"Gooool", teriak saya dan penonton lain saat nonton bareng (Nobar) Indonesia vs Malaysia di Gelora Bung Karno. Lagi seru pertandingan, karena sebelum gol terjadi pun kedua tim silih berganti menyerang.
Belum sempat melihat tayangan ulang gol tersebut karena layar terhalang oleh penonton lain yang berdiri, sebuah SMS masuk ke hand phone saya. Saya lihat pengirimnya dari Diana Sarahsanti, teman di Youth Islamic Stusy Club (YISC) Al-Azhar. "Gue lagi menghibur diri, beli Chicken Soup yang baru, Mengatasi Rasa Duka Karena Kehilangan. "Mudah-mudahan menenangkan," jawaban singkat saya.
Diana dua hari terakhir itu mungkin sedang bersedih. Di status Facebook sehari sebelumnya dia membuat status tentang kehilangan cincin kawinnya. "Sudah kehilangan orangnya,kasih sayangnya,sekarang giliran cincin kawin pemberiannya..Ya Allah kuatkanlah aku.." ucapnya di FB. Sebuah kondisi yang patut kita berikan empati kepadanya.
Tapi tulisan ini tidak akan bercerita tentang derita Diana. Karena kalaupun dia saat ini sedang bersedih, yang saya tahu Diana adalah sosok yang kuat, dan selalu ikhlas menerima semua hal yang menimpa kepadanya. Mudah-mudahan kali inipun dia akan kembali menunjukkan hal itu. Dan menurutku dia, sedang berusaha melakukannya, terbukti dengan membeli buku Chicken Soup for The Soul. Buat saya itu adalah pilihan yang tepat, walaupun bukan berarti satu-satunya pilihan, karena setiap orang punya caranya sendiri untuk mengatasi kesedihan.
Dalam buku Chicken Soup for The Soul banyak kisah-kisah inspiratif dan kisah-kisah yang bisa kita teladani. Biasanya kisah-kisah itu dikelompokkan dalam beberapa judul bab, seperti: Tentang Cinta, Tentang Kebaikan, Tentang Orang Tua dan Pengasuhan Anak, Tentang Belajar Mengajar, Mengatasi Hambatan dan beberapa lainnya. Di setiap judul seri buku Chicken Soup for The Soul bisa berbeda-beda pengelompokkan judul babnya.
A4th Course of Chicken Soup for the Soul adalah buku pertama yang saya baca dari buku seri Chicken Soup for The Soul ini. Di buku itu, ada kisah yang selalu saya ingat. Kisah itu dikelompokkan ke dalam bab Tentang Kebaikan, dan judulnya Kaki Besar-Hati Lebih Besar.
Tulisan diawali dengan sebuah sebuah pepatah dari Afrika. "Ketika perbuatan bicara, kata-kata tidak ada artinya.
Diceritakan seorang gadis kecil ingin membeli es krim. Sambil menggenggam uang dengan dia menghampiri sebuah toko es krim. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu untuk membeli es krim, seorang petugas menghardik dengan galaknya menyuruh dia keluar dan disuruh untuk membaca tulisan di yang terpasang di pintu, dan memintanya tidak masuk lagi sebelum dia memakai sepatu.
Saat bersamaan seorang pria bertubuh besar keluar dari toko es krim tersebut. Dia melihat gadis kecil itu keluar dari toko dan berdiri di depan pintu sambil membaca sebuah pengumuman di pintu. "Tidak Memakai Sepatu Tidak Boleh Masuk".
Anak kecil itu berdiri terpaku membaca tulisan itu, perlahan di kedua pipinya mengalir air matanya. Dengan perlahan anak kecil itu berbalik dan meninggalkan toko itu. Tiba-tiba lelaki besar itu memanggilnya sambil duduk di pinggiran jalan. Pria itu melepas sepatunya yang berukuran besar dan meletakkan sepatunya di depan anak kecil tersebut. "Pakailah sepatu saya, mungkin kamu akan kesulitan berjalan dengan sepatu itu, tapi kamu akan mendapatkan es krim," ucapnya. Sebelum anak itu menjawab lelaki besar itu mengangkat anak itu dan memasukkan kakiknya ke dalam sepatu besar miliknya.
Dengan kesulitan anak itu berjalan, tapi tidak berapa lama dia kembali dengan membawa es krim. Dengan senyum dan mata berbinar anak itu menghampiri lelaki besar itu. Lelaki besar itu pun tersenyum melihat kebahagiaan anak itu.
Sederhana apa yang dilakukan oleh lelaki berbadan besar itu. Tapi buat saya, dia lelaki yang berhati besar.
Terima Kasih
Warsa Tarsono.
Tulisan lain:
Inspirasi dari Buku Chicken Soup for The Soul
Aksi Mahasiswa UI Menjadi Sesuatu Banget
Jejak Kerja Keras Bapakku
PAYISC, Memaknai Hidupku
Sabtu, 26 November 2011
Terjangkit Virus Chicken Soup
Rabu, 23 November 2011
PAYISC, MEMAKNAI HIDUPKU
PENGALAMAN BERAKTIVITAS DI YISC-2
Saya hentikan langkah, kemudian sejenak saya tarik nafas. Teman saya Atiyah Fitri (Fitri Ardani) yang mengikuti di belakang juga ikut berhenti. Terlihat jalan yang akan saya lalui tergenang air. Di antara genangan air yang menutupi jalan tersebut terlihat ada balok kayu yang bisa ditapaki, sehingga kalau saya berhasil menginjak di balok itu, sepatu dan celana saya tidak akan kotor. Sebelum melangkah saya angkat celana saya, dan mulai menapaki balok-balok itu.
Saat saya mulai melangkah, Fitri juga mengikuti di belakang. Tapi dia tidak perduli dengan genangan air yang menutupi jalan. Dia tidak berusaha menginjakkan kaki di balok-balok itu. Dia tidak pedulikan air dan tanah becek mengenai sepatu dan ujung roknya. Sejenak saya memperhatikannya, dan saya merasa malu sendiri.
Saat itu (1997-1998) Atiyah Fitri adalah ketua Pembinaan Adik Asuh YISC (PAYISC ) Al - Azhar. Kami berdua akan mengunjungi rumah salah satu adik PAYISC yang sedang sakit di daerah Cawang. Walaupun akhirnya, rumah yang kami datangi bukan hanya rumah adik PAYISC yang sedang sakit, tapi beberapa rumah adik PAYISC yang lainnya. Karena ada beberapa adik PAYISC yang tinggal di daerah Cawang. Sekalian saja kami silaturrahmi dengan keluarga-keluarga adik PAYISC .
Periode itu adik PAYISC banyak tersebar di beberapa daerah. Ada di Senopati, Senayan, Sinabung, Hang Jebat dan Cawang. Cawang adalah tempat terjauh dari adik-adik PAYISC. Selain itu adik-addik PAYISC yang berasal dari Cawang kondisi ekonominya
lebih rendah. Anak-anaknya juga lebih minder dibanding adik-adik PAYISC dari daerah lain.
Mengenaskan! Ucap saya dalam hati saat sampai di rumah adik PAYISC tersebut. Dinding terbuat dari triplek yang sudah lapuk, dan di dindingnya terlihat kotoran air banjir yang sering menerpa daerah itu. Rumahnya tingkat, tapi keluarga itu hanya mengontrak ruangan bawah. Besar ruangan sekitar 2.5 x 3 meter, dihuni oleh satu keluarga yang berjumlah lima, dua orang tua dan tiga anak. Sayangnya saya lupa nama adik PAYISC itu.
"Kalau banjir airnya sampai sana," ucap ibunya adik PAYISC sambil menunjuk bekas lumpur yang masih menempel. Kalau melihat bekasnya, saat banjir kontrakkan dia semua kemasukkan air. Karena bekas kotoran lumpur yang dia tunjuk adalah bagian teratas dari dinding tersebut. "Terima kasih sudah mau datang ke gubuk kami, inimah bukan rumah tapi gubuk" ucap tuan rumah menyambut kami.
PAYISC adalah salah satu lembaga di Youth Islamic Study Club (YISC ) Al - Azhar. Lembaga yang membidangi pembinaan anak-anak dari kalangan tidak mampu. Secara struktur, semula PAYISC berada di Departemen Hubungan Masyarakat (PHM). Tapi pada Musyawarah Lengkap (Musleng) 1995, diputuskan menjadi Lembaga dan diberikan hak kelola mandiri baik secara program maupun pendanaan. Karena sejarahnya, saat Rohman terpilih menjadi Ketua Umum, ada suara yang ingin mengubah PAYISC tidak menjadi lembaga lagi. Saya sampaikan waktu itu, kalau mau mengubah status kelembagaan PAYISC , harus di Musleng, Ketua Umum tidak mempunyai hak untuk itu!
Saya terlibat di PAYISC saat memasuki semester ke dua aktif di YISC. Tapi tidak sebagai pengurus, hanya membantu saat ada event-event tertentu, atau sesekali mengajar. Termasuk pada periode 1996-1997, saat Fitri menjadi Ketua PAYISC . Mulai intens terlibat di PAYISC pada semester akhir periode kepengurusan dengan Ketua Umum Heru Widiyanto. Pada periode berikutnya saya menjadi ketua PAYISC .
Buat saya aktif di PAYISC, baik saat hanya membantu maupun saat menjadi ketua telah memberikan makna buat hidup saya. Makna yang membuat saya merasa bahagia. Makna yang membuat hidup saya berarti.
Dua tahun saya sebagai ketua. Saya berinteraksi dengan adik-adik dari kalangan tidak mampu dengan segala problema yang mereka hadapi. Mereka berhadapan dengan segala keterbatasan untuk memperoleh pendidikan, pengajaran yang baik, motivasi hidup yang rendah dan tentu saja keadaan lingkungan yang keras. Beberapa adik-adik PAYISC saat itu adalah pengamen dan pengojek payung. Dengan semua itu membuat saya bersyukur, bahwa sebagian keterbatasan mereka tidak saya hadapi.
Selain itu, aktif di PAYISC membuat saya belajar. Belajar cara mensyukuri hidup, cara menghadapi anak-anak, dan cara mengorganisasi program dan pendanaan untuk aktifitas sosial.
Semua pengalaman itu tidak saya lupakan. Semua pengalaman itu membuat saya bahagia. Bukan karena saya telah memberikan sesuatu, tapi karena saya mendapatkan sesuatu.
Tulisan lain:
YISC, Persinggahan yang Mengasyikkan
Berbagi Pengalaman Beraktifitas di YISC-1
Saat Endah Memilih Panggilan Jiwanya
Terima Kasih
Warsa Tarsono
wtarsono@yahoo.com
0818 995 214
Sabtu, 19 November 2011
GURU IDOLAKU
Beberapa waktu yang lalu, dalam tulisan saya yang berdujudul Kesan Saat di SMP 2 Banjarharjo saya membuat pertanyaan kepada diri saya sendiri, Siapa atau apa yang paling diingat saat di SMP 2 Banjarharjo?? Maka jawaban atas pertanyaan tersebut adalah Pak Regi. Pada kesempatan ini saya juga ingin membuat pertanyaan, siapa guru idola saat SMP? Jawaban atas pertanyaan tersebut dengan cepat saya jawab Pak Regi.
Pak Regi memang buat saya memberikan kesan tersendiri. Saya tahu dia adalah guru yang galak. Makanya dulu saya dan teman-teman menjuluki dia dengan sebutan Paman Harimau. Walaupun begitu seingat saya, dia tidak pernah memukul atau tindakan apapun yang menyakiti secara fisik. Kalau bentakan atau pertanyaan "intimidatif" saat tidak bisa mengerjakan soal atau tidak mengerjakan PR sering saya lihat atau rasakan.
Pak Regi saat ngajar atau tidak, tampangnya selalu serius. Jarang sekali melihat dia tersenyum. Terlihat tersenyum ketika menertawakan muridnya yang tidak bisa mengerjakan soal atau tidak paham terhadap pelajaran yang dia berikan. Mungkin istilah yang tepat bukan senyum tapi menyeringai. Buat saya waktu itu, senyum dia menjadi senyum yang terasa intimidatif, sebuah senyuman sinis.
Saya tidak pernah melihat dia bercanda. Satu-satunya candaan dia yang mungkin semua masih ingat adalah saat dia menjadi instruktur upacara. Setelah dipersilahkan, dia berjalan menghampiri podium, semua siswa terdiam. Beberapa saat kemudian dia mengucapapkan Assalamu'alaikum. Tanpa diduga kemudian dia berkata: "sekian sambutan dari saya, terima kasih." Geeer saat itu terdengar tawa peserta upacara. Sementara guru-guru yang lain terlihat mesem-mesem. Mungkin itu adalah upacara paling singkat. Mungkin itu adalah tindakan paling lucu dari Pak Regi.
Tapi entah mengapa, diam-diam saya menyukai dia. Diam-diam dia menjadi idola saya. Karena dia saya bercita-cita ingin menjadi guru. Guru matematika, pelajaran yang menjadi mata pelajaran Pak Regi. Lucunya, saya membayangkan kalau menjadi guru ingin meniru cara mengajarnya Pak Regi. Tegas, lugas dan tidak mengenal kompromi. Walaupun konsekwensinya mungkin akan dijuluki Paman Harimau juga. Hehehehe
Setelah saya keluar dari SMP saya masih menngingat dia. Saya selalu bertanya kepada adik saya yang juga sekolah di SMP 2 Banjarharjo, gimana khabarnya Pak Regi? Ngajar kelas berapa sekarang? kamu diajar dia enggak? Sampai sekarang saya selalu ingin tahu khabar Pak Regi.
Buat saya, Pak Regi juga yang membuat saya pernah merasa bangga. Saya siswa yang biasa saja, tidak pernah masuk sepuluh besar kelas, apalagi sepuluh besar satu angkatan. Tapi ada saat saya merasa sebagai siswa yang pintar, ya semua gara-gara Pak Regi. Pak Regi memberikan saya nilai 10 atas ulangan yang dia adakan. Bukan sekali tapi tiga kali berturut-turut. Walaupun hanya tiga kali itu saya memperoleh nilai sepuluh, untuk pelajaran matematika maupun pelajaran lainnya. Tapi ketiga nilai tersebut selalu saya kenang.
Sekarang saat teman-teman SMP mulai bertemu di jejaring sosial facebook, rasa ingin bertemu dengan Pak Regi kembali muncul. Ingin tahu berada di mana dia sekarang? dan kalau dia masih hidup, saya ingin bertemu dia. Saya ingin mengatakan kepadanya, dia adalah guru idola saya. Walaupun saat ini saya tidak menjadi guru, tetap dia menjadi idola saya.
Pak Regi guru idolaku, semoga engkau dan keluarga selalu sehat dan mendapat lindungan dari Allah SWT.
Sebuah syair saya alunkan menutup tulisan ini; "......JASAMU TIADA TARA......."
Tulisan lain:
Mug Cantik
Bingkisan Ulang Tahun
Kesan Saat di SMP 2 Banjarharja
Inspirasi dari Kepala Sekolah
Jejak Kerja Keras Bapakku
Kisah Inspiratif di Chicken Soup for the Soul
Jika mendapat sesuatu dari tulisan ini silahkan di share ke yang lainny bisa ke FB, Twitter, Blog dan Email dengan mengklik logo-logo di bawah tulisan ini. Tolong juga berikan komentar atau rating terhadap tulisan ini. Apapun komentarnya, berapapun ratingnya, menjadi masukkan yang berarti buat saya.
Terima Kasih
Warsa Tarsono
My Blog-Anugerah
wtarsono@yahoo.com
FB: Warsa Tarsono
Twitter: @wtarsono
HP: 0818 995 214
