, kebaikan apapun itu.

Misi terakhir adalah mendorong dunia untuk bergerak dinamis. Pertanyaannya siapa yang didorong? Jawabnya adalah manusianya. Kenapa? Karena manusia adalah subjek, pelaku. Dengan apa? Dengan membuat orang mempunyai impian. Ya impian yang menggarakkan! Seperti syair lagu Laskar Pelangi dari Nidji. Mimpi adalah kunci, untuk kita menaklukkan dunia!

Saat setiap orang bergerak, saat itulah dunia akan bergerak dinamis.

Inipun pasti sulit. Hanya akan menjadi mimpi saja sebelum kita sendiri bergerak atau berubah. Memulai dari diri sendiri, itu kuncinya!

Kehendak Untuk Berubah

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku,
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.

Maka cita-cita itu pun agak kupersempit,
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasilnya.

Berikut saya kutipkan kisah pembelajaran yang terukir di sebuah makam di westminster abbey, inggris, 1100 M

Ketika usiaku semakin senja,
dengan semangatku yang masih tersiisa,
kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling dekat denganku.
Tetapi celakanya,
merekapun tidak mau diubah!

Dan kini,
sementara aku berbaring saat ajal menjelang,
tiba-tiba kusadari :
“andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan
mungkin aku bisa mengubah keluargaku.

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku;
Kemudian siapa tahu aku bahkan bisa mengubah
dunia!”


Wassalam,

wtarsono

Baca selengkapnya......